Kemenristek/BRIN dan Yayasan Inotek Siap Ciptakan Seribu Teknopreneur

0
Menristek/Kepala BRIN, Bambang PS Brodjonegoro. (Suarakarya.co.id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemristek/BRIN) menjalin kerja sama dengan Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia (Inotek) untuk pengembangan teknopreneur di Tanah Air. Targetnya, tercipta seribu teknopreneur untuk satu juta pekerjaan.

“Lewat teknopreuneur, kami ingin membangun ekosistem kewirausahaan berbasis teknologi. Sehingga tercipta jutaan lapangan pekerjaan baru,” kata Menristek/Kepala BRIN, Bambang PS Brodjonegoro usai penandatanganan naskah kerja sama dengan Yayasan Inotek, di Jakarta, Senin (28/9/20).

Dari Yayasan Inotek, penandatanganan dilakukan pendirinya, Sandiaga Uno dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Inotek yang juga pendiri Orbit Future Academy, Ilham Habibie.

Bambang menilai, upaya penciptaan teknopreneur saat ini menjadi urgen untuk revitalisasi ekonomi akibat terdampak pandemi corona virus disease (covid-19). Kewirausahaan berbasis teknologi akan menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih luas, lewat pendampingan, pelatihan dan penyediaan teknologi.

“Pendampingan sangat diperlukan agar para teknopreneur tidak salah langkah, terutama pada fase awal berusaha. Setelah itu, para teknopreneur juga dibekali manajemen untuk meningkatkan daya saing produk,” ujarnya.

Untuk itu, lanjut Bambang, pemerintah harus bergerak cepat agar dapat membantu wirausaha dalam mengolah sumber daya alam, melalui riset dan inovasi. Dengan demikian, tercipta produk ‘intermediate’ atau produk akhir yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Di masa pandemi saat ini, setiap negara dituntut untuk mengoptimalkan potensi sumber daya ekonomi, agar ekonomi terus berjalan. Karena mulai banyak dunia usaha yang mulai kesulitan, dan terpaksa memotong dana operasional dan merumahkan karyawannya,” tuturnya.

Ditambahkan, wirausaha memegang peran penting untuk fase pemulihan perkonomian, yang berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Mereka menciptakan nilai tambah dari sumber daya alam, menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan nasional serta mengurangi kesenjangan ekonomi dan sosial.

“Difusi teknologi tepat guna berperan penting dalam meningkatkan kinerja dunia usaha. Bila diperhatikan, UKM dan wirausaha sebenarnya butuh 3 hal dasar, yaitu akses pembiayaan, kemampuan manajemen dan akses terhadap pasar,” ujar Bambang.

Karena itu, ia mendukung program ‘Seribu Teknopreneur Sejuta Pekerjaan’ yang digagas Yayasan Inotek sebagai program kewirausahaan kolaboratif untuk membuat jaringan teknopreneur di 34 provinsi di Indonesia.

Pendiri Yayasan Inotek, Sandiaga Uno mengatakan, program teknopreneur menggunakan metode kewirausahaan yang dihubungkan dengan investor, kemitraan berbasis teknologi serta riset dan development.

“Program itu akan berdampak secara sosial dan ekonomi, karena menciptakan lebih dari 1000 teknopreneur baru yang akan memulai ekonomi lokal di level UMKM. Mereka berkontribusi dalam meningkatkan PDB lokal dan membuka akses ke pasar nasional dan global,” kata mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta tersebut.

Dampak dari seribu teknopreneur tersebut, lanjut Sandi, akan tercipta lebih dari satu juta pekerjaan tidak langsung (hulu dan hilir).Tujuan dari program itu adalah memanfaatkan teknologi bagi pasar nasional dan global yang terhubung ke seluruh provinsi berdasarkan sektor, keterampilan dan keberpihakan pasar.

“Inotek memiliki visi mengembangkan inovasi di akar rumput dengan menciptakan teknologi tepat guna dan sistem pendampingan yang komprehensif,” tuturnya.

Program itu, menurut Sandi, fokus dalam pengembangan teknopreneur akar rumput. Diharapkan, mereka bisa menyentuh usaha mikro di sektor utama seperti pangan, konsumsi, maupun sektor lain yang selama ini menggerakan perekonomian Indonesia.

Ditambahkan, Yayasan Inotek bermitra dengan ‘Orbit Future Academy’ dan organisasi terpercaya lainnya untuk membuat program kurasi nasional yang menjangkau ribuan penemuan dan SGB berbasis teknologi di Indonesia.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Inotek, Ilham A Habibie menambahkan, program Seribu Teknopreneur Sejuta Pekerjaan (STSP) butuh dukungan dari ekosistem agar para teknopreneur dapat menjadi bisnis yang sukses dan naik kelas. Program tersebut juga memasukkan kesetaraan gender lewat program pemberdayaan wirausaha perempuan, sebagai sub-Program STSP.

“Kami targetkan program enterpreuner perempuan sebanyak 30 persen dari pencapaian STSP selama 3 tahun. Program Women Technopreneur Indonesia (WTI) akan dilaksanakan tahun ini juga,” ujar Ilham menegaskan. (Tri Wahyuni)