Kemristekdikti Ajak Swasta Kembangkan Produk Berpotensi Brand Nasional

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) mengajak kalangan swasta untuk mengembangkan produk yang berpotensi jadi brand nasional. Keterlibatan swasta tidak diakhir riset, melainkan pada seluruh proses.

“Supaya dana risetnya tak mubazir, swasta dilibatkan sejak awal sekali. Mereka juga akan diberi insentif pajak,” kata Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan, Kemristekdikti, Muhammad Dimyati pada peluncuran National Expo for Science and Technology (NEST) 2019 di Jakarta, Rabu (17/7/2019).

Ditambahkan, NEST 2019 juga bagian dari pengembangan produk menuju brand nasional. Dalam NEST digelar banyak kegiatan mulai dari pameran produk, talkshow, lomba, pameran virtual dan acara penganugerahan. “Swasta yang tertarik bisa langsung datang ke NEST untuk melihat hasil penelitian yang bisa diajak kolaborasi,” ujarnya.

Produk yang dipamerkan dalam NEST 2019, lanjut Dimyati, merupakan hasil riset dari 45+6 produk Prioritas Riset Nasional (PRN). Dengan demikian, pengembangan produk tak lagi dilakukan dari awal. Sehingga pelaksanaan riset jadi lebih efektif dan efisien.

“Swasta tinggal pilih mana produk-produk yang akan dikomersilkan. Pengembangan produk tinggal jalan, tak perlu masuk dari awal. Namun sayang, swasta tampaknya kurang tertarik dengan skema ini. Perlu upaya lebih kerja lagi dari kita semua,” ucapnya menegaskan.

Ditambahkan, NEST juga bertujuan untuk meningkatkan budaya riset. Hal itu ditandai dengan pemberian penghargaan bagi pelaku Iptek. Acara itu juga memamerkan hasil penelitian litbang kementerian. Diharapkan hasil penelitian itu dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan industri.

“Hasil litbang yang ditampilkan merupakan hasil riset terbaik karya anak bangsa dalam 5 tahun terakhir. Dengan begitu, seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat dapat melihat hasil dari dana riset yang dikeluarkan pemerintah,” katanya.

Dimyati menekan pentingnya meyakinkan para stakeholders dan masyarakat akan pentingnya riset bagi kemajuan bangsa. Hasil riset identik dengan aset tak berwujud. Saat ini, aset dunia didominasi oleh aset tak berwujud.

“Perbandingannya bisa mencapai 70 persen aset tak berwujud, dan 30 persen aset berwujud,” katanya.

Dimyati berharap Indonesia memiliki pameran tahunan berkualitas yang produknya ditunggu-tunggu masyarakat. “Kedepan, Indonesia memiliki ruang pamer riset yang dapat menampilkan hasil riset terbaik peserta dari berbagai negara,” ucapnya.

Terkait anugerah riset, Dimyati berharap pemberian penghargaan semacam itu dapat memacu pelaku iptek untuk lebih bersemangat lagi, demi kemajuan bangsa dan negara. Anugerah yang diberikan meliputi Sinta Awards untuk penulis artikel ilmiah dan pengelola jurnal terbaik.

“Masih ada anugerah lain yaitu penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan teknologi industri, mitra kerja penelitian asing, sampai pada anugerah kekayaan intelektual,” kata Dimyati.

NEST 2019 bakal digelar pada 12-14 September 2019 di Jakarta Convention Center (JCC). Beberapa instansi sudah mengkonfirmasi keikutsertaan dalam NEST 2019, antara lain, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Institut Pertanian Bogor (IPB), CTECT Edwar Tech Lab, dan PT Regio Aviasi Industri. (Tri Wahyuni)