Kemdikbud Terbitkan Surat Edaran Cegah Penularan Covid-19 di Sekolah

0

JAKARTA (Suara Karya): Menyikapi perkembangan virus corona (Covid-19) yang makin meluas di Tanah Air, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menerbitkan 2 surat edaran yang diharapkan dapat mencegah merebaknya penularan virus di satuan pendidikan.

Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2020 tentang Pencegahan dan Penanganan Covid-19 di lingkungan Kemendikbud. Dan Surat Edaran Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan dan Penanganan Covid-19 di satuan pendidikan.

“Mari kita bergerak bersama-sama untuk terlepas dari situasi ini,” kata Mendikbud Nadiem Makarim dalam keterangan pers, di Jakarta, Kamis (12/3/2020).

Dalam surat edaran tersebut, Mendikbud menginstruksikan untuk segera mengoptimalkan peran Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) atau unit layanan kesehatan di perguruan tinggi. Selain perlunya berkoordinasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan setempat untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Nadiem juga meminta agar pihak sekolah memastikan ketersediaan sarana untuk cuci tangan pakai sabun (CTPS) dan alat pembersih sekali pakai (tisu) di berbagai lokasi strategis di satuan pendidikan. Selain itu, pastikan para siswa menggunakan saranan CTPS (minimal 20 detik) dan pengering tangan sekali pakai.

Terkait ruang belajar, Nadiem meminta pada para pengelola satuan pendidikan untuk memastikan proses pembersihan ruangan dan lingkungan secara rutin, terutama pada handel pintu, sakelar lampu, komputer, papan tik (keyboard) dan fasilitas lain yang sering terpegang oleh tangan.

“Gunakan petugas terampil dalam menjalankan tugas pembersihan. Dan gunakan bahan pembersih yang sesuai untuk keperluan tersebut,” ujarnya.

Kemdikbud juga meminta agar pihak sekolah dapat memonitor absensi (ketidakhadiran) para siswa. Sekolah wajib memberi izin kepada siswa yang sedang sakit untuk tidak datang ke sekolah.

“Sekolah tidak boleh memberi hukuman atau sanksi bagi siswa yang tidak masuk karena sakit. Selain itu, sekolah juga tidak boleh memberlakukan kebijakan insentif berbasis kehadiran,” ucap Nadiem menegaskan.

Ditambahkan, laporkan kepada Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan atau Lembaga Satuan Pendidikan Tinggi jika terdapat ketidakhadiran dalam jumlah besar karena sakit yang berkaitan dengan pernafasan. Alihkan tugas pendidik dan tenaga kependidikan yang absen kepada pendidik dan tenaga kependidikan lain yang mampu.

Kemdikbud juga meminta agar satuan pendidikan dapat melakukan konsultasi dengan Dinas Pendidikan atau Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi jika level ketidakhadiran dianggap sangat mengganggu proses belajar-mengajar
Hal itu perlu sebagai bahan pertimbangan apakah kegiatan belajar-mengajar perlu diliburkan sementara.

Nadiem menambahkan, sekolah tidak wajib untuk mampu mengidentifikasi Covid-19. Karena, hal itu menjadi tanggung jawab Kementerian Kesehatan. Jika ada siswa/mahasiswa yang menunjukkan gejala covid-19 segera laporkan ke dinas kesehatan setempat untuk dilakukan pengujian.

“Perlu diingat bahwa mayoritas penyakit yang terkait pernafasan tak berarti itu covid-19,” tuturnya.

Dalam surat edaran itu, Kemdikbud juga mengingatkan sekolah agar menyediakan makanan yang sudah dimasak sampai matang. Siswa dan guru juga diingatkan untuk tidak berbagi makanan, minuman, dan alat musik tiup. Selain itu, hindari kontak fisik langsung antara warga satuan pendidikan (bersalaman, cium tangan, berpelukan dan sebagainya).

Kemdikbud juga mengimbau agar pihak satuan pendidikan dapat menunda kegiatan yang mengumpulkan banyak orang atau kegiatan di lingkungan luar satuan pendidikan (berkemah, studi wisata). Selain pembatasan tamu dari luar satuan pendidikan.

“Khusus bagi warga satuan pendidikan dan keluarga yang bepergian ke negara-negara terjangkit yang dipublikasikan World Health Organization (WHO) diminta untuk tidak melakukan pengantaran, penjemputan dan berada di area satuan pendidikan untuk 14 hari saat kembali ke tanah air,” katanya. (Tri Wahyuni)