Kemenkes Bentuk Pusat Bedah Robotik Indonesia

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membentuk Pusat Bedah Robotik Indonesia di dua rumah sakit, RSUP Dr Hasan Sadikin (RSHS) Bandung dan RSUP Dr Sardjito Yogyakarta.

Staf Khusus Menkes Bidang Ketahanan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan, Prof Laksono Trisnantoro menjelaskan, rencana pembentukan itu berawal dari inisiasi ‘business matching’ pada ‘Health Business Forum’. Pertemuan tersebut membuat desain proyek multi tahun dan multi stakeholders Robotic Telesurgery 2021-2024.

Proyek itu tak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memiliki sisi edukasi. Dengan diberikannya akses transfer pengetahuan dan alih teknologi, industri dalam negeri juga mampu memproduksi alat dan sparepart-nya di dalam negeri dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang mencukupi.

“Proyek robotik merupakan proyek multi tahun yang bertujuan untuk meningkatkan akses layanan dan mutu layanan kesehatan untuk daerah yang tidak terjangkau di Indonesia. Strateginya menggunakan ‘robotic telesurgery’ sebagai bagian dari program telemedisin,” kata Prof Laksono dalam siaran pers, Sabtu (25/6/22).

Ditambahkan, program robotic telesurgery saat ini sudah masuk tahap pelatihan para dokter bedah dengan Virtual Reality (VR) Simulator Robotic Telesurgery. Kurikulum pelatihan bedah robotik itu akan tersertifikasi dan terakreditasi.

“Kedepannya, diharapkan keahlian bedah robotik direkomendasikan masuk dalam kurikulum pendidikan spesialis dokter bedah di Indonesia,” tuturnya.

Menurut Prof Laksono, program itu guna mendukung transformasi layanan sekunder berbasis teknologi kesehatan, melalui layanan operasi/bedah jarak jauh. Kedepannya teknologi itu dapat menurunkan pasien rujukan ke RS tipe A atau RS Rujukan Nasional dengan pelayanan bedah jarak jauh.

Dokter Ahli Bedah Robotik di RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung, dr Reno Rudiman, mengatakan program robotic telesurgery telah berjalan di RSHS sejak 2020. Robotic Sina, robot bedah yang ada di RS Hasan Sadikin itu melakukan pembedahan menggunakan instrumen moduler masing-masing tower, sehingga pergerakkannya lebih fleksibel.

“Instrumen yang digunakan Sina memiliki ukuran 5 mm, sehingga luka yang akibat operasi bisa lebih kecil sayatannya,” ucapnya.

Dari skema pembiayaan, dr Reno menilai, bedah robot lebih ekonomis untuk usulan pembiayaan JKN. “Apalagi program ini ada alih teknologi, nantinya instrumen bisa diproduksi industri dalam negeri,” katanya.

Proyek robotic telesurgery merupakan contoh konkret dari transformasi sistem kesehatan yang diinisiasi oleh Kemenkes, yang terdiri dari gabungan 4 pilar Transformasi Kesehatan, yaitu Transformasi Layanan Rujukan, Pembiayaan Kesehatan, Ketahanan Industri Alkes, dan SDM Kesehatan.

Rekomendasi kebijakan untuk implementasi program Robotik Telesurgeri di Indonesia butuh komitmen besar dari semua stakeholders, utamanya Kementerian Kesehatan, Rumah Sakit, Universitas dan Industri Alkes BUMN. (Tri Wahyuni)