Kemdikbud Siapkan Normal Baru dalam Pendidikan Kedokteran

0
Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Pendidikan Tinggi Kemdikbud, Nizam. (Suarakarya.co,id/ist)

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) tengah mempersiapkan tatanan normal baru untuk pendidikan kedokteran. Nantinya, pengalaman praktik yang selama ini harus hadir secara fisik di laboratorium, bisa dilakukan secara virtual reality (VR).

“Transformasi pendidikan selama pandemi corona virus disease (covid-19) ini sungguh luar biasa. Virus tersebut mampu memaksa seluruh aktivitas pembelajaran di perguruan tinggi dilakukan secara daring,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Pendidikan Tinggi Kemdikbud, Nizam dalam webinar, Sabtu (6/6/20).

Webinar bertajuk “Quo Vadis Pendidikan Kedokteran Indonesia di Era New Normal” itu digelar Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI). Hadir sebagai narasumber Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Ketua Umum AIPKI, Prof Budu dan Direktur Pembelajaran Ditjen Dikti Kemdikbud, Aris Junaidi.

Nizam mengaku kagum atas terjadinya transformasi pendidikan di Indonesia selama pandemi covid-19. Terutama pada pembelajaran daring, yang sejak 20 tahun dicanangkan namun selalu gagal direalisasikan.

“Transformasi ini harus dapat dukungan seperti mulai membangun literasi baru seperti literasi data, teknologi, manusia dan eksperimental learning,” ujarnya.

Semua itu, lanjut Nizam, dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan manusia di abad industri 4.0. Hasilnya, manusia akan mengalami peningkatan pada aspek kreatif, berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi dan kasih sayang.

Menyambut era kenormalan baru, kata Nizam, Kemdikbud telah mengeluarkan surat edaran tentang kebijakan penyelengaraan pendidikan tinggi di era kenormalan baru. Salah satunya, penggunaan teknologi VR untuk pengalaman praktikl di laboratorium.

“Saya juga bangga atas kolaborasi dosen dan mahasiswa lintas keilmuan yang telah menghasilkan berbagai produk kesehatan untuk memerangi covid-19 seperti test kit, UV sterilisasi, robot ners, swab chamber dan produk kesehatan lainnya,” tuturnya.

Menghadapi covid-19, Kemdikbud membuat program Relawan Mahasiswa, yang melibatkan mahasiswa kedokteran. Lewat program itu, mahasiswa dapat melakukan pengabdian ke masyarakat dengan penilaian capaian pembelajaran yang bisa di konversi ke dalam SKS atau stase rotasi klinik.

“Program relawan mendapat dukungan dari AIPKI wilayah untuk koordinasi dengan tim gugus tugas wilayah dan dinas kesehatan untuk pendampingan relawan,” kata Nizam menandaskan. (Tri Wahyuni)