Kemenkes: Belum Ditemukan Kasus Monkeypox di Indonesia

0

JAKARTA (Suara Karya): Masyarakat diminta untuk tidak panik menghadapi isu seputar penyakit Monkeypox, yang kemungkinan dapat masuk ke Indonesia. Kuncinya adalah senantiasa menjaga kebersihan diri dan lingkungan tempat tinggal.

“Hingga saat ini belum ada laporan kasus monkeypox di Indonesia,” kata Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Anung Sugihantono dalam siaran pers, di Jakarta, Rabu (15/5/2019).

Kasus monkeypox ditemukan pada awal Mei 2019 di Singapura. Kasus itu bermula dari seorang warga negara Nigeria yang tengah mengikuti lokakarya di negara tersebut. Virus monkeypox lalu menulari 23 orang lain lewat kontak fisik selama lokakarya.

“Yang menggembirakan, saat ini ke-23 pasien monkeypox iti sudah dirawat di ruang isolasi untuk mencegah penularan lebih lanjut,” kata Anung.

Dijelaskan, monkeypox adalah penyakit akibat virus yang ditularkan melalui binatang (zoonosis). Penularan pada manusia, terjadi karena kontak fisik dengan monyet, tikus gambia dan tupai. Selain juga bisa kerena mengonsumsi daging binatang yang terkontaminasi.

“Inang utama dari virus ini berasal dari rodent atau tikus,” kata Anung seraya menambahkan penularan dari manusia ke manusia hingga saat jarang terjadi.

Wilayah terjangkit monkeypox secara global yaitu Afrika Tengah dan Barat (Republik Demokratik Kongo, Republik Kongo, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Nigeria, Ivory Coast, Liberia, Sierra Leone, Gabon dan Sudan Selatan).

Menurut Anung, penyakit monkeypox dapat dicegah. Untuk itu, ia mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti cuci tangan dengan sabun, menghindari kontak langsung dengan tikus atau primata, membatasi pajanan langsung dengan darah atau daging yang tidak dimasak dengan baik.

Selain itu, lanjut Anung, pentingnya menghindari kontak fisik dengan orang yang terinfeksi atau material yang terkontaminasi, menghindari kontak dengan hewan liar atau mengkonsumsi daging yang diburu dari hewan liar.

Pelaku perjalanan yang baru kembali dari wilayah terjangkit monkeypox untuk segera memeriksakan diri jika mengalami gejala seperti demam tinggi mendadak, pembesaran kelenjar getah bening dan ruam kulit dalam waktu kurang dari 3 minggu setelah kepulangan.

Kepada petugas kesehatan, Anung mengingatkan agar menggunakan alat pelindung, minimal sarung tangan dan masker saat menangani pasien atau binatang yang sakit.

Dijelaskan, masa inkubasi (interval dari infeksi sampai timbulnya gejala) monkeypox berkisar antara 6–16 hari, tetapi juga bisa selama 5–21 hari. Gejala yang timbul berupa demam, sakit kepala hebat, limfadenopati (pembesaran kelenjar getah bening), nyeri punggung, nyeri otot dan lemas.

Gejala ruam pada kulit muncul pada wajah, kemudian menyebar ke bagian tubuh lain. Ruam itu berkembang mulai dari bintik merah seperti cacar (makulopapula), lepuh berisi cairan bening, lepuh berisi nanah, kemudian mengeras. Biasanya diperlukan waktu hingga 3 minggu sampai ruam tersebut menghilang.

Monkeypox merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri. Kasus yang parah lebih sering terjadi pada anak dan terkait dengan tingkat paparan virus, status kesehatan pasien dan tingkat keparahan komplikasi.

Kasus kematian bervariasi tetapi kurang dari 10 persen kasus yang dilaporkan, sebagian besar di antaranya adalah anak-anak. Secara umum, kelompok usia yang lebih muda tampaknya lebih rentan terhadap penyakit monkeypox.

Anung menegaskan, monkeypox hanya dapat didiagnosis melalui pemeriksaan laboratorium. “Tak ada pengobatan khusus atau vaksinasi yang tersedia untuk infeksi virus monkeypox. Pengobatan simptomatik dan suportif dapat diberikan untuk meringankan keluhan yang muncul.

Monkeypox pernah menjadi kejadian luar biasa (KLB) di beberapa wilayah. Tahun 1970 terjadi KLB pada manusia, pertama kali di Republik Demokratik Kongo.

Tahun 2003 dilaporkan, kasusnya merebak di Amerika Serikat akibat riwayat kontak manusia dengan binatang peliharaan prairie dog yang terinfeksi tikus Afrika yang masuk ke Amerika. Baru pada 2017 terjadi KLB monkeypox di Nigeria. (Tri Wahyuni)