Kemdikbudristek Kembali Buka Program Kampus Mengajar Angkatan 2

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) membuka Program Kampus Mengajar Angkatan 2. Program tersebut akan dilakukan bersamaan dengan dimulainya pembelajaran tatap muka (PTM) Terbatas.

Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim dalam keterangannya secara daring, Jumat (11/6/21) menjelaskan, Program Kampus Mengajar Angkatan 1 diikuti 14.621 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Mereka dibimbing 2.077 dosen. Para mahasiswa itu mendampingi guru dan kepala sekolah di 4.810 SD yang tersebar di 458 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

“Selama 18 tahun terakhir, Indonesia berada di peringkat bawah untuk nilai kemampuan literasi dan numerasi. Karena itu, tugas kita bagaimana meningkatkan kompetensi dan membangun karakter pelajar ke depan yang semakin menantang. Tidak mudah, tetapi kita tidak boleh menyerah. Harapan harus terus menyala untuk mengatasi tantangan yang dihadapi bangsa kita,” ujarnya.

“Untuk angkatan 2, mahasiswa tak hanya membimbing belajar siswa SD tetapi juga SMP,” katanya.

Kampus Mengajar Angkatan 2 akan dilaksanakan bersamaan dengan dimulainya PTM Terbatas. Diharapkan, mahasiswa dapat membantu pemerintah untuk memastikan PTM terbatas berjalan sesuai dengan panduan yang Kemdikbudristek sediakan.

Ketua Sub-Pokja Kampus Mengajar, Ditjen Dikti, Wagiran mengatakan, Kemdikbudristek akan menempatkan 17 ribu mahasiswa di 3.400 SD dan 3 ribu mahasiswa di 375 SMP di seluruh Indonesia.

Tiga hal utama yang akan dilakukan mahasiswa pada Program Kampus Mengajar. Pertama, membantu proses pembelajaran literasi dan numerasi.

“Mahasiswa itu tidak menggantikan guru ya. Tetapi bersama guru membantu proses belajar, terutama di masa pandemi dan memasuki PTM terbatas. Kemudian juga membantu adaptasi teknologi di sekolah dan mendukung kepala sekolah dalam bidang administrasi dan manajerial,” ujarnya.

Syarat pendaftaran Kampus Mengajar, dijelaskan Wagiran, mahasiswa minimal berada di semester 5, memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,0 dari 4,0, dan berasal dari perguruan tinggi di bawah naungan Ditjen Dikti dengan program studi terakreditasi B. “Mahasiswa yang punya prestasi, pengalaman organisasi, silakan mendaftar,” ujarnya.

Wagiran juga berharap para dosen juga berkenan membimbing mahasiswa di lapangan.

Selain itu, mahasiswa dapat konversi 20 SKS yang dapat memenuhi persyaratan kuliah dan diakomodasi di kampus untuk diakui. “Mahasiswa juga dapat piagam penghargaan, uang saku dan potongan uang kuliah,” ucapnya.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Menengah (Dirjen Pauddikdasmen), Jumeri dalam sambutannya mengatakan kolaborasi antara pendidikan tinggi (dikti) dan pendidikan dasar (dikdas) diharapkan dapat terus berkelanjut guna memberi manfaat bagi perkembangan pendidikan di Indonesia, khususnya jenjang Sekolah Dasar (SD).

“Pada semester ini, dikti dan dikdas telah berkolaborasi memberi dampak positif terhadap kemajuan dan perkembangan bagi 4 ribu sekolah dasar di Indonesia. Saya sadar, tak mudah bagi mahasiswa dalam melakukan perubahan dan menginisiasi kemajuan-kemajuan di SD. Tapi dengan ketekunan, keberanian, dan kreativitas, saya yakin akan banyak cerita baik, praktik-praktik baik di SD-SD kita yang bisa disebarkan dan dicontoh masyarakat luas,” ujar Jumeri.

Senada dengan itu, Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Nizam menjelaskan, para mahasiswa yang mengikuti program ini akan mendapat insentif dari pemerintah dan mendapatkan kredit dalam Sistem Kredit Semester (SKS) atas seluruh karya dan kinerja dalam partisipasi Kampus Mengajar selama 3 bulan ini.

“Jangan lupa segera daftar dan siapkan diri untuk mendapat pengalaman terbaik yang akan Anda alami dalam program ini,” ucapnya.

Direktur Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Dwi Larso, menyatakan pihak LPDP mendukung program Kampus Mengajar, yang telah diluncurkan sejak 2020 lalu. “Program-program seperti ini sangat dibutuhkan Indonesia,” katanya.

Diakui Dwi, Indonesia punya tantangan besar bahwa lulusan perguruan tinggi harus siap mendapat pekerjaan yang pantas. “Program Kemdikbudristek seperti Kampus Merdeka dan pendidikan vokasi akan membantu kita menyiapkan putra-putri terbaik mendapatkan karier yang elegan dan layak,” ujarnya.

Lewat program ini, Dwi menilai, mahasiswa berkesempatan mengasah soft skills dan mengalami sendiri tantangan pendidikan yang ada di lapangan. “Ini akan menjadi bekal berkarier mereka ke depan,” tutur dia.

Selain itu, kepada para kepala dinas pendidikan di tingkat provinsi dan kabupaten/ kota, Dirjen Jumeri berpesan, “Saya mohon bantuan agar mahasiswa didukung, dimotivasi, dan difasilitasi untuk dapat mengabdi lebih baik bagi SD-SD kita di seluruh tanah air. Mudah-mudahan di masa mendatang, program Kampus Merdeka bisa dilaksanakan di jenjang lebih tinggi, yaitu di Sekolah Menengah Pertama (SMP),” kata Jumeri.

Mendikbudristek Nadiem berpesan, “Teman-teman mahasiswa, saya mencari pemuda-pemudi yang tidak hanya berprestasi, tapi juga ingin berkontribus. Tidak hanya yang ingin berkembang, tetapi yang memiliki daya juang. Tidak hanya yang mampu, tetapi juga yang mau.”

Mendikbudristek mengungkapkan, lewat program ini, para mahasiswa akan berkesempatan mengasah kepemimpinan, kematangan emosional, dan kepekaan sosial yang akan terus melekat dengan diri sebagai cendekiawan dan sebagai pemimpin masa depan.

“Indonesia butuh pribadi cendekiawan dan pemimpin berempati yang terus berdedikasi untuk negeri melampaui kepentingan diri sendiri. Jika kalian adalah mahasiswa yang saya cari, mari mengubah tantangan menjadi harapan dengan mengikuti program Kampus Mengajar,” kata Mendikbudristek. (Tri Wahyuni)