Keren, Program GP Mengubah Perspektif Guru tentang Pembelajaran

0

JAKARTA (Suara Karya): Saat terpilih sebagai 1 dari 119 Guru Penggerak (GP) di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, guru SDIT Hidayah Ngawen, Aris Supriadi ini mengaku sempat galau karena harus mengikuti pelatihan selama 9 bulan. Pelatihan terlama yang diikutinya dalam karirnya sebagai guru.

Namun, baru tiga bulan menjalaninya, Aris mengaku malah jatuh cinta atas modul-modul pelatihan yang diberikan. Pasalnya, isi modul tersebut tidak pernah dipelajarinya selama di bangku kuliah.

“Pelatihan ini benar-benar mengubah mindset tentang pembelajaran. Beda sekali dengan apa yang saya pelajari saat di bangku kuliah. Dan materinya cocok sekali diterapkan di era digital saat ini,” ucap guru kelas VI tersebut.

Aris menyebut, hal-hal baru itu seperti model pengajaran yang berpusat pada murid. Jika di masa lalu, guru menjadi pusat pembelajaran, saat ini pusatnya adalah siswa.

“Guru harus memahami lebih dulu karakteristik siswanya masing-masing, agar pembelajaran berbasis kemampuan murid. Karena ada anak menyerap pembelajaran lebih baik jika melihat gambar, atau mendengar suara, atau bergerak,” ujarnya.

Untuk itu, lanjut Aris, sekolah melalui guru BK (bimbingan dan konseling) harus melakukan asesmen diagnostik kepada semua siswa. Sehingga bisa diketahui secara pasti, siswa memiliki karakteristik yang mana.

Asesmen diagnostik adalah penilaian terhadap siswa yang secara spesifik dapat mengidentifikasi kompetensi, kekuatan, kelemahan siswa, sehingga pembelajaran dapat dirancang sesuai dengan kompetensi dan kondisi siswa.

Penerapan asesmen diagnostik itu sejalan dengan Kurikulum Merdeka yang dikembangkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek).

Ditanyakan apakah kelas dibentuk terpisah sesuai karakteristik anak, Aris menegaskan, tidak ada pemisahan itu. Kelas tetap digelar seperti biasa, namun guru memiliki pengetahuan tentang karakteristik masing-masing siswanya.

“Jadi saat guru berhadapan dengan anak dengan karakteristik visual, harus tahu seperti apa memperlakukannya. Begitu pun siswa dengan karakteristik audio atau kinestetik. Guru harus memahami karakter semua muridnya. Memang tidak mudah, tapi bukan mustahil dilakukan,” ujarnya.

Agar kinerja berjalan optimal, lanjut Aris, 119 guru penggerak di Kabupaten Klaten membentuk paguyuban. Mereka bertemu secara rutin untuk membahas berbagai hal dari konsep, kendala hingga aksi nyata.

“Adanya paguyuban ini bisa saling bertanya dan menyemangati. Karena pembelajaran semacam ini kan belum pernah diterapkan sebelumnya. Kita butuh orang lain untuk diskusi bagaimana penerapannya,” ucap Aris yang saat itu didampingi koleganya yang juga guru penggerak di SDIT Hidayah Ngawen.

Pernyataan senada dikemukakan Iin Sulistyaningsih, Guru Penggerak dari Taman Pendidikan Prasekolah (TPP) Al Firdaus, Solo. Ia mengaku beruntung rencana kerjanya sebagai guru penggerak mendapat dukungan kepala sekolah (Kepsek) Muhammad Natsir.

“Setiap ide-ide pembelajaran yang akan diterapkan, kita diskusikan bersama dengan kepala sekolah dan guru lainnya. Supaya hasilnya optimal,” ujar Iin.

Ia mengaku tidak menghadapi kendala berarti dalam menjalankan tugasnya sebagai guru penggerak. Kesulitannya hanya masalah waktu, antara tugasnya sehari-hari sebagai guru kelas di TK B dengan tugasnya sebagai guru penggerak.

“Apalagi pada waktu-waktu tertentu guru sangat sibuk dengan tugas hariannya, seperti pada akhir tahun ajaran. Saya kadang ada di sekolah sampai sore, menyiapkan beragam tugas sebagai guru penggerak,” kata Iin yang mengaku senang karena tugas barunya itu dapat dukungan dari suami dan anaknya.

Meski pekerjaan bertambah, Iin mengaku senang terpilih sebagai guru penggerak. Karena ia banyak mendapat pengalaman dan ilmu-ilmu baru selama pelatihan dan penerapannya.

“Saya ini suka sekali belajar hal-hal baru. Karena itu, kepala sekolah mendorong saya mendaftar program guru penggerak. Dan Alhamdulillah terpilih. Meski lelah karena melakukan tugas rutin secara bersamaan, tapi hati saya bahagia,” ucap Iin yang menjadi guru penggerak satu-satunya di sekolah tersebut.

Kegembiraan serupa juga dinyatakan Enny Nursanti, guru SMAN 3 Surakarta. Bersama rekannya sesama Guru Penggerak, yaitu Wardi dan Fibriantie Eka Yani, Enny mengaku awalnya sempat bingung menjabarkan modul-modul yang diberikan selama pelatihan menjadi aksi nyata.

“Saya senang punya kepala sekolah yang memiliki visi kedepan, sehingga terpilih sebagai Sekolah Penggerak. Dengan demikian, dua guru penggerak di sekolah ini dapat menerapkan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan Kurikulum Merdeka secara optimal,” ujarnya.

Belakangan ini, lanjut Enny, sekolahnya banjir permintaan kunjungan dari sekolah lain di seputar Solo dan beberapa dari kota-kota di provinsi Jawa tengah untuk mendapat praktik baik (best practices) seputar pembelajaran berpusat pada siswa dan Kurikulum Merdeka.

“Pembelajaran berpusat pada siswa ini kan sesuatu yang baru. Jadi banyak juga sekolah yang ingin tahu seperti apa penerapannya secara nyata di sekolah. Jadi informasi ini terus berkembang ke sekolah-sekolah,” ujar Enny.

Sebagai informasi, ada 6 sekolah terpilih sebagai Sekolah Penggerak di Kota Solo. Dari jumlah itu, SMAN 3 Surakarta merupakan satu-satunya berstatus sekolah negeri.

Wardi menambahkan, menjadi guru penggerak tak hanya butuh komitmen tetapi juga tekad yang kuat. Karena guru tak saja dituntut untukmemahami karakteristik anak masing-masing, tetapi mengembangkan pembelajarannya.

“Jadi bukan eranya lagi gue bicara depan kelas seharian. Kita harus kombinasikan pembelajaran dengan alat belajar atau belajar di luar kelas. Diharapkan proses belajar mengajar jadi menyenangkan di kelas,” ujarnya.

Ditanya apakah statusnya sebagai guru penggerak membebani tugas hariannya, Wardi mengaku malah senang. Karena pada dasarnya ia senang melakukan hal-hal baru.

“Apalagi kalau anak-anak gembira selama pembelajaran. Karena anak zaman sekarang itu beda. Jika di masa lalu hirarki antara guru dan siswa itu berjarak, sekarang sangat dekat. Kita sering memanggil bestie ke para siswa sehingga tak berjarak,” tuturnya.

Wardi mengaku jatuh cinta atas model pembelajaran yang berpusat pada siswa. Karena model tersebut pas diterapkan pada kondisi saat ini.

“Model pembelajaran berpusat pada siswa ini pas diterapkan di era digital saat ini. Sehingga bisa langsung ‘blend’ dengan situasi anak,” ucapnya.

Soal kendala, Wardi mengatakan, nyaris tak ada. Tapi karena metode pembelajarannya masih terbilang baru, kadang suka meraba-raba apakah model pembelajaran yang dilakukan itu sudah sesuai. “Beruntung sekolah ini ada tiga Guru Penggerak jadi setiap kendala yang dihadapi bisa diskusikan bersama,” kata Wardi menandaskan. (Tri Wahyuni)