Kemdikbud Tetapkan 267 Warisan Budaya Takbenda Tahun 2019

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menetapkan 267 Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia tahun 2019. Penetapan itu dilakukan agar pemerintah daerah (pemda) ikut melakukan upaya perlindungan dan pelestariannya.

“Penetapan karya budaya menjadi warisan budaya takbenda sebagai bagian dari upaya perlindungan dan pelestarian, seperti diamanatkan UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan,” kata Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya, Kemdikbud, Nadjamuddin Ramly di Jakarta, Jumat (4/10/2019).

Nadjamuddin dalam kesempatan itu didampingi Kasubdit Warisan Budaya Tak Benda, Binsar Simanullang dan Tim Ahli dari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Basuki Teguh Yuwono.

Nadjamuddin menjelaskan, penetapan WBTb di Indonesia sebenarnya dilakukan sejak 2013 lalu. Penetapan WBTb kemudian dilakukan setiap tahun. Pada 2013 ditetapkan 77 karya budaya sebagai WBTb. Pada 2014, jumlahnya meningkat menjadi 96 WBTb. Pada 2015 jumlahnya bertambah menjadi 121 WBTb.

Pada 2016, lanjut Nadjamuddin, ada 150 karya budaya yang dijadikan WBTb. Pada 2017 ditetapkan sebanyak 150 WBTb. Jumlahnya meningkat pada 2018 sebanyak 225 WBTb dan pada 2019 bertambah lagi menjadi 267 WBTb.

“Sepanjang 2013-2019 tercatat ada 1086 karya budaya mrnjadi WBTb. Semoga pemda memberi perhatian khusus untuk perlindungan dan pelestariannya,” ucap Nadjamuddin.

Binsar menjelaskan, penetapan WBTb dilakukan karena sejak 2003, Indonesia telah meratifikasi Convention for the Safeguarding of Intangible Cultural Heritage. Hal itu juga didukung Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2007 yang mengatur konvensi perlindungan terhadap Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Disebutkan, ada 10 WBTb yang masuk warisan dunia oleh Unesco (Badan Dunia untuk kebudayaan dan pendidikan). Ke-10 WBTb itu adalah wayang, batik, keris, angklung, gamelan, noken, tari bali, tari saman dan sekaten. Karya budaya yang diajukan ke Unesco tahun 2019 ini adalah pencak silat.

“Kami berharap pencak silat bisa disahkan sebagai warisan dunia tak benda dalam sidang Unesco yang tahun ini digelar di Bogota, Kolombia,” katanya.

Pada 2020, Indonesia juga mengusulkan pantun ke Unesco bersama dengan pemerintah Malaysia. Prosesnya agak sulit karena seluruh laporan harus dibuat bersama dua negara, tidak bisa dilakukan terpisah.

“Butuh niat yang sama antara dua negara dalam pengajuan karya budaya ini. Semoga urusan dokumentasinya lancar,” katanya.

Ditanya soal peninjauan ulang WBTb oleh Unesco, Binsar menyebut tahun lalu ada yang dapat peringatan yaitu tari salman dan noken. Berkat sejumlah kegiatan yang terkait tari saman dan noken, kedua WBTb itu sudah masuk wilayah aman.

“Penilaian ulang oleh Unesco sebenarnya hal yang biasa. Selain dua WBTb tadi, sisanya termasuk batik akan dievaluasi Unesco pada 2024,” ucap Binsar menandaskan. (Tri Wahyuni)