Kemkes Gelar PBP, Kesempatan bagi Dokter dan Dokter Gigi jadi Spesialis!

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Kesehatan (Kemkes) membuka Program Bantuan Pendidikan (PBP) bagi dokter dan dokter gigi yang ingin melanjutkan ke jenjang spesialis dan subspesialis. Program itu untuk percepatan pemerataan tenaga kesehatan (nakes) di seluruh Indonesia.

“Urusan pemerataan nakes hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi pemerintah. Berbagai upaya akan dilakukan agar masalah itu bisa ditangani cepat,” kata Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin kepada wartawan secara daring, Kamis (2/6/22).

Menkes menjelaskan, ketersediaan nakes spesialis di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) untuk penyakit-penyakit kronis sangat mendesak. Tak hanya jumlahnya yang minim, tapi juga tak merata. Banyak nakes terkonsentrasi di kota-kota besar.

“Penyakit paling tinggi merengut nyawa dan berbiaya tinggi adalah jantung. Meski demikian, masih banyak provinsi yang belum punya layanan jantung di wilayahnya. Ketika ada pasien jantung butuh pengobatan, harus diterbangkan ke daerah lain,” tuturnya.

Untuk itu, Menkes menargetkan seluruh fasyankes di tingkat provinsi memiliki layanan kesehatan jantung pada 2024 mendatang. Namun, target itu terkendala waktu, karena pendidikan dokter spesialis butuh waktu yang cukup lama.

Merujuk pada data badan kesehatan dunia WHO, rasio dokter per penduduk Indonesia adalah 1 berbanding 1000. Sementara di negara maju rasionya sudah 3 dokter berbanding 1000 penduduk, bahkan ada yang 5 berbanding 1000.

Saat ini jumlah dokter di Indonesia sekitar 270 ribu orang. Sementara tenaga kesehatan yang memiliki STR (Surat Tanda Registrasi) sehingga bisa praktik sebanyak 140 ribu. Artinya, masih ada kekurangan tenaga kesehatan sekitar 130 ribu.

“Lulusan dokter setahunnya sekitar 12 ribu orang. Untuk memenuhi kekurangan 130 ribu dokter, butuh sedikitnya 10 tahun atau lebih untuk mengejar ketertinggalan jumlah dokter minimal sesuai standar WHO, untuk melayani 270 juta masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Salah satu strategi percepatan pendayagunaan nakes, Kemkes membuat Program Bantuan Pendidikan. Hal itu sejalan dengan Surat Edaran Nomor HK. 02.02/I/1050/2022 tentang Rekrutmen Program Bantuan Pendidikan Dokter Spesialis-Dokter Gigi Spesialis Angkatan ke-29 dan Dokter Subspesialis Angkatan ke-11 Kemkes tahun 2022.

“Bantuan pendidikan ini menjadi bagian dari implementasi transformasi sistem kesehatan pilar kelima yakni transformasi Sumber Daya Manusia Kesehatan,” katanya.

Bantuan pendidikan PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis) dan PPDGS (Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis) untuk aparatur sipil negara (ASN) dan Non-ASN dengan latar belakang pendidikan di Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi mitra Kementerian Kesehatan.

Calon peserta bantuan pendidikan diutamakan untuk 7 program spesialis yang direkomendasikan rumah sakit Pemerintah yang membutuhkan, terutama layanan penyakit prioritas dan berkomitmen untuk mendayagunakan setelah selesai pendidikan.

Adapun jenis kepesertaan lain yang diusulkan adalah calon peserta dari Dinas Kesehatan Provinsi, UPT Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertahanan -TNI/Polri dan calon peserta pasca penugasan Nusantara Sehat.

Menkes minta pada nakes untuk memanfaatkan kesempatan itu dengan baik untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Selain pemberian bantuan pendidikan, Kemkes bersama Ditjen Diktiristek, Kemdikbudristek menyelenggarakan Program Bantuan Biaya Pendidikan yang dananya dari LPDP.

Pendaftaran PBP dibuka pada 6-26 Juni 2022, yang dapat diakses melalui laman bandikdok.kemkes.go.id.

Syarat calon peserta dan alur pengusulan hingga proses penetapan Penerima Bantuan Pendidikan bisa dilihat di tautan berikut https://bit.ly/bandikdok-ebook

Tahapan seleksi dilakukan pada 27 Juni sampai 8 Juli 2022, dimana proses verifikasi awal dilakukan di tiap instansi pengusul yaitu Biro ODSM Kemenkes/Kemenhan-TNI/Polri dan Dinkes Provinsi. Seleks dilanjutkan lewat verifikasi tingkat pusat yang dilakukan Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan Kemkes.

Peserta yang lolos seleksi, langkah selanjutnya adalah penetapan penerima bantuan oleh Direktur Jenderal Tenaga Kesehatan Kemkes. Setelah penetapan, mahasiswa bisa memulai perkuliahan sesuai masing-masing institusi. (Tri Wahyuni)