Kemerdekaan Belajar dari Bali untuk Masa Depan Anak Indonesia

0

JAKARTA (Suara Karya): Sekolah Cendekia Harapan (CH) Bali menyatakan dukungannya atas kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, yang disebut ‘merdeka dalam belajar’. Karena, konsep semacam itu telah diterapkan Cendekia Harapan sejak 2017 lalu.

“Kami menyebut konsep itu sebagai CH Method atau CH Ways of Learning,” kata Ketua Yayasan Griya Anak yang juga penggagas CH Method, Sabar Aritonang dalam acara deklarasi yang mendukung kebijakan Mendikbud Nadiem Makarim, di halaman sekolah Cendekia Harapan di Jimbaran, Bali, Senin (16/12/19).

Cendekia Harapan adalah sekolah yang menaungi satuan pendidikan dari tingkat Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Lembaga pendidikan itu berdiri sejak 16 tahun lalu.

Sabar menjelaskan, konsep CH Method ini dilandasi atas pemikiran dari para ahli pendidikan seperti Maria Montessori, Ki Hadjar Dewantara dan Swami Vivekananda. Konsepnya menitikberatkan pada kebebasan belajar untuk semua orang.

“Gerakan pembaharuan yang dilakukan Mendikbud dalam sistem pendidikan kita harus mendapat dukungan. Mungkin pada awalnya akan ada kendala, tetapi bukan mustahil diwujudkan. Apalagi jika kebijakan itu didukung banyak pihak,” ucapnya.

Karena itu, Sabar berkeinginan untuk audensi dengan Mendikbud Nadiem Makarim guna berbagi pengalaman selama menjalankan konsep merdeka dalam belajar atau ‘CH Method’ dalam 2 tahun terakhir ini.

“Apa yang kami ingin sampaikan ke Mendikbud nantinya merupakan fakta yang benar terjadi. Karena kami pernah mengalami kegagalan dan keberhasilan dalam kurun waktu yang tak lama,” tuturnya.

Sabar berharap para pakar pendidikan Indonesia mulai mengulik kembali konsep pendidikan yang diimpikan Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Impian itu dikembangkan dengan mempertimbangkan kondisi terkini menjadi CH Learning Ways.

“CH Learning Ways bisa diadaptasi pemerintah untuk mendukung gerakan perubahan dalam sistem pendidikan Indonesia. Ini akan jadi konsep yang sempurna,” ujarnya.

Ia menegaskan, kemerdekaan belajar bukan hanya tentang peserta didik, tetapi juga fasilitator yang mendorong terlaksananya program belajar dan mengajar, guru, orang tua dan masyarakat. Mereka memiliki peran yang penting baik di belakang maupun di depan para peserta didik.

“Hal itu sesuai dengan motto pendidikan bangsa kita, yaitu tut wuri handayani, dan ing ngarso sung tulodo. Dari dalam diri anak tentu telah memiliki rasa belajar, rasa ingin tahu yang besar,” ucapnya.

Ditambahkan, perlu pemahaman bahwa guru adalah fasilitator belajar. Begitu pun orang tua, mereka harus sadar bahwa kepentingan belajar bukan untuk hari ini saja, tetapi juga di masa depan.

“Berhentilah membanding-bandingkan kondisi saat ini dengan masa lampau. Karena tantangan yang dihadapi anak kita di masa depan akan berbeda. Kita butuh semua yang efisien dan efektif, tak hanya teknologi tetapi juga cara berpikir dan belajar,” katanya.

Menurut Sabar, terlalu banyak birokrasi akan membuang waktu emas anak dalam berpikir, menghambat kreativitas guru dalam mengembangkan cara berpikir anak. Begitu pun dengan orang tua di rumah, yang kadang menuntut banyak hal, bukannya memberi tauladan untuk anak.

