Kemdikbud akan Tambah Jam Tayang Program Belajar dari Rumah di TVRI

0
Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat (BKHM) Kemdikbud, Evy Mulyani.(Suarakarya.co.id/ist)

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) akan menambah jam tayang program Belajar dari Rumah (BDR) yang disiarkan setiap hari melalui Televisi Republik Indonesia (TVRI). Penekanan pada materi kecakapan hidup (life skill) dan vokasi.

“Rencana penambahan durasi tayangan ini akan dikoordinasikan dulu dengan pihak TVRI. Kemungkinan, penambahan itu sekitar 45 menit per segmen,” kata Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat (BKHM) Kemdikbud, Evy Mulyani dalam siaran pers, Selasa (5/5/20).

Penambahan jam tayang BDR, lanjut Evy, merujuk pada hasil survei sekaligus evaluasi program ‘Belajar dari Rumah’ (BDR) yang digagas Kemdikbud. Program tersebut disiarkan setiap hari di Stasiun Televisi Republik Indonesia (TVRI) selama pandemi corona virus disease (covid-19).

Program tersebut diharapkan membantu keluarga Indonesia yang tak punya akses terhadap internet saat pembelajaran daring (online). Dengan demikian, anak tetap mendapat stimuli untuk terus belajar dari rumah masing-masing.

“Survei dilakukan Kemdikbud bersama Unicef mulai 13 April 2020 lalu. Upaya itu sekaligus evaluasi atas program BDR di masyarakat,” ujarnya.

Hasil survei disebutjan, sekitar 99 persen guru, siswa, dan orang tua, baik di wilayah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal) maupun non-3T tahu adanya program BDR. Dan 94 persen guru di wilayah 3T pernah menonton program BDR di TVRI.

Selain itu, ada 77 persen guru di wilayah 3T mengaku pernah menonton program BDR. Di wilayah 3T, frekuensi guru menonton program BDR sebanyak 3,2 kali dalam seminggu. Sedangkan wilayah non-3T sebanyak 4,1 kali.

Secara umum, lanjut Evy, tingkat kesenangan menonton program BDR cukup baik. Bagi siswa, skor yang didapat sebesar 7,8 dari skala 1-10. Sementara itu, bagi orang tua sebesar 8,2 dari skala 1-10. Tingkat kesenangan guru di wilayah 3T sebesar 7 dan di wilayah non-3T sebesar 7,5.

“TVRI menjadi saluran televisi yang paling banyak ditonton siswa selama pembelajaran dari rumah,” ucapnya.

Ditambahkan, sebanyak 52 persen responden di wilayah 3T menyatakan menonton lembaga penyiaran publik itu selama masa pembelajaran jarak jauh dari rumah masing-masing. Sementara 78,6 persen responden di wilayah non-3T juga menonton TVRI selama masa pembelajaran dari rumah.

“Ini menjadi masukan bagi kami untuk melakukan perbaikan program pembelajaran jarak jauh di masa depan. Khususnya, pendekatan bagi publik di wilayah 3T,” kata Evy Mulyani menegaskan.

Salah satu umpan balik yang diperoleh dari survei, menurut Evy, ada 20 persen responden siswa berharap ada tambahan durasi tayangan pembelajaran. Terutama materi kecakapan hidup dan vokasi. “Permintaan siswa akan kami respon lewat penambahan durasi tayangan.

“Penambahan durasi waktunya belum dipastikan, karena masih akan dibahas lagi dengan pihak TVRI. Tapi diperkirakan sekitar 45 meni per segmen,” ujarnya.

Selain itu, Evy menambahkan, akan dilakukan perbaikan teknis seperti pada sinyal siaran dan perluasan akses program BDR. Kemdikbud juga tengah berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait kemungkinan relai program BDR dengan stasiun televisi lokal.

“Kami sedang mengkaji metode pembelajaran luar jaringan atau offline lain bagi masyarakat 3T yang tak punya televisi. Misalkan, kerja sama dengan stasiun radio lokal atau relawan yang ada di daerah masing-masing,” katanya.

Ditambahkan, data untuk kelompok responden guru di daerah 3T didapat dari survei SMS dan daring. Sedangkan kelompok responden guru di daerah non-3T, siswa, dan orang tua diperoleh dari metode daring. Jumlah responden untuk survei daring sebanyak 1.198 guru, 1.736 siswa dan 1.373 orang tua.

Karena keterbatasan waktu dan sumber daya, Evy meminta agar tidak menjadikan kedua survei sebagai representasi atas gambaran nasional secara proporsional untuk masing-masing kelompok responden. Survei dilakukan selama kurun wakty 20-23 April 2020. ***