Kendalikan DM, Kemkes Buat Peta Jalan Berisi Program Tematik

0

JAKARTA (Suara Karya): Satu dari 8 penduduk di DKI terkena penyakit diabetes melitus (DM) atau kencing manis. Kondisi itu kemungkinan terjadi pula di kota-kota besar lainnya di Indonesia. Perlu upaya pencegahan, agar DM tak semakin meluas.

“Banyak orang tak menyadari dirinya terkena pradiabetes, karena hampir tak ada gejala sama sekali. Ketika diperiksa, gula darah sewaktunya sudah diatas angka 200,” kata Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono dalam temu media Hari Diabetes Sedunia secara daring, Senin (15/11/21).

Karena itu, lanjut Dante, Kemkes tengah membuat ‘roadmap’ atau peta jalan pengendalian DM yang berisi program-program tematik. Program tersebut diharapkan dapat membangun kesadaran masyarakat tentang bahaya DM.

“Hasil survey diabetes pada orang sehat menunjukkan, lebih dari 2/3 orang tidak mengetahui jika dirinya terkena diabetes. Kondisi DM saat ini seperti fenomena gunung es, dimana jumlah pradiabetes sebenarnya jauh lebih banyak dari yang terlihat,” ujarnya.

Ketua Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Tri Juli Edi Tarigan menjelaskan, DM adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh untuk memproduksi hormon insulin atau karena penggunaan yang tidak efektif dari produksi insulin. Hal itu ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah.

Diabetes, menurut Tri Juli, merupakan penyakit kronis yang paling tinggi kenaikan angka prevalensinya saat ini. Bahkan WHO pada 2016 menyebutkan, diabetes masuk 10 besar penyebab kematian di dunia. Prevalensi penderita DM terus meningkat setiap tahun.

Di Indonesia, merujuk pada data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 dan 2018 menunjukkan tren prevalensi penyakit DM di Indonesia meningkat dari 6,9 persen menjadi 8,5 persen. Prevalensi penyakit DM menurut diagnosa dokter meningkat dari 1,2 persen menjadi 2 persen.

“Permasalahan yang ada saat ini adalah tiga dari 4 orang penderita DM tidak menyadari kalau dirinya menderita penyakit tersebut, akibat kurangnya kesadaran klien lewat kontrol berkala,” ujarnya.

Tri Juli menambahkan, sebelum jatuh menjadi diabetes, seseorang akan mengalami fase pradiabetes. Pada kondisi itu sebenarnya sudah ada tanda-tanda seseorang mengalami diabetes namun sering kali tidak disadari.

“Pasien pradiabetes sebenarnya masih bisa disembuhkan, namun karena ketidaktahuan terhadap gejala diabetes, sehingha dibiarkan dan akhirnya sulit untuk dikendalikan,” katanya.

Menurut Tri Juli, pradiabetes merupakan cikal bakal kencing manis. Kalau didiamkan saja, maka 1/3 akan menjadi kencing manis dalam waktu 5 tahun. Dan 1/3 tetap jadi pradiabetes dan 1/3 lagi kembali normal.

“Pradiabetes jadi waktu terbaik untuk mencegahnya jadi diabetes, karena bisa kembali normal,” tuturnya.

Perlu diketahui, penyakit diabetes tidak hanya disebabkan pola hidup yang kurang sehat. Tapi, juga karena faktor keturunan. Artinya setiap orang berpotesi mengalami diabetes, jika diikuti dengan gaya hidup yang buruk seperti kurang aktivitas fisik, kegemukan, hipertensi, merokok dan diet tidak seimbang.

Untuk itu, Wamenkes mengingatkan, pentingnya menggaungkan pola hidup sehat dan deteksi dini terutama bagi kelompok yang berisiko tinggi terkena diabetes. Cara itu jauh lebih efisien dan efektif untuk menangani pasien, daripada saat mereka sudah jatuh sakit.

“Diabetes bukan hanya mengobati soal gula darah saja. Ada jauh yang lebih penting yakni memberikan layanan kesehatan kepada pasien diabetes mulai dari hulu sampai hilir,” ucap Dante menegaskan.

Ditambahkan, hulu dengan aktif melakukan kegiatan promotif preventif sedangkan hilir melakukan upaya maksimal bagi pengobatan pasien. Jika hulunya sudah berjalan dengan baik, maka pemerontah akan menghemat biaya pengobataj yang sangat besar.

Agar pengendalian diabetes di Tanah Air optimal, Kementerian Kesehatan bersama stakeholder terkait menyusun roadmap diabetes yang berisi program tematik untuk mengendalikan diabetes di Tanah Air. Roadmap ini diharapkan bisa segera direalisasikan.

Kemenkes juga aktif melakukan edukasi skrining rutin diabetes, edukasi diet rendah gula dan garam serta melakukan kampanye pola hidup bersih dan sehat melalui slogan PATUH dan CERDIK.

Melalui kampanye masif itu diharapkan bisa meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes serta mengendalikan jumlah penderita diabetes di Indonesia.

“Kalau kita bisa melakukan akses ke penderita diabetes care lebih dini, maka harapan kita penderita diabetes bisa hidup normal, penyandang diabetes juga terkontrol gula darahnya. Mereka bisa hidup lebih berkualitas dibandinh mereka yang tak terkendali diabetesnya,” katanya. (Tri Wahyuni)