Kemdikbud Kembali Gelar Gala Siswa, Partisipasi Daerah Meningkat

0
?

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) kembali kembali menggelar Gala Siswa Indonesia (GSI), ajang pencarian bakat sepakbola untuk siswa tingkat sekolah menengah pertama (SMP). Kompetisi diikuti 2.511 tim dari 276 kabupaten/kota se-Indonesia.

“GSI tahun ini mendapat respon positif dari pemerintah daerah. Hal itu terlihat dari jumlah pesertanya yang bertambah 9 kabupaten/kota dari 267 menjadi 276 kabupaten/kota,” kata Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), Supriano Kemdikbud di sela rapat koordinasi GSI 2019 tingkat SMP, di Jakarta, Selasa (23/7/2019).

Hadir dalam kesempatan itu, Wakil I Ketua Umum Bidang Pembinaan Prestasi Olahraga dan Bidang Pembinaan Organisasi KONI, Mayjen TNI (Purn) Suwarno, pelatih Timnas U-23 Indonesia, Indra Sjafri, Direktur Pembinaan SMP Kemdikbud, Poppy Dewi Puspitawati dan Direktur Pembinaan SD, Khamim.

Rakor GSI tahun ini juga mengagendakan drawing GSI SMP tingkat nasional, pembahasan rencana aksi kompetisi GSI, dan bertukar pikiran tentang regulasi pertandingan GSI tingkat provinsi dan nasional.

Supriano menjelaskan, GSI kini menjadi program kegiatan yang ditunggu-tunggu, baik oleh siswa, sekolah maupun daerah. Karena melalui GSI, anak berbakat di bidang sepakbola dapat wadah yang tepat untuk menunjukkan bakatnya.

Selain itu, lanjut Supriano, prosedur seleksi dilakukan transparan dan professional. Prosedur ini telah digunakan organisasi PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) untuk mencari bibit-bibit pemain sepakbola muda. Bibit-bibit pesebakbola ini akan digodok untuk menjadi pemain nasional yang tangguh.

“Kita tugasnya membangun sistem pertandingan agar terstruktur mulai dari kecamatan, kabupaten, propinsi dan nasional. Jika perlu ke internasional. Nanti organisasi profesi yang akan memilih apakah perlu dikader atau tidak,” ujarnya.

Ditambahkan, pelaksanaan GSI tahun lalu terbilang berhasil karena ada beberapa pemain sepakbola hasil seleksi GSI yang diincar oleh klub-klub sepakbola. Itu artinya kualitas dari para juara dapat dipertanggunjawabkan. “Kompetisi semacam ini perlu banyak digelar agar para siswa berbakat dapat meningkatkan keahliannya,” katanya.

Mantan Direktur Pembinaan SMP Kemdikbud menuturkan, ide pelaksanaan GSI berawal dari keinginan pemerintah untuk mencari pemain berbakat di bidang sepakbola. Seleksi pemain ditujukan ke siswa SMP dengan harapan bakat tersebut bisa dibina sejak dini.

Selain itu, kata Supriano, GSI juga bisa menjadi wahana penguatan pendidikan karakter. Karena kegiatan itu secara tidak langsung mengajarkan siswa tentang nilai integritas, nasionalisme, gotong royong, mandiri dan nilai-nilai religius.

Sebagai informasi, GSI 2019 akan berlangsung selama Februari-Oktober tahun ini. Kompetisi dilaksanakan secara berjenjang mulai dari tingkat Kecamatan pada Februari-Maret, Kabupaten/kota pada April-Juli, Provinsi pada Mei-Juni dan tingkat nasional mulai 30 September hingga 13 Oktober.

Mayjen TNI (Purn) Suwarno memberi apresiasi kepada Kemdikbud atas penyelenggaraan GSI. Katanya, sepakbola bisa menjadi ikon Kemdikbud dalam pembinaan atlet Indonesia.

Ia juga berharap Kemdikbud dapat melebarkan sayap ke cabang olahraga lainnya, seperti atletik dan renang. “Program kaderisasi atlet dapat melebar ke cabang lainnya, khususnya atletik dan renang,” tutur Mayjen TNI (Purn) Suwarno menandaskan. (Tri Wahyuni)