Kemkumham Pelajari Kemungkinan Masuknya Materi HAM Jadi Mata Pelajaran di Sekolah

0
Dirjen HAM Kemkumham, Mualimin Abdi

JAKARTA (Suara Karya): Direktorat Jenderal Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum dan HAM (Ditjen HAM Kemkumham) berencana memasukkan materi soal hak asasi manusia sebagai materi pelajaran di sekolah. Hal ini dilakukan, dalam rangka upaya membangun kesadaran dan pemahaman akan pentingnya menghormati HAM di kalangan pelajar.

Terkait rencana ini, Dirjen HAM Kemkumham, Mualimin Abdi mengaku akan melakukan kunjungan ke Kementerian Pendirian dan Kebudayaan (Kemdikbud) untuk menggali sejauh mana mata pelajaran HAM bisa masuk dalam mata pelajaran.

“Kami akan coba berdiskusi dengan Kemdikbud, kita akan gali sejauh mana mata pelajaran HAM bisa masuk dalam mata pelajaran,” kata Mualimin, di sela-sela Final Lomba Cerdas Cermat HAM tingkat SMA di Gedung Kemkumham, Jakarta, Minggu (9/12/2018).

Dia merasa yakin bahwa materi HAM bakal berdampak positif pada pembangunan karakter pelajar. Dengan demikian, tidak ada lagi perundungan, tawuran atau kekerasan lainnya di kalangan pelajar.

“Kalau ini diimplementasikan, saya yakin anak-anak sekolah bisa mengetahui dan memahami mengenai HAM. Dulu ada pelajaran budi pekerti, pada dasarnya kan bagaimana saling menjaga, tidak saling bully, kekerasan dan seterusnya. Kalau ini bisa terimplementasi ini langkah maju terutama di level SMA dan sederajat. Kalau di tingkat kuliah beda lagi treatment-nya,” paparnya.

Cerdas cermat yang digelar Ditjen HAM merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari HAM se-dunia ke-70. Pada babak final yang digelar, Minggu (9/12), SMA 1 Wonosobo meraih juara pertama dengan mengungguli tim dari lima sekolah lainnya. Menurut Mualimin, perlombaan cerdas cermat ini merupakan bagian dari membangun pemahaman untuk menghormati HAM kepada para pelajar.

“Kalau menghormati HAM dan menaati hukum kami berharap tidak akan ada bully, tawuran, atau melakukan kekerasan. Anak-anak sekolah juga saling hormati. Apa yang menjadi program pemerintah dengan revolusi mental bisa terlaksana dengan baik. Pada dasarnya penyelenggaraan seperti ini adalah juga dalam rangka salah satu mengubah atau mengimplementasikan revolusi mental yang dicanangkan pemerintah,” katanya.

Untuk itu, Ditjen HAM berencana menjadikan para pelajar yang masuk babak final lomba cerdas cermat ini sebagai Duta HAM. Dengan wawasan yang dimiliki selama mengikuti perlombaan, para pemenang ini diharapkan dapat menerapkan penghormatan terhadap HAM bahkan turut membangun kesadaran mengenai HAM di daerah atau setidaknya di sekolah masing-masing.

“Saya sudah bicara dengan Kakanwil. Apa yang bisa dimanfaatkan dari kawan-kawan yang sudah juara ini, saya akan minta para Kepala Kantor Wilayah untuk menindaklanjutinya,” katanya. (Gan)