Kesehatan Warga Sekolah Harus Jadi Prioritas Tentukan Model Pembelajaran

0

JAKARTA (Suara Karya): Kesehatan warga sekolah menjadi prioritas dalam menetapkan sistem pembelajaran pada awal tahun ajaran baru 2020/2021, apakah daring, luring atau campuran. Karena meski berada di zona hijau, tak otomatis sekolah akan dibuka.

“Pembukaan sekolah di zona hijau harus pertimbangkan kesehatan warga sekolah yakni siswa, guru dan orangtua,” kata Kepala Biro Kerja sama dan Humas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Evy Mulyani dalam diskusi pendidikan yang digelar Beritasatu News secara virtual, Jumat (5/6/20).

Pembicara lain dalam diskusi itu, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI), Unifah Rosyidi, dan Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan (Kemkes), Erna Mulati.

Sebagai informasi, Kemdikbud telah menetapkan awal tahun ajaran baru 2020/2021 pada 13 Juli mendatang. Ada tiga skema pembelajaran yang diterapkan sesuai dengan kondisi pandemi corona virus disease (covid-19) di daerah masing-masing, yaitu daring, luring dan campuran keduanya.

“Sekolah di zona merah dan kuning, dipastikan tetap diterapkan belajar jarak jauh sebagaimana dilakukan sejak 3 bulan lalu,” katanya menegaskan.

Untuk sekolah di zona hijau, lanjut Evy, Kemdikbud akan membahas bersama
Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Sedangkan protokol kesehatan di bidang pendidikan akan dibahas bersama Kementerian Kesehatan.

“Sekolah di zona hijau tidak bisa dibuka secara otomatis, tetapi melalui prosedur izin syarat yang ketat. Jika dinilai tak layak untuk dibuka kembali, maka sekolah itu harus menjalankan model pembelajaran jarak jauh,” tuturnya.

Untuk menunjang pembelajaran jarak jauh ini, Evy menyebut, Kemdikbud memberi rekomendasi 23 laman yang bisa digunakan siswa dan guru sebagai sumber pembelajaran jarak jauh. Rekomendasi itu bisa diakses melalui laman resmi www.kemdikbud.go.id.

Siswa juga dapat memanfaatkan layanan yang disediakan Kemdikbud melalui program belajar dari rumah yang disiarkan lewat TVRI, radio, modul belajar mandiri dan lembar kerja, bahan ajar cetak serta alat peraga dan media belajar dari benda dan lingkungan sekitar.

“Saat ini kita punya pembelajaran jarak jauh berbasis internet, televisi atau radio dan berbagai modul pembelajaran yang dapat dipelajari secara mandiri. Semua itu memerlukan kolaborasi antara guru dan orang tua seputar pilihan materi pembelajaran jarak jauh,” ucapnya.

Ditambahkan, aktivitas pembelajaran jarak jauh bisa dilakukan dengan variasi sesuai minat siswa, akses atau fasilitas belajar di rumah. Pembelajaran jarak jauh akam memberi pengalaman belajar yang bermakna, tanpa harus membebani guru dan siswa dalam menyelesaikan kurikulum untuk kenaikan kelas atau kelulusan.

Meski hingga kini belum ditemui kendala dalam pembelajaran jarak jauh, Evy menambahkan, ada hal positif yang dapat diambil pelajaran yaitu tumbuhnya kolaborasi orang tua dengan guru. “Orangtua mulai memahami bahwa tidak mudah menjadi seorang guru,” ujarnya.

Ketua LPAI, Seto Mulyadi mengapresiasi upaya yang dilakukan Kemdikbud lewat penetapan tahun ajaran baru paa 13 Juli mendatang dan kebijakan pembelajaran jarak jauh di masa pandemi covid-19.

“Tidak membuka sekolah di masa pandemi saat ini adalah tindakan yang tepat. Utamakan kesehatan siswa, guru dan orangtua. Meski berada di zona hijau, pertimbangkan pembukaan secara masak-masak. Jangan sampai terjadi ledakan kasus covid-19 lewat sekolah,” ujarnya.

Seto berharap pemerintah juga menetapkan standar kompetensi dan kelulisam yang harus dicapai siswa dalam pembelajaran jarak jauh. Hal itu penting agar siswa dan guru belajar secara serius, meski tidak berada dalam ruang kelas.

“Orangtua harus mengetahui dan memahami standar kompetensi yang harus diraih siswa dalam pembelajaran jarak jauh. Hal itu akan membuat anak