Kemdikbudristek Kembali Gelar Vaksinasi bagi Seniman dan Budayawan

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) menggelar vaksinasi dosis kedua bagi seniman dan budayawan. Pemberian vaksin tersebut untuk memberi keamanan bagi para seniman dan budayawan yang mulai kembali beraktivitas di era adaptasi kebiasaan baru.

“Pandemi corona virus disease (covid-19) membuat para pekerja seni dan budayawan terpuruk secara ekonomi, karena tak kegiatan seni dan budaya. Lewat program vaksinasi, kami ingin mereka bisa kembali berkarya,” kata Mendikbudristek, Nadiem Makarim saat meninjau pelaksanaan vaksinasi dosis kedua bagi seniman dan budayawan, di Jakarta, Kamis (20/5/2021).

Program vaksinasi dosis pertama untuk sekitar 500 seniman dan budayawan itu digelar pada awal April 2021 lalu di Galeri Nasional Indonesia. Kegiatan tersebut dihadiri Presiden Joko Widodo.

Nadiem menjelaskan, seniman dan budayawan mesuk dalam program vaksinasi prioritas, karena DNA (genetik yang menentukan sifat dan karakteristik seseorang) bangsa Indonesia adalah seni dan budaya.

Pernyataan senada dikemukakan Dirjen Kebudayaan Kemdikbudristek, Hilmar Farid. Katanya, selain program vaksinasi, Kemdikbudristek juga menginisiasi beragam program yang akan mendorong pemajuan kebudayaan di masa pandemi.

Mendikbudristek yang didampingi Staf Khusus Presiden, Sukardi Rinakit dan Dirjen Kebudayaan secara khusus menyaksikan vaksinasi bagi penulis Laksmi Pamuntjak, penari Anggawati dari Wayang Orang Bharata, musisi Jubing Kristianto, aktris Asri Welas, komika Kristo Immanuel, aktor Morgan Oey, musisi Gita Gutawa dan komedian Polo Srimulat

Vaksinasi dosis kedua bagi seniman dan budayawan DKI Jakarta dilakukan oleh tim Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet yang didukung Dinas Kesehatan dan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta. Vaksin yang digunakan merek Sinovac yang dipastikan aman dan halal.

Ditanya soal perkembangan vaksinasi bagi pendidik dan tenaga kependidikan (PTK), Nasdiem menyebut baru sekitar 23 persen dari sekitar 5 juta PTK yang ditargetkan. Program vaksinasi bagi PTK berjalan lambat karena terkendala dalam penyediaan vaksin oleh pemerintah.

“Kami berdoa agar target 5 juta PTK bisa dikejar dalam 2 bulan kedepan. Semoga penyediaan vaksinnya berjalan lancar,” ucapnya.

Nadiem menegaskan, program vaksinasi bagi PTK menjadi prioritas utama, terkait rencana dibukanya kembali sekolah untuk pembelajaran tatap muka (PTM) yang dilakukan secara terbatas. PTM sudah diuji coba sejak Januari 2021 oleh beberapa sekolah.

“Kami sudah minta pada sekolah yang guru maupun tenaga kependidikannya sudah dapat vaksinasi untuk mulai menggelar PTM terbatas,” katanya.

Jika belum mendapat vaksinasi, lanjut Nadiem, keputusan diberikan kepada sekolah, satgas covid-19 di daerah, pemerintah daerah dan orangtua. “Jika target vaksinasi untuk PTK tidak tercapai pada akhir Juli 2021, sekolah boleh menggelar kelas daring. Apalagi daerah-daerah yang ada di zona merah,” ujarnya. (Tri Wahyuni)