Kemdikbudristek Kembali Gelar Anugerah Kebudayaan Indonesia

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) kembali menggelar Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI).

“Anugerah tersebut diberikan kepada tokoh, kelompok, atau lembaga yang secara konsisten dan berkontribusi tinggi dalam pelestarian dan pemajuan Kebudayaan di Indonesia,” kata Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan, Kemdikbudristek, Judi Wahjudin, di Jakarta, Jumat (29/7/22).

Judi menjelaskan, penghargaan Anugerah Kebudayaan Indonesia sebenarnya telah dilaksanakan sejak 1969. Awalnya bernama Hadiah Seni, lalu berubah menjadi Anugerah Kebudayaan Indonesia pada 2012.

Periode pendaftaran AKI 2022 dimulai sejak 18 Juli hingga 31 Agustus 2022.
Setiap tokoh baik individu, kelompok atau lembaga yang memenuhi syarat dan kriteria untuk masing-masing kategori, dan tertarik ikut seleksi dapat berkoordinasi dengan dinas kebudayaan tingkat provinsi/kabupaten/kota, Balai Pelestarian Nilai Budaya, Balai Pelestarian Cagar Budaya atau sejumlah perguruan tinggi untuk pengusulannya.

“Jadi, usulan nama calon penerima AKI harus melalui pihak yang ditunjuk panitia,” ujarnya.

Untuk pengusul dari perguruan tinggi, bisa mendaftar melalui Universitas Indonesia, Institut Kesenian Jakarta, ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, Institut Teknologi Bandung, Universitas
Sumatera Utara dan Universitas Udayana.

Disebutkan, ada 6 kategori penghargaan dari Mendikbudristek, yakni Pelestari, Pelopor dan Pembaru, Maestro Seni Tradisi, Anak/Remaja, Lembaga dan terakhir Media.

Namun bedanya dengan tahun lalu, khusus untuk kategori
Pelestari, ada perluasan bidang keahlian yang meliputi tokoh penghayat dan/atau organisasi Kepercayaan terhadap Tuhan YME, dan tokoh masyarakat atau lembaga adat.

Berbeda dengan calon penerima Gelar Tanda Kehormatan dari Presiden, setelah selesai proses seleksi di Kemdikbudristek, calon terpilih akan diusulkan kepada Dewan Gelar Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan melalui
Sekretaris Militer Presiden pada awal tahun berikutnya.

“Sehingga penetapan penerima dan penyerahan Tanda Kehormatan dari Presiden tidak di tahun yang sama dengan penetapan
penerima dan penyerahan penghargaan AKI dari Mendikbudristek,” tutur Judi.

Esensi dari pemberian penghargaan itu diharapkan mampu memotivasi insan-insan budayawan/seniman Indonesia, dalam berbagai bidang dan kiprah yang ditunjukkan dengan karya-karyanya yang gemilang dan dinikmati masyarakat luas, terutama generasi muda yang
pada gilirannya dapat memperkuat jatidiri, identitas budaya bangsa, dan karakter bangsa dalam upaya pelestarian dan pemajuan kebudayaan. (Tri Wahyuni)