Kemristekdikti Gelar Kompetisi Film Dokumenter Penerima Bidikmisi

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) bersama Eagle Institute Indonesia menggelar kompetisi film dokumenter tentang perjuangan penerima beasiswa Bidikmisi. Film itu diharapkan menginspirasi anak keluarga miskin untuk tetap memiliki cita-cita dan harapan yang tinggi.

“Kami ingin anak Indonesia belajar dari pengalaman para penerima beasiswa Bidikmisi dalam meraih impian, meski hidup serba susah,” kata Menristekdikti Mohamad Nasir usai menonton sekaligus mengumumkan pemenang kompetisi dokumenter penerima Bidikmisi di Jakarta, Minggu (13/10).

Hadir dalam kesempatan itu, Direktur Utama Metro TV Suryo Pratomo, sutradara Riri Riza, aktris dan produser film, Christine Hakim serta Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kemristekdikti Ismunandar.

Tiga film dokumenter terbaik, lanjut Nasir, akan diedarkan secara bergiliran ke perguruan tinggi seluruh Indonesia. Pertunjukan film tersebut hendaknya terbuka untuk siswa di sekitar kampus. Sehingga pesan tersebut sampai ke masyarakat.

“Beasiswa Bidikmisi ini merupakan salah satu program prioritas pemerintah agar makin banyak anak Indonesia yang duduk di perguruan tinggi,” ujarnya.

Nasir berharap tahun depan siswa pemilik Kartu Indonesia Pintar (KIP) mendaftar ke KIP Kuliah, yaitu pengembangan Program Bidikmisi yang diselaraskan dengan program KIP. Jumlah biaya hidup dan penerima dibuat lebih banyak.

“Agar program tetap sasaran, kampus akan melakukan cek lapangan atau visitasi guna memastikan penerima KIP Kuliah belum berubah status ekonomi keluargnya. Karena bisa saja, usaha keluarga sudah membaik sehingga tak layak lagi dapat beasiswa,” tuturnya.

Disebutkan penerima beasiswa Bidikmisi pada 2019 ada sekitar 130 ribu orang. Jumlahnya akan ditingkatkan menjadi sekitar 400 ribu mahasiswa pada 2020. “Penambahan kuota beasiswa itu termasuk didalamnya program KIP Kuliah,” ucap Menristekdikti.

Ditambahkan, penerima beasiswa Bidikmisi selain dibebaskan dari biaya kuliah, juga dapat biaya hidup bulanan. Tahun ini, pemerintah menaikan besaran biaya hidup dari Rp650 ribu menjadi Rp700 ribu per orang per bulan.

“Biaya Rp700 ribu memang belum ideal. Tetapi, menurut saya hal itu sudah membantu. Dan dana yang dikeluarkan pemerintah untuk program beasiswa ini mencapai Rp6 triliun,” katanya.

Menristekdikti mengakui dari ratusan ribu mahasiswa dan alumni Bidikmisi, ada banyak kisah inspiratif yang belum dieksplorasi. Salah satunya kisah mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana (Undana) yang ditemui disela kunjungan kerja di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Orang tua menahan anaknya untuk kuliah karena tak punya uang sama sekali. Tetapi guru sekolahnya terus mendorongnya, hingga akhirnya bisa kuliah di FK Undana sampai lulus dan praktik di Puskesmas,” tuturnya.

Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kemristekdikti, Ismunandar menjelaskan, pihaknya menerima 120 proposal film. Para pembuat film itu, lalu diseleksi sutradara Riri Riza dan Gerzon Ayawaila serta sosiolog Universitas Indonesia Meuthia Ganie Rochman. Akhirnya terpilih 10 cerita yang dikemas menjadi 70 menit dalam satu kesatuan antologi film dokumenter.

Disebutkan, film dokumenter terbaik pertama diraih sutradara Wisnu Dwi P berjudul Sarjana Pelunas Janji Kemerdekaan. Film tersebut berkisah tentang Clara (24) yang menjadi guru di Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung. Perjuangannya tak mudah karena ada stigma yang menyebut pendatang akan merusak kampung yang ditinggalinya.

Posisi terbaik kedua diraih sutradara Morsed lewat film berjudul Mimpi Diatas Kursi Roda. Film tersebut bercerita tentang penyandang disabilitas bernama Quratta Ayuna Adrianus yang kuliah di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia dan berhasil menciptakan aplikasi untuk mempermudah mobilitas para penyandang disabilitas.

Dan pemenang ketiga diraih sutradara Ani Ema Susanti lewat film berjudul Rubah di Selatan. Kisah tentang Ronie, mahasiswa Institute Seni Indonesia yang mendirikan band bernama Rubah di Selatan, bersama ketiga temannya Melinda, Gilang dan Adnan. Kepopuleran musik etnik oleh Rubah di Selatan menjawab kerja keras yang mereka lakukan selama ini. (Tri Wahyuni)