Kemdikbud Dorong Sekolah Ikut Semaikan Toleransi

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mendorong sekolah ikut menyemaikan toleransi di kalangan peserta didik. Karena ada tiga ‘dosa’ dalam dunia pendidikan yaitu perundungan, pelecehan seksual dan intoleransi.

Hal itu terungkap dalam webinar yang digelar Pusat Penelitian Kebijakan (Puslitjak), Balitbangbuk, Kemdikbud bertajuk “Menyemai Toleransi di Bangku Sekolah”, Jumat (30/4/21).

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Puslitjak, Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan (Balitbangbuk), Kemdikbud, Irsyad Zamjani mengemukakan, belakangan ini masyarakat dihadapkan beberapa isu dan kejadian yang mengusik nilai-nilai toleransi dan keberagaman.

“Meski secara umum masyarakat kita menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan keberagaman, tetapi ada beberapa komponen dalam masyarakat yang masih perlu diperkuat lagi kesadarannya tentang dua hal tersebut,” ucapnya.

Irsyad menyebutkan, hilangnya semangat toleransi itu karena tiga hal. Pertama, pemahaman agama terlalu tekstual. Sehingga apa yang tertulis dalam kitab suci harus diterapkan, padahal isi kitab suci itu butuh interpretasi dan kepakaran tertentu.

“Ada prosedur tertentu secara keagamaan harus dipenuhi agar bisa menghasilkan interpretasi yang sah,” ujarnya.

Kedua, lanjut Irsyad, keteladanan. Semua orang dapat membaca kitab suci atau memahami budaya, tetapi mereka mencontoh pada orang-orang yang dianggap memahami atau memiliki otoritas untuk itu. Jika yang diteladani ternyata menerapkan praktik keagamaan tidak sesuai, hal itu ditiru jamaahnya.

“Keteladanan itu sangat penting, apalagi dalam masyarakat yang cukup patriarkis,” katanya.

Faktor ketiga adalah lingkungan, entah itu sosial budaya dan sosial politik dari kebijakan atau diskursus sosial yang berkembang di masyarakat. Begitu pun, diskursus sosial yang berkembang di media sosial. Semua itu berpengaruh terhadap berperilaku dan memahami sesuatu.

“Kita perlu ekosistem yang baik dan kuat agar pemahaman itu bisa diterima dengan baik. Kita juga mendorong para pemegang otoritas untuk memberi teladan, sehingga lingkungan sosial politik dan lingkungan sosial budaya bisa menumbuhkan semangat dalam toleransi dan keberagaman,” ujarnya.

Menurut Irsyad Zamjani, pendidikan atau sekolah bisa mengajarkan materi keagamaan atau materi kebudayaan yang kontekstual. Melalui sekolah, guru juga didorong untuk menjadi teladan bagi siswanya terkait toleransi.

“Kita juga bisa membangun iklim sekolah yang memfasilitasi siswa memiliki pemahaman keagamaab yang toleran,” katanya

Pada kesempatan yang sama, Yunita Faela Nisa dari Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM), Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menuturkan, pendidikan agama di sekolah perlu dioptimalkan untuk menangkal ujaran kebencian, empati eksternal baik siswa maupun mahasiswa.

Yunita memaparkan 4 penyebab intoleransi dalam dunia pendidikan. Pertama, kemampuan empati internal dan eksternal perlu ditingkatkan oleh siswa dan guru kita. Kedua, persepsi keterancaman yang tinggi, terutama pada faktor ekonomi. Ketiga, pandangan islam ekstrim pada beberapa guru.

“Untuk itu, kemampuan berpikir kritis dan reflektif perlu ditingkatkan. Keempat terkait faktor sosial dan ekonomi,” katanya.

Pembicara lain yaitu Walikota Salatiga, Yuliyanto mengatakan, salah satu wujud toleransi itu adalah memberi kesempatan untuk ibadah bagi orang lain dengan penuh rasa damai serta mengembangkan kemanfaatan dan pengelolaan alam dengan rasa cinta.

“Pemkot Salatiga memberi ruang publik kepada setiap agama dalam merayakan hari keagamaannya. Setiap tahun, semua pemeluk agama di Salatiga kita boleh memakai ruang yang sama, boleh melaksanakan ibadah di lapangan yang sama dan boleh melakukan karnaval di rute yang sama,” katanya.

Cara itu, menurut Yuliyanto, membuat masyarakat terbiasa dengan hari-hari perayaan agama dari setiap masing-masing agama. Ini adalah bentuk dari kepedulian pemerintah dalam memberikan ruang kepada seluruh pemeluk agama di Kota Salatiga.

Ia menuturkan, Kota Salatiga selama kurun waktu 2015 hingga 2019 dinilai kota paling toleran di Indonesia. iklim toleransi diaplikasikan dalam segala aspek kehidupan dengan tidak membedakan atau tidak diskriminasi terhadap agama tertentu.

“Rumah dinas yang kami gunakan pun bisa digunakan oleh masyarakat mulai dari aktivitas keagamaan ataupun kebudayaan. Ini bentuk keterbukaan yang kami lakukan,” ujarnya.

Pembicara lain, Henny Supolo dari Yayasan Cahaya Guru mengatakan, tantangan dari keberagaman itu antara lain ada pada sekolah negeri yang tidak memiliki ruang-ruang perjumpaan yang cukup. Padahal, keberagaman intu ada dalam ranah kesadaran.

“Keberagaman itu adalah ‘kekayaan’ yang sangat penting untuk dirasakan dalam keseharian kita,” ucap Henny.

Pembicara terakhir, yaitu Herman Hendrik dari Puslitjak Kemdikbud Ristek, memaparkan hasil kajian pada 2019 yang mengungkap, aspek kurikulum pada sekolah yang berani memodifikasi pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan penyediaan kelas pendidikan antaragama.

“Modifikasi itu terjadi di daerah Yogyakarta. PAI diarahkan tak sekadar pelajaran agama Islam, tetapi juga bagaimana menyikapi perbedaan dan berhadapan dengan siswa yang berbeda latar belakang,” katanya.

Kemudian, ada pembuatan taman sebagai ruang simbol keberagaman di hampir semua SMA Semarang. Dari segi pengelolaan kelas, ada pembuatan kontrak siswa yang berisi sikap saling menghormati, doa lintas agama secara bergiliran.

“Upaya itu butuh intervensi kepala daerah, tokoh agama, lembaga berpengaruh dan inisiatif guru dalam mengelola keberagaman di sekolah,” kata Herman. (Tri Wahyuni)