“Pendidikan kita butuh pembaruan, sekaligus dukungan dari berbagai pihak untuk masa depan Indonesia yang lebih baik,” kata Sabar menandaskan. (Tri Wahyuni)
Kemerdekaan Belajar dari Bali untuk Masa Depan Anak Indonesia

JAKARTA (Suara Karya): Sekolah Cendekia Harapan (CH) Bali menyatakan dukungannya atas kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, yang disebut ‘merdeka dalam belajar’. Karena, konsep semacam itu telah diterapkan Cendekia Harapan sejak 2017 lalu.

“Kami menyebut konsep itu sebagai CH Method atau CH Ways of Learning,” kata Ketua Yayasan Griya Anak yang juga penggagas CH Method, Sabar Aritonang dalam acara deklarasi yang mendukung kebijakan Mendikbud Nadiem Makarim, di halaman sekolah Cendekia Harapan di Jimbaran, Bali, Senin (16/12/19).

Cendekia Harapan adalah sekolah yang menaungi satuan pendidikan dari tingkat Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Lembaga pendidikan itu berdiri sejak 16 tahun lalu.

Sabar menjelaskan, konsep CH Method ini dilandasi atas pemikiran dari para ahli pendidikan seperti Maria Montessori, Ki Hadjar Dewantara dan Swami Vivekananda. Konsepnya menitikberatkan pada kebebasan belajar untuk semua orang.

“Gerakan pembaharuan yang dilakukan Mendikbud dalam sistem pendidikan kita harus mendapat dukungan. Mungkin pada awalnya akan ada kendala, tetapi bukan mustahil diwujudkan. Apalagi jika kebijakan itu didukung banyak pihak,” ucapnya.

Karena itu, Sabar berkeinginan untuk audensi dengan Mendikbud Nadiem Makarim guna berbagi pengalaman selama menjalankan konsep merdeka dalam belajar atau ‘CH Method’ dalam 2 tahun terakhir ini.

“Apa yang kami ingin sampaikan ke Mendikbud nantinya merupakan fakta yang benar terjadi. Karena kami pernah mengalami kegagalan dan keberhasilan dalam kurun waktu yang tak lama,” tuturnya.

Sabar berharap para pakar pendidikan Indonesia mulai mengulik kembali konsep pendidikan yang diimpikan Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Impian itu dikembangkan dengan mempertimbangkan kondisi terkini menjadi CH Learning Ways.

“CH Learning Ways bisa diadaptasi pemerintah untuk mendukung gerakan perubahan dalam sistem pendidikan Indonesia. Ini akan jadi konsep yang sempurna,” ujarnya.

Ia menegaskan, kemerdekaan belajar bukan hanya tentang peserta didik, tetapi juga fasilitator yang mendorong terlaksananya program belajar dan mengajar, guru, orang tua dan masyarakat. Mereka memiliki peran yang penting baik di belakang maupun di depan para peserta didik.

“Hal itu sesuai dengan motto pendidikan bangsa kita, yaitu tut wuri handayani, dan ing ngarso sung tulodo. Dari dalam diri anak tentu telah memiliki rasa belajar, rasa ingin tahu yang besar,” ucapnya.

Ditambahkan, perlu pemahaman bahwa guru adalah fasilitator belajar. Begitu pun orang tua, mereka harus sadar bahwa kepentingan belajar bukan untuk hari ini saja, tetapi juga di masa depan.

“Berhentilah membanding-bandingkan kondisi saat ini dengan masa lampau. Karena tantangan yang dihadapi anak kita di masa depan akan berbeda. Kita butuh semua yang efisien dan efektif, tak hanya teknologi tetapi juga cara berpikir dan belajar,” katanya.

Menurut Sabar, terlalu banyak birokrasi akan membuang waktu emas anak dalam berpikir, menghambat kreativitas guru dalam mengembangkan cara berpikir anak. Begitu pun dengan orang tua di rumah, yang kadang menuntut banyak hal, bukannya memberi tauladan untuk anak.

“Pendidikan kita butuh pembaruan, sekaligus dukungan dari berbagai pihak untuk masa depan Indonesia yang lebih baik,” kata Sabar menandaskan. (Tri Wahyuni)