Kemristekdikti Bakal Coret Nama Ilmuwan Diaspora yang Minim Kontribusi

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) tak akan mengajak lagi ilmuwan diaspora yang minim kontribusi dalam pengembangan riset di Tanah Air. Hal itu dilakukan agar anggaran yang dikeluarkan pemerintah memberi manfaat.

“Kita nanti akan evaluasi. Jika tak mampu berkontribusi, nama ilmuwan diasporanya akan dicoret. Kalau mau datang, silakan saja tetapi pakai dana sendiri,” kata Dirjen Sumber Daya Iptek dan Pendidikan Tinggi (SDID), Kemristekdikti, Ali Ghufron Mukti dalam acara opening dinner sekaligus pembentukan organisasi ilmuwan diaspora di Jakarta, Minggu (18/8/2019).

Acara tersebut merupakan bagian rangkaian kegiatan Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) 2019. SCKD yang diikuti ilmuwan Indonesia yang berkarir di kampus luar negeri itu telah digelar dalam 4 tahun terakhir ini. Kegiatan itu dilaksanakan untuk pengembangan riset di Tanah Air.

Ali Ghufron menyebut 6 kontribusi yang harus dipenuhi ilmuwan diaspora agar bisa aktif dalam SCKD. Pertama, dari segi kolaborasi yang terbangun antara diaspora dengan ilmuwan dalam negeri. Kedua, dari jumlah riset bersama (joint research) yang dihasilkan.

“Lalu kita lihat apakah ada publikasi bersama (joint publication) di jurnal internasional bereputasi. Dan keempat, apakah ada hasil dari proposal yang bisa menarik dana dari luar negeri,” ujarnya.

Selain itu, Ghufron menambahkan, diaspora didorong menjadi jembatan bagi ilmuwan lokal, agar bisa memanfaatkan fasilitas dan laboratorium di tempat diaspora bekerja di luar negeri.

SCKD tahun ini diikuti 52 diaspora dari 15 negara. Ghufron berharap tahun ini tingkat kontribusi diaspora Indonesia meningkat dibandingkan tahun lalu. Sebab, Indonesia kaya akan sumber daya potensial yang bisa diglobalisasikan.

“Tahun lalu yang tidak berkontribusi sangat kecil, di bawah 20 persen. Semua memang berkontribusi, cuma kalau tidak sangat signifikan, tidak kami undang lagi,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, organisasi
Ikatan Ilmuan Indonesia Internasional (I-4) yang diketuai ilmuwan diaspora Deden Rukmana memberi penghargaan kepada Dirjen SDID Kemristekdikti Ali Ghufron Mukti. Ali Ghufron dinilai pantas mendapat penghargaan karena memiliki dedikasi dalam mengembangkan I-4.

“Dirjen Ali Ghufron layak menerima penghargaan karena visi besarnya melalui SCKD, hingga mampu merangkul para ilmuwan diaspora yang tersebar di berbagai negara,” ucap Deden Rukmana.

Ia menambahkan program SCKD pun kini menjadi rumah bagi ilmuan diaspora, yang ingin memberi kontribusinya kepada negara. “Lewat SCKD, kami jadi punya rumah unruk bersinergi dan berbagi agar Indonesia bisa menjadi bangsa lebih maju,” katanya menegaskan.

Dirjen Ali Ghufron pun berterimakasih atas penghargaan yang diterimanya. Bahkan ia pun kaget. “Dunia ini penuh kejutan, termasuk I-4 yang memberi penghargaan ini,” ujarnya. (Tri Wahyuni)