Kemkes akan Permudah Izin Edar Bagi Industri Pembuat APD

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Kesehatan (Kemkes) akan permudah proses penerbitan izin edar bagi industri yang memproduksi alat pelindung diri (APD). Namun, produk APD tersebut harus memenuhi standar yang ditetapkan.

“Kami akan permudah izin edar alat kesehatan yang dibutuhkan untuk penanganan corona virus disease (covid-19), termasuk produk APD,” kata Sekretaris Ditjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kemkes, Arianti Anaya di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Jumat (17/4/20).

Saat ini, lanjut Arianti, Kemkes telah menerbitkan izin edar kepada beberapa industri yang dinilai memenuhi syarat dan standar dalam produksi APD. Untuk itu, Kemkes akan melakukan pengujian laboratorium atas material yang digunakan, guna mengetahui apakah produk tersebut memenuhi standar yang ditetapkan.

“Produk APD yang tidak sesuai standar, masih bisa digunakan untuk penanganan pasien covid-19. APD itu bisa dipakai di area yang tingkat penularannya sangat rendah, seperti APD untuk tenaga kefarmasian, tenaga gizi dan pengendara ambulance. Mereka bisa menggunakan APD non medis. Produk APD semacam itu tak perlu izin edar,” ujarnya.

Arianti memperkirakan, kebutuhan APD di Indonesia hingga akhir Juni 2020 sekitar 8 juta unit, jika jumlah pasiennya mencapai lebih dari 20 ribu orang.

Pada kesempatan yang sama Arianti Anaya juga menjelaskan beda spesifikasi masker bedah dengan masker N95. Masker tersebut merupakan bagian yang penting dari APD tenaga kesehatan.

Dijelaskan, masker bedah adalah masker yang umum ditemukan di pasaran. Masker bedah bagi tenaga kesehatan harus memiliki spesifikasi yang mampu mencegah kontak terhadap cairan darah dan percikan ludah (droplets).

“Masker adalah jantungnya APD bagi tenaga kesehatan. Karena penggunaan dapat mencegah terjadinya kontak antara petugas kesehatan dengan cairan darah maupun droplets dari pasien,” ujar Arianti Anaya.

Masker bedah terdiri dari tiga lapisan yang mencegah tingkat penularan, yaitu kain ‘spunbond’, ‘filter melt blown’ dan ‘spunbond’ lagi. Tiga fungsi lapisan utama itu adalah bagian luar spunbond berwarna bersifat antiair, lapisan tengah berfungsi sebagai filter, dan lapisan dalam putih yang berguna untuk menyerap cairan yang keluar dari mulut pengguna.

Ditambahkan, untuk masker N95 terdiri dari 4-5 lapisan. Lapisan luarnya terbuat dari ‘polypropylene’ dan memiliki lapisan elektrit. Masker ini memiliki kemampuan yang lebih kuat dibanding masker bedah. Selain mampu menahan cairan darah dan droplets, juga mampu menahan aerosol.

“Masker N95 harus digunakan untuk tenaga kesehatan yang menangani pasien covid-19, tenaga kesehatan yang melakukan tindakan bedah, penggunaan nebulizer dan dokter gigi saat tindakan memungkinkan keluarnya aerosol atau partikel air yang tertahan oleh partikel gas dan melayang di udara,” kata Arianti menandaskan. (Tri Wahyuni)