Kemkominfo Gelar ToT Literasi Digital bagi ASN Kemdikbudristek

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menggelar kegiatan ‘Training of Trainers’ (ToT) literasi digital bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kementerian Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek)

Kegiatan tersebut untuk melatih pelatih (trainer) literasi digital di lingkungan pemerintahan pada 2023 mendatang. Kegiatan diikuti 30 orang secara luring di Sentul, Jawa Barat, akhir pekan lalu.

Kegiatan itu juga bagian dari upaya meningkatkan literasi digital secara kognitif dan praktis bagi ASN menuju transformasi digital Indonesia.

Karena kapasitas masyarakat Indonesia dalam literasi digital merujuk pada hasil Survei Indeks Literasi Digital Nasional yang dilakukan Kemkominfo dan Katadata Insight Center pada 2021 menunjukkan skor 3.49 dari 5.00 atau masuk dalam kategori ‘sedang’.

Direktur Pemberdayaan Informatika Kemkominfo yang diwakili Ketua Tim Literasi Digital Segmen Pemerintahan, Niki Maradona dalam sambutannya berharap kegiatan ToT dapat meningkatkan kompetensi ASN dalam literasi digital.

“Para trainer literasi digital di Kemdikbudristek ini nantinya akan mendorong ASN mengadopsi teknologi digital untuk meningkatkan pelayanan publik,” katanya.

Hanjar Basuki selaku Analis Kebijakan Ahli Madya yang datang mewakili Pelaksana tugas (Plt) Kepala Biro Sumber Daya Manusia (SDM) Kemdikbudristek memberi apresiasi kepada Kemkominfo atas kegiatan ToT tersebut.

“Diharapkan para trainer ini nantinya dapat menyalurkan ilmu tentang literasi digital ke seluruh pegawai Kemdikbudristek demi mengawal program-program Kementerian/Lembaga untuk mendukung visi misi Presiden,” ucap Hanjar.

Sesi pertama kegiatan membahas Keterampilan dan Keselamatan Digital oleh dua praktisi literasi digital, yaitu Teddy Sukardi dan Mohammad Iqbal.

Teddy Sukardi berbicara soal perangkat keras dan perangkat lunak teknologi digital. Para ASN diharapkan dapat memahami perangkat tersebut untuk memudahkan pekerjaan.

“ASN harus paham penggunaan perangkat dan aplikasi. Hal itu dapat digunakan untuk mengembangkan konten digital dalam konteks bidang pekerjaan,” tutur Teddy.

Sementara itu, Mohammad Iqbal mengenalkan aplikasi yang dapat digunakan untuk menunjang pekerjaan serta praktik dalam penggunaannya.

Materi selanjutnya terkait Etika Digital bagi ASN yang diisi Cahyo Edhi Widyatmoko dan Tri Hadiyanto Sasongko. Cahyo membawakan materi tentang pentingnya peran ASN dalam penyampaian etika digital kepada masyarakat.

“Etika digital merupakan jenis soft skill yang menjadi tantangan bagi ASN karena berperan untuk menyadarkan netizen bahwa dunia maya itu juga butuh etika,” tutur Cahyo seraya menambahkan situs lapor.go.id dan layanan.kominfo.go.id sebagai medium pengaduan publik.

Materi dilanjutkan Tri Hadiyanto Sasongko yang membahas peran media sosial di sektor pemerintahan. ASN harus memahami hal-hal yang boleh dan dilarang dalam dunia digital.

“Dunia virtual itu membutuhkan kehati-hatian. Ada sanksi bagi ASN yang menyampaikan pendapat dengan ujaran kebencian di sosmed. Hal itu dikategorikan pelanggaran berat,” kata Tri.

Materi tentang keamanan digital disampaikan dua narasumber, yaitu Andri Johandri dan Hari Singgihnugroho. Andri menjelaskan maraknya kebocoran dan pencurian data di era teknologi informasi seperti saat ini.

“Dunia internet itu rawan diretas. Tidak ada yang bisa menjamin keamanan data. Bahkan sekarang kita bisa melihat banyak domain universitas [.ac.id] yang diretas para hacker,” ucapnya.

Andri juga menambahkan, setiap orang harus membekali diri dengan kemampuan digital sehingga bisa mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Hari Singgih Nugroho melanjutkan materi Keamanan Digital dalam konteks pentingnya privasi data dan informasi. Karena kedaulatan informasi terkadang dianggap tidak terlalu penting untuk dipertahankan. Padahal informasi merupakan aset yang sangat penting.

“Informasi harus dilindungi karena sebetulnya target pencurian dari peretasan adalah informasi yang kita miliki,” jelasnya.

Di hari selanjutnya, Dr Istiani menyampaikan materi tentang Budaya Digital di Sektor Pemerintahan. Transformasi digital selalu bicara tentang manusia, bukan teknologi.

“Hard skill bisa dipelajari, namun hal yang berkaitan dengan manusia itu kompleks. Jadi kita harus bisa menelaah dengan pendekatan psikologi,” ujarnya.

Sesi dilanjutkan oleh Dr Irene Camelyn Sinaga dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dengan materi tentang Ideologi Pancasila.

Tak hanya 4 pilar literasi digital dan pembinaan ideologi Pancasila, para peserta juga dibekali materi tentang Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan Perlindungan Data Pribadi (PDP) oleh Teddy Sukardi.

“Tujuannya, agar peserta tahu regulasi yang berkaitan dengan era digital,” ucap Teddy.

Kegiatan Literasi Digital segmen Pemerintahan merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam program Indonesia Makin Cakap Digital yang diinisiasi Kemkominfo. Kegiatan tersebut menyasar 50 juta orang Indonesia hingga 2024. (Tri Wahyuni)