Kemdikbud akan Kirim 1000 Guru Ikuti Pelatihan di 15 Negara

0
Foto: Suarakarya.co.id/Tri Wahyuni.

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mengirim sekitar 1000 guru untuk mengikuti pelatihan yang tersebar di 15 negara. Upaya itu dilakukan untuk meningkatkan kompetensi dan wawasan para guru.

“Pengalaman ikut pelatihan dan melihat pendidikan di luar negeri akan membuka wawasan para guru. Ini diperlukan agar guru menjadi lebih bagus di era revolusi industri 4.0,” kata Mendikbud Muhadjir Effendy saat meresmikan Pusat Assesmen Kemdikbud, di Jakarta, Selasa (26/2/2019).

Disebutkan 15 negara itu, antara lain, Korea, Jerman, Jepang, Perancis, China Singapura, Hong Kong dan Filandia. Para guru akan mengikuti pelatihan selama 3 minggu di negara yang terpilih. “Untuk Filandia, masih menunggu konfirmasi. Karena biasanya pelatihan tidak ada di bulan Maret,” ujarnya.

Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemdikbud, Supriano menjelaskan, proses seleksi guru untuk pelatihan itu telah dilakukan sejak pertengahan tahun 2018 lalu. Datanya diambil dari rekam jejak para guru atas prestasi yang sudah mereka lakukan.

“Jika ada guru berprestasi tapi belum masuk program ini, diberi kesempatan untuk ikut pada tahap berikutnya. Karena saat ini, jumlahnya dibatasi untuk 1000 guru,” katanya.

Ditambahkan, para guru akan berangkat ke negara tujuan masing-masing pada awal Maret 2019. Pelepasan rombongan 1000 guru, rencananya akan dilakukan Presiden Joko Widodo di Istana Negara pada 28 Februari 2019.

“Pelatihan bagi para guru ini berbeda setiap negara, mulai dari penguatan di metodologi belajar hingga kompetensi keahlian gurunya. Semua itu diharapkan bisa menjadi benchmarking bagi pengembangan guru di Indonesia,” ujar Supriano.

Soal keberadaan Pusat Assesmen, Sekjen Kemdikbud Didik Suhardi menjelasan, pusat tersebut akan melakukan penilaian kinerja kepada seluruh karyawan Kemdikbud. Datanya akan digunakan untuk beragam keperluan, mulai dari pelatihan yang dibutuhkan karyawan hingga penilaian pada seleksi jabatan.

“Lewat Pusat Assesmen ini, pelaksanaan merit system dapat berjalan lebih baik dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena penempatan karyawan sesuai dengan kompetensinya,” tuturnya.

Hasil penilaian Pusat Assesmen, lanjut Didik, dilaporkan ke Inspektorat Jenderal (Irjen) Kemdikbud. Irjen akan memastikan apakah data tersebut sudah valid dan tak ada pemalsuan.

“Nantinya tak perlu ada lagi lelang jabatan. Data di Pusat Assesmen harus dibuat transparan dan mudah diakses. Jika kita butuh karyawan untuk mengisi bidang tertentu, kita tinggal klik. Pilihan akan diperkecil, dengan memasukan data kelebihan dan kekurangan personal,” kata Didik menandaskan. (Tri Wahyuni)