Kemdikbudristek Siapkan Kurikulum Merdeka Kolaboratif di Setiap Wilayah

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) menyiapkan Kurikulum Merdeka Kolaboratif di setiap wilayah. Kurikulum tersebut akan lebih mudah mengenali potensi peserta didik agar berkembang secara optimal.

Hal itu mengemuka dalam seri webinar yang digelar Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK), Kemdikbudristek bertajuk ‘Filosofi Kurikulum Merdeka’, Senin (18/4/22).

Webinar tersebut untuk meningkatkan pemahaman kepada kepala satuan pendidikan dan guru dalam mempersiapkan penerapan Kurikulum Merdeka secara kolaboratif di masing-masing wilayah.

Hadir sebagai pembicara Pelaksana tugas (Plt) Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Kemdikbudristek, Zulfikri Anas; Tenaga Ahli Teknologi Kemdikbudristek, Lasty Devira Kesdu; dan guru fisika SMAN 1 Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat, Yudi Nugraha.

Zulfikri Anas menyatakan secara esensi kurikulum adalah alat untuk membantu anak dalam mencapai tujuan pendidikan. Sebagai alat, kurikulum dinilai perlu mengikuti anak dalam membantu proses pendidikannya.

“Filosofi Kurikulum Merdeka yang digagas Ki Hajar Dewantara menyebut tumbuh kembang anak berada di luar kehendak dan kecakapan para pendidiknya. Sayangnya, para pendidik selama ini mungkin lebih mendominasi pembelajaran, namu lewat Kurikulum Merdeka akan dikembalikan ke kodratnya,” ucapnya.

Untuk itu, lanjut Zulfikri, Kurikulum Merdeka menyediakan layanan kepada setiap peserta didik agar bisa mengenali potensi unik dalam dirinya sejak dini. Karena, pendidik yang keliru dalam memberi layanan berdampak pada masa depan anak. Mereka kesulitan menemukan fitrah uniknya.

“Jadi sebelum menyusun rencana pembelajaran, kita harus tahu lebih dulu potensi peserta didik. Caranya, bisa lewat asesmen di awal. Sehingga guru memiliki peta tentang potensi anak sebelum memulai pembelajaran,” tuturnya.

Hal senada dikemukakan tenaga ahli teknologi Kemdikbudristek, Lasty Devira Kesdu. Katanya, Merdeka Mengajar merupakan platform pendukung dalam penerapan kurikulum Merdeka Belajar. Platform tersebut akan membantu guru dalam mendapat referensi, inspirasi, dan pemahaman tentang penerapan Kurikulum Merdeka.

“Platform edukasi ini menjadi ‘teman penggerak’ bagi guru dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila serta mendukung guru untuk mengajar, belajar, dan berkarya lebih baik lagi,” ucap Lasty.

Disebutkan, Platform Merdeka Mengajar menyediakan referensi praktik pembelajaran yang sesuai Kurikulum Merdeka. Tersedia lebih dari 2 ribu perangkat ajar berbasis Kurikulum Merdeka dalam platform Merdeka Mengajar tersebut.

“Platform itu juga membantu guru melakukan analisis diagnostik literasi dan numerasi secara cepat, sehingga mereka bisa menerapkan pembelajaran yang sesuai dengan tahap capaian dan pengembangan peserta didik,” kata Lasty.

Keunggulan dari Kurikulum Merdeka dirasakan Yudi Nugraha. Alasannya, platform tersebut memiliki keleluasaan dalam memilih format, pengalaman, materi esensial yang dibutuhkan, serta modul yang cocok untuk pembelajaran di lingkungan sekolah.

Yudi menekankan pentingnya kesadaran untuk berkolaborasi guna meningkatkan pemahaman bagi sesama guru tentang pembelajaran berdiferensiasi. Hal itu akan mengakomodir kebutuhan siswa.

“Ada beberapa hal yang kami rasakan berbeda dibanding kurikulum sebelumnya. Khususnya, proses pembelajaran berdiferensiasi, kami sudah sampai pada tahap melaksanakan dan merasakan manfaatnya. Kami sudah melakukan pemetaan terhadap anak di awal dan hal itu tidak bermuatan mata pelajaran,” ucap guru fisika SMAN 1 Cikalong Wetan itu.

Ia menceritakan proses pemetaan untuk mengetahui potensi siswa di sekolah tempatnya mengajar. Guru membuat pemetaan yang sudah disusun panitia (komite pembelajaran). Mereka mengelola pelaksanaan asesmen pada tahap awal pembelajaran.

“Satuan pendidikan juga melibatkan wali kelas dalam pelaksanaanya. Hasil pemetaan yang terdiri atas gaya belajar dan profil siswa, diserahkan kepada guru mata pelajaran untuk mempersiapkan pembelajarannya,” kata Yudi menandaskan. (Tri Wahyuni)