Kenali Jati Diri Kota Solo di Galeri Sejarah Surakarta

0
Pemilik Yayasan Warna Warni Indonesia (WWI),Krisnina Maharani Akbar Tanjung

JAKARTA (Suara Karya): Untuk pertama kalinya di Kota Surakarta, hadir Galeri Sejarah Surakarta. Galeri yang terletak di Rumah Budaya Kratonan ini, terbagi dalam sejumlah ruangan, yakni Pendopo, ruang nDalem, Senthong, dan ruang Merah atau ruang Gadri. Lewat displai di ruang-ruang itu, pengunjung diajak mengenal sejarah Surakarta.

Galeri Sejarah Surakarta didirikan dengan semangat menumbuhkan rasa peduli untuk mengenal jati diri kota yang menjadi salah satu penanda kemajuan bangsa Indonesia.

Semangat cinta sejarah ini, dikemas oleh Krisnina Maharani Akbar Tanjung dalam bentuk displai narasi sejarah yang membumi untuk masyarakat, khususnya para pemuda dan pemudi, generasi penerus bangsa.

Beberapa tahun lalu, pimpinan Yayasan Warna Warni Indonesia (WWI) ini menulis buku berjudul ‘Keraton Kasunanan: Kisah Kebangsaan dari Solo’, yang diluncurkan di Museum Fatahillah Jakarta. Buku setebal 210 halaman itu, memuat perjalanan, peran, dan dinamika yang dialami Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Namun Nina, demikian sapaan akrabnya, tak puas hanya menulis buku. Dia pun mengagas untuk membuat Rumah Budaya Kratonan, dan kini mendirikan Galeri Sejarah Surakarta. Tujuannya tidak lain, untuk memberikan pengetahuan secara mendalam tentang sejarah kota Surakarta.

Tak hanya itu, Nina juga bertekad agar ke depan, Kota Solo makin mantap dan lengkap sebagai salah satu destinasi wisata.

“Ini harapan saya ke depannya. Tentu hal itu tidak mudah ya, karena membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk masyarakat sekitar. Tapi Alhamdulillah, selama ini kami selalu mendapat dukungan, baik dari pemerintah daerah melalui dinas pariwisata maupun dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata,” ujar Nina, dalam kesempatan berbincang dengan suarakarya.co.id, Rabu (10/10/2018).

Galeri Sejarah Surakarta ini akan diresmikan oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan, Hilmar Farid, pada 13 Oktober mendatang. Pada acara itu, menurut Nina, akan dihadiri para putra dan putri presiden dan mantan presiden RI, serta sejumlah tokoh nasional lainnya.

“Saya apresiasi dan berterima kasih atas dukungan berbagai pihak yang diberikan kepada kami. Ini merupakan momentum bagi saya untuk lebih meningkatkan lagi semangat saya dalam upaya menyelamatkan dan mempromosikan sejarah Surakarta. Tak hanya untuk masyarakat Indonesia, tetapi juga bagi masyarakat internasional melalui para wisatawan asing yang berkunjung ke sini,” ujarnya menambahkan.

Karena itu, Nina menjelaskan secara rinci terkait fasilitas yang terdapat di Galeri Sejarah Surakarta ini. Ruang Pendopo misalnya, berisi tentang instalasi papan kronologi yang mengajak pengunjung dalam petualangan sejarah dunia dan sejarah nasional yang terkait dengan perjuangan warga Surakarta. Sementara Ruang Ndalem, berisi tentang sejarah Keraton Surakarta.

“Berikutnya, Ruang Senthong atau ruang cermin yang membawa pengunjung ke ruangan gemerlap penuh imajinasi tentang cerita Multatuli sang pendobrak antikolonialisme.

Sedangkan Ruang Merah atau ruang Gadri, menceritakan tentang era politik etis dan kesadaran nasional serta peran dari Mangkunegaran VIII dan Pakubuwono XII, yang diteruskan dengan sejarah revolusi Surakarta dan Surakarta kekinian.

“Semua itu terdapat di Galeri Sejarah Surakarta yang berada di Rumah Budaya Kratonan,” katanya.

Rumah Budaya Kratonan yang terletak di Jl. Manduro No. 6, Kartotiyasan, Kratonan, Serengan, Solo, ini memiliki pendapa di bagian depannya. Sedangkan di bagian luar, terdapat kolam air yang mengelilingi pendapa.

Bila dipandang dari luar, sepintas Rumah Budaya Kratonan ini tidak berbeda dengan model rumah di sekitarnya. Namun, ketika masuk ke dalam, mata kita langsung terfokus pada bagunan rumah tradisional Jawa dengan ukuran cukup besar.

Rumah dengan dinding bercat putih berhalaman cukup luas ini dikenal sebagai nDalem Kartotiyasan. Bangunan ini dahulu milik mertua dari Mulyadi Joyomartono, salah satu menteri di era Presiden Soekarno.

Pendapa yang cukup lapang dengan empat tiang kayu jati, semakin menambah kuat kesan keunikannya. Apalagi, pemilik rumah tidak merombak sama sekali susunan tiang kayu tersebut. Hanya bagian atap yang mengalami renovasi mengingat kondisi awalnya sudah banyak yang rusak.

Lampu grembyong berukuran besar, terpasang di bagian atas di antara empat tiang kayu jati. Di bagian bawahnya diletakkan meja berbentuk bundar berukuran besar dikelilingi enam kursi kayu jati berukir. Sementara empat lampu grembyong berukuran lebih kecil, terpasang di empat sudut pendapa yang terbuka itu.

Memasuki bagian tengah yang merupakan ruang utama (krobongan), tergambar jelas makna Rumah Budaya Kratonan. Di ruangan dengan satu pintu utama berukuran besar dan dua pintu berukuran sedang di kiri kanannya itu, di bagian tengah ruangan diletakkan sebuah kursi jati model kuna berukuran besar.

Di atas kursi kuna tersebut diletakan beragam dokumen budaya, juga mengenai sejarah Kota Solo. Termasuk juga gambar Pangeran Diponegoro di sandaran kursi. Penataan yang artistik membuat tampilan kursi kuna tersebut berubah menjadi ruang pamer.

Ditambah lagi, di bagian atas gebyok jati berukuran besar yang berfungsi sebagai pembatas ruang utama dengan sentong (bagian belakang), terpasang repro lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro, Raja Mataram, dan perjuangan rakyat Indonesia.

Kesan ruang utama sebagai ruang budaya yang juga bisa berfungsi sebagai ruang pamer semakin kuat dengan adanya lemari kaca yang menyatu dengan dinding berwarna putih.

“Memang di ruang tengah tersebut kita fokuskan untuk ruang budaya. Di situ diletakkan buku-buku kebudayaan, buku tentang bangunan-bangunan kuna yang ada di Kota Solo. Termasuk buku tentang sejarah, dan rencananya akan ditambah dengan koleksi buku-buku dari pemilik rumah,” tutur Direktur Program Rumah Budaya Kratonan, Wahyu Indro Sasongko.

Ruangan lain adalah sisi kiri dan kanan (gandok) dimanfaatkan untuk tempat santai, dan semacam dapur untuk menyajikan makanan. Sementara di bagian belakang rumah utama, ada bangunan berbentuk L yang digunakan sebagai bangsal, atau tempat istirahat.

Di depan bangsal, terdapat bangunan baru berupa pendapa yang berisi seperangkat gamelan. “Dulunya kebon, kemudian dibangun pendapa. Ini disediakan untuk siapa saja yang ingin berkesenian di sini, sesuai namanya Rumah Budaya Kratonan,” ujar Wahyu.

Rumah Kratonan merupakan tempat berarsitektur jawa yang letaknya di kelurahan Kratonan, Surakarta. Rumah Budaya Kratonan mempunyai halaman seluas 1700 m2, dua pendopo, dan beberapa ruang kamar untuk menginap.

Susunan ruangan pada Joglo umumnya dibagi menjadi tiga bagian yaitu ruangan pertemuan yang disebut Pendhapa, ruang tengah atau ruang yang dipakai untuk mengadakan pertunjukan wayang kulit disebut Pringgitan, dan ruang belakang yang disebut Dalem atau Omah Jero sebagai ruang keluarga. Dalam ruang ini terdapat tiga buah senthong (kamar) yaitu senthong kiri, senthong tengah dan senthong kanan.

Kratonan merupakan wilayah yang dahulu erat dengan Keraton Surakarta. Pembuat Keris, dan Prajurit Keraton dulu bermukim di sini. Sekarang wilayah ini berkembang menjadi pemukiman yang banyak terdapat institusi pendidikan dan tingkat layanan publik yang tinggi.

Rumah Kratonan berkomitmen untuk mensukseskan acara anda. Baik itu pertemuan pribadi dan acara besar seperti pernikahan atau pameran, kami menyiapkan Rumah Kratonan menjadi tempat yang tak terlupakan untuk acara anda.

Fasilitas lainnya di Rumah Kratonan adalah tempat berwudhu dan mandi sambil menikmati suasana Jawa tempo dulu. Ini cocok untuk bersantai dan bercengkrama bersama orang-orang terkasih. Semua fasilitas di Rumah Kratonan ini terbuka untuk semua pengunjung yang datang.

Mengapa Kratonan? Pertanyaan ini memang menggelitik untuk dijelaskan. Kratonan merupakan wilayah kelurahan di kecamatan Serengan, Surakarta. Kelurahan ini memiliki kode pos 57153.

Meski bernama Kratonan, Keraton Surakarta tidak termasuk wilayah kelurahan ini, melainkan termasuk wilayah kelurahan Baluwarti.

Nama Kratonan diberikan, karena saat membuka wilayah ini untuk dibangun Keraton Surakarta, dilakukan upacara menanam kepala kerbau dan uang sejumlah 400 dinar. Suasana wilayah itu teduh, dan terasa berada di dalam keraton yang tenteram.

Di kelurahan ini, pada sisi barat jalan Gatot Soebroto terdapat sebuah gedung Gereja Kristen Jawa yang bersebelahan dengan sebuah bangunan masjid.

Rumah Budaya Kratonan juga diperuntukan bagi masyarakat Surakarta yang ingin menggelar diskusi, silaturahmi, sarasehan, pameran ataupun kegiatan berkesenian dan berkebudayaan lainnya.

Selain itu, Rumah Budaya Kratonan juga menjadi wadah untuk memajukan produk kebudayaan Indonesia. Kegiatan rutin yang sudah berjalan di rumah budaya ini adalah latihan menari Jawa dan menabuh gamelan.

Rumah Budaya Kratonan ini diresmikan pada Jum’at, 11 Maret 2016 oleh Walikota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo beserta Wakil Walikota Purnomo.

Pendirian Rumah Budaya Kratonan ini bertujuan untuk membantu masyarakat Surakarta agar dapat memberdayakan kreatifitas dan pengetahuan mengenai keberagaman budaya. Kegiatan Rumah Budaya merupakan setitik sumbangsih memberdayakan budaya Jawa, sebagai bagian dari kebudayaan nasional. (Gan)