Kemkominfo Gelar Literasi Digital bagi Disabilitas Kota Surabaya

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi (GNLD) menggelar kegiatan untuk memperkuat literasi digital bagi penyandang disabilitas kota Surabaya.

Kegiatan berupa Kelas Podcast Disabilitas, yang diselenggarakan secara offline di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Kampus Ketintang dan Kampus Lidah Wetan, Kota Surabaya.

Dalam siaran pers yang diterima dari Kemkominfo, Minggu (2/10/22) disebutkan, kegiatan tersebut juga merupakan kolaborasi Kemkominfo dengan Paberik Soeara Rakjat, Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Kece Media UNESA, Divisi Difabel UNESA serta didukung platform podcast Spotify dan Anchor.

Kelas tersebut diikuti 280 peserta yang merupakan penyandang disabilitas netra, rungu, wicara, dan daksa. Diharapkan, para penyandang disabilitas memiliki kecakapan literasi digital demi terciptanya masyarakat Indonesia yang inklusif.

Karena, Survei Indeks Literasi Digital Nasional Indonesia yang diselenggarakan Kemkominfo dan Katadata Insight Center pada 2021 menunjukkan Indonesia berada pada kategori ‘sedang’ di kisaran angka 3.49 dari 5.00.

Untuk itu, Kemkominfo perlu upaya meningkatkan indeks literasi digital bagi kelompok rentan, terutama penyandang disabilitas. Materi Kelas Podcast bagi Disabilitas meliputi 4 pilar utama literasi digital, yaitu kecakapan digital, etika digital, budaya digital, dan keamanan digital.

Kelas Podcast Disabilitas menghadirkan Dodi Susetiadi yang memiliki sederet jabatan seperti podcaster, penyiar dan trainer komunitas Sahabat Difabel Semarang; CEO Paberik Soeara Rakjat, Pradipta Nugrahanto; podcaster tunanetra dan trainer disabilitas, Albert Wijaya; Sound Engineer Paberik Soeara Rakjat, Raden Rully; dan Tim Podcast Paberik Soeara Rakjat, Rena.

Materi yang disampaikan meliputi public speaking, pengenalan dan pelatihan produksi podcast seperti dasar produksi, penggunaan aplikasi, teknik vokal dan presentasi hingga berbagai ide untuk membuat podcast.

Kegiatan dibuka oleh Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Hukum UNESA, Wiwik Sri Utami. Ia berharap podcast dapat digunakan oleh penyandang disabilitas agar lebih produktif.

“Saat ini semua serba digital, media sosial sudah menjadi bagian dari kita semua. Podcast kini menjadi salah satu media baru yang bisa digunakan untuk lebih produktif dengan membuat konten yang bermanfaat,” ujarnya.

Hal senada dikemukalan Wakil Rektor Bidang Perencanaandan Kerjasama UNESA, Sujarwanto. Ia berharap makin banyak kolaborasi dilakukan untum bergerak bersama menggelar kegiatan yang ramah disabilitas.

“Kegiatan ini sangat penting untuk mendukung Indonesia lebih inklusif, melek digital dan makin cakap digital. Mudah-mudahan kegiatan ini bisa memberi perspektif baru,” ujarnya.

Dodi Susetiadi menyampaikan materi dasar public speaking untuk membangkitkan kepercayaan diri para peserta. Orang tidak percaya diri karena beragam faktor, seperti trauma masa lalu, lingkungan sekitar yang tidak mendukung, overthinking atau dengan memikirkan hal-hal yang belum terjadi.

“Tunjukkan kreasi kita agar masyarakat tahu bahwa disabilitas pasti ada kelebihan,” tegasnya.

Rasa percaya diri, lanjut Dodi, didukung pengalaman serta teknik vokal merupakan modal penting dalam membuat konten podcast.

Pada kesempatan yang sama, Pradipta Nugrahanto menjelaskan materi tentang pentingnya latihan teknik suara atau vokal agar kita terbiasa dengan suara kita sendiri dan melenturkan otot muka kita.

Albert Wijaya mengatakan, podcast membuat orang lebih mudah mendengarkan cerita penyandang disabilitas, karena bisa diputar di mana saja dan kapan saja. Bahkan bisa didengarkan secara terus menerus.

“Teman-teman netra dan disabilitas sering banget menyimpan kisah ceritanya sendiri, nah kenapa nggak dibagikan. Kenapa nggak dibuat episode podcast aja,” ujarnya.

Raden Rully membahas alat-alat yang digunakan dalam produksi podcast. Dalam perkembangannya, podcast tidak hanya berupa audio tapi juga video. Hal itu merupakan peluang bagi disabilitas tunarungu untuk ikut produksi video podcast.

Beberapa peserta tunarungu dengan antusias mempraktekkan pembuatan podcast dengan menggunakan bahasa isyarat, dimana output audio langsung dapat didengarkan oleh peserta lain.

Kegiatan Kelas Podcast Disabilitas merupakan rangkaian kegiatan program Indonesia Makin Cakap Digital yang memberi literasi digital bagi 50 juta orang Indonesia. Program yang diinisiasi Kemkominfo tersebut dilakukan bertahap hingga 2024.

Adapun Informasi lebih lanjut mengenai literasi digital segmen kelompok masyarakat dapat diakses melalui media sosial Instagram @siberkreasi, @literasidigitalkominfo atau website info.literasidigital.id. (Tri Wahyuni)