Kemkominfo Beri Literasi Digital bagi ASN Provinsi Banten

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bekerja sama Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Dalam Negeri menggelar kegiatan literasi digital pada sektor pemerintahan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di Provinsi Banten.

Dalam siaran pers yang dikeluarkan, Senin (10/10/22) disebutkan, kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid (online dan offline) itu diikuti sekitar 18 ribu ASN yang terbagi dalam beberapa sesi acara.

Ketua Tim Literasi Digital Pemerintahan, Niki Maradona yang hadir mewakili Direktur Pemberdayaan Informatika Kemkominfo menjelaskan, kegiatan itu guna meningkatkan pemahaman literasi digital bagi ASN, sebagai salah satu target nasional Kemkominfo menuju transformasi digital di Indonesia.

“Partisipasi ASN dalam kegiatan ini diharapkan jadi pendorong terciptanya Indonesia Makin Cakap Digital,” ujarnya.

Karena hasil Survei Indeks Literasi Digital Nasional oleh Kemkominfo dan Katadata Insight Center pada 2021 menunjukkan skor atau tingkat literasi digital masyarakat Indonesia sebesar 3.49 dari 5.00 atau masul kategori ‘sedang’.

“Kami berharap kegiatan Literasi Digital dapat meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan kecakapan atas penggunaan teknologi digital pada ASN. Dampaknya akan terlihat pada kualitas pelayanan sektor publik di masyarakat,” ujarnya.

Kepala Bagian BPSDM Provinsi Banten, Untung Sarutomo dalam sambutannya menyampaikan, ASN saat ini harus menerima digitalisasi pada proses kerjanya, agar lebih produktif. Selain dapat memanfaatkan proses digitalisasi secara positif.

“Era digitalisasi saat ini harus bisa jadi sarana untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat sesuai motto kita yakni Berakhlak,” katanya.

Kepala BPSDM Kementerian Dalam Negeri, Sugeng Hariyono menyatakan, ruang digital yang ada saat ini memiliki dua sisi, yakni peluang dan tantangan. Hal itu bisa dimanfaatkan secara optimal melalui pendekatan literasi.

“Diharapkan literasi digital dapat membantu kita untuk memiliki visi serta pemahaman yang lebih jelas di era digital, sehingga bisa lincah dalam menghadapi perubahan dengan pendekatan keahlian yang tepat,” ucapnya.

Kegiatan dibagi dalam 4 sesi yang berisi materi mengenai kecakapan digital, keamanan digital, budaya digital dan etika digital.

Sesi pertama disampaikan praktisi digital content creator, Gatot Sandi. Etika digital saat ini penting bagi ASN, karena mereka dituntut menjadi role model atau panutan untuk tidak menyebarkan hoaks.

“Etika digital berkaitan erat dengan Netiket atau cara yang benar dalam berkomunikasi dengan seseorang atau khalayak di internet. Kita harus menyadari bahwa kita semua ini manusia,” ujarnya.

Menurut Gatot, bersikap kritis itu boleh tapi jangan merendahkan orang lain. Pentingnya menjaga privasi orang lain. “Hanya karena kita punya gawai, bukan berarti kita bebas merekam apa pun dan siapa pun, lalu mengunggahnya ke internet hanya karena mau viral atau FOMO (Fear of Missing Out),” ujar Gatot.

Pada sesi selanjutnya, Widyaiswara Ahli Madya BPSDM Kemendagri, Wawan Hermawan menyampaikan materi budaya digital. Generasi yang tumbuh dengan akses tidak terbatas dalam teknologi digital memiliki pola berpikir yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

“Setiap orang hendaknya dapat bertanggung jawab atas interaksi lewat digital dengan lingkungan sekitarnya, dimana ada aspek budaya yang perlu diperhatikan,” katanya.

Digital culture atau budaya digital adalah satu pilar literasi digital, diyakini dapat membuat individu membaca, membiasakan, dan membangun wawasan kebangsaan, nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, aktivitas di ruang digital harus dimanfaatkan sebagai praktek berbudaya seperti saling menghargai perbedaan pendapat, menyebarkan konten positif, santun dan bermartabat, menciptakan ruang diskusi yang sehat, dan mempromosikan gaya hidup yang berkualitas.

Materi berikutnya tentang keamanan digital disampaikan Hari S Noegroho. Hari memahami risiko keamanan digital, tugas ASN menjadi lebih aman. Pengamanan digital untuk mencegah kebocoran data, penipuan, dan lainnya yang disebabkan penggunaan media sosial, media digital dan e-commerce.

“Jika kita sudah memahami risikonya, maka kita juga makin tahu apa yang perlu diamankan dengan meningkatkan kewaspadaan saat bermedia sosial,” katanya.

Ditambahkan, pencurian data bisa dilakukan secara digital. Karena itu, kita perlu berhati-hati. Kenali aplikasi yang terpasang di gawai, hapus aplikasi yang tidak dikenal, serta pasang aplikasi proteksi yang legal agar handphone kita tidak terkena virus.

Sesi terakhir tentang kecakapan digital yang disampaikan Cahyo Edhi Widyatmoko. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa keterampilan digital ASN tak hanya mampu mengoperasikan alat, tapi juga mampu bermedia digital dengan penuh tanggung jawab.

“ASN juga harus mampu untuk mengetahui, memahami dan menggunakan perangkat keras dan piranti lunak TIK serta sistem operasi digital,” ujarnya.

ASN juga perlu memahami gangguan komunikasi seperti misinformasi, disinformasi dan malinformasi. ASN dapat memanfaatkan beberapa tools untuk menghadapi gangguan komunikasi ity melalui cekfakta.com, turnbackhoax.id, aplikasi hoax buster tools.

Selanjutnya melaporkan informasi hoaks itu ke www.lapor.go.id dan layanan.kominfo.go.id. (Tri Wahyuni)