Kemdikbud Targetkan 100 Perguruan Tinggi Vokasi Bermitra dengan Industri

0
Dirjen Pendidikan Vokasi (Diksi) Kemdikbud, Wikan Sakarinto.(suarakarya.co.id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menargetkan 100 perguruan tinggi vokasi dapat bermitra dengan dunia industri. “Pernikahan massal” itu diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang terserap dengan cepat di dunia kerja.

“Kami pakai istilah “pernikahan massal”, karena industri yang akan dilibatkan dalam program link&match ini jumlahnya mencapai ratusan. Kami sudah ada datanya, tinggal menjodoh-jodohkannya saja,” kata Dirjen Pendidikan Vokasi (Diksi) Kemdikbud, Wikan Sakarinto dalam temu media yang digelar daring, Rabu (27/5/20).

Dijelaskan, rencana kerja sama 100 perguruan tinggi vokasi dengan dunia industri, tak terbatas di kampus negeri tetapi juga di swasta. Bahkan, penguatan pendidikan vokasi di kampus swasta sudah dilakukan dalam dua bulan terakhir ini melalui Program Pembinaan PTS, yang saat ini telah memasuki seleksi tahap akhir.

“Selama pandemi corona virus disease (covid-19), kami tidak tinggal diam, tetapi melakukan pendataan dan membuat rencana perjodohan antara kampus dan industri. Saat pandemi mulai mereda, diharapkan semua rencana kerja sama itu dapat segera direalisasikan,” ucapnya.

Wikan optimis banyak industri akan tertarik dengan program yang ditawarkan, karena hal itu menguntungkan kedua belah pihak. Lulusan pendidikan vokasi akan semakin dihargai kalangan industri dan dunia kerja, karena kompetensi dan skill yang dimiliki semakin sesuai dengan tuntutan di dunia kerja.

“Kerja sama yang kami ingin bangun dengan industri tak sekadar tanda tangan dalam Memorandum of Understanding (MoU), tetapi harus menjadi “pernikahan” yang erat dan mendalam. Semua pihak mendapat manfaat yang sama, sehingga program dapat berkesinambungan,” katanya.

Wikan menyebut lulusan perguruan tinggi di Indonesia belum siap pakai. Karena hingga saat ini banyak industri yang menggelar pelatihan bagi karyawan barunya agar kompetensi yang dimiliki sesuai dengan perusahaan inginkan. Padahal, biaya pelatihan itu berbiaya mahal dan memakan waktu lama.

“Materi pelatihan yang dilakukan industri untuk karyawan baru ini nantinya akan dimasukkan dalam kurikulum perguruan tinggi vokasi. Materi tersebut akan diajarkan baik oleh dosen maupun praktisi dari industri mitra,” tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Pelaksana tugas (Plt) Direktur Pendidikan Tinggi Vokasi dan Profesi, Agus Indarjo menjelaskan, program penguatan pendidikan tinggi vokasi juga mendorong pertambahan populasi dosen tamu dari industri berstatus dosen tetap. Mereka harus melakukan kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat) seperti halnya dosen tetap lainnya.

“Pendidikan vokasi tak akan optimal jika dibantu dosen dari kalangan praktisi. Karena itu, kami dorong kampus untuk mengundang lebih banyak dosen tamu dari industri untuk memperkaya dan meningkatkan kualitas pembelajaran,” tuturnya.

Ditambahkan, para dosen tetap di kampus saat ini tengah didorong untuk memiliki sertifikasi kompetensi yang diakui dunia industri dan dunia kerja. Mereka nantinya juga diminta untuk ikut program magang di industri selama beberapa bulan untuk menyegarkan keahlian dan kompetensi.

“Program magang bagi dosen tetap di industri dilakukan secara bergiliran. Sehingga setiap dosen dapat merefresh kemampuan dengan teknologi terkini,” ucap Agus menandaskan. (***)