Kemristekdikti Tantangan Kampus bantu Regenerasi Petani

0

JAKARTA (Suara Karya): Perguruan tinggi memainkan peran penting dalam menghasilkan sumber daya manusia (SDM) sektor pertanian pangan. Regenerasi itu perlu karena data Badan Pusat Statistik (BPS) 2013 menunjukkan umur petani didominasi usia di atas 45 tahun.

“Tak hanya dari segi usia, jumlah petani pun merosot secara berkelanjutan dari 36 juta orang pada 2012 menjadi sekitar 35 juta pada 2016,” kata Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Ali Ghufron Mukti di Jakarta, Senin (18/3/2019).

Hadir dalam kesempatan Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Arif Satria, Staf Ahli Bappenas, Bambang Priambodo, Anggota Dewan Pendidikan Tinggi yaitu Benyamin Lakitan dan Aman Wirakatakusumah dan Guru Besar dari Universitas Lampung, Bustanul Arifin.

Dalam diskusi bertajuk “Relevansi Pengembangan SDM Iptek dan Dikti Terhadap Pembangunan Nasional Sektor Pertanian Pangan”, Guru Besar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menambahkan, berbagai upaya akan dilakukan pemerintah untuk menarik minat kalangan muda bekerja di bidang pertanian.

“Jumlah penyuluh pertanian saat ini sangat sedikit, dibanding sebaran jumlah petani. Begitu pun masalah kompetensi di usaha pertanian subsistem,” ucap Ali Ghufron.

Untuk itu, lanjut Ali Ghufron, pihaknya akan menggandeng sejumlah perguruan tinggi dalam penguatan SDM sektor pertanian. Namun, tantangan untuk mencapai hal itu juga cukup tinggi. Salah satunya, proporsi SDM bergelar doktor dan guru besar masih rendah, termasuk di perguruan tinggi negeri terkemuka.

“Di kampus IPB sendiri, baru 17 persen proporsi SDM bergelar doktor atau guru besar. Begitu pun di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan UGM dengan besaran prosentase sebesar 13 persen dan 12 persen,” tuturnya.

Tantangan lain, Ali Ghufron menyebutkan, terkait relevansi. Pasalnya, data analisis grand design, terjadi ketidakselarasan lulusan dengan dunia kerja pada jenjang D-1 dan D-2 sebesar 58,3 persen. Di jenjang D-3 sebesar 51,40 persen, dan jenjang D-4 dan S-1 sebesar 41,1 persen.

“Ketidakselarasan lulusan pendidikan tinggi dengan penyerapan tenaga kerja inilah yang menjadi pekerjaan rumah pemerintah,” katanya.

Ditambahkan, masalah akses pendidikan juga menjadi fokus di Kemenristekdikti. Dosen pertanian masih banyak yang berkumpul di pulau Jawa. Bahkan, dosen dengan gelar doktor sebanyak 1.849 orang tinggal di pulau Jawa.

“Di Kalimantan, jumlah doktor pertanian hanya 10 orang, sedangkan di Sumatera ada 91 orang. Malah di Maluku belum ada. Disparitas penyelenggaraan program berkualitas pun menjadi tinggi,” ujarnya.

Meski memiliki banyak tantangan, Dirjen Ghufron optimia, Indonesia dapat menjadi negara yang memiliki ketahanan dan kedaulatan pangan. Semua itu dimulai dari proses produksi SDM bidang pertanian pangan.

“Jika diperlukan, pendidikan di bidang pertanian pangan dibuat seperti kuliah kedokteran, yakni ada masa internship berupa pendampingan dengan petani. Pada masa itulah, transfer pengetahuan dan teknologi dilakukan sehingga petani dapat mengolah lahan secara modern,” katanya.

Hal senada dikemukakan Rektor Universitas Yarsi, Fasli Jalal. Menurutnya, guna menarik kalangan muda mencintai pertanian harus muncul role model. Peran itu dapat dimulai lewat profil dosen dan guru SMK pertanian yang sukses dalam berkarir di sektor pertanian pangan.

“Ini langkah yang baik, bisa menjadi rujukan bagi sekolah, kampus, pemda, dan industri. Sudah ada upaya Pemerintah untuk memikirkan jumlah SDM yang diperlukan dalam bidang pertanian mulaindari hulu hingga hilir,” kata Fasli yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Pendidikan Nasional itu. (Tri Wahyuni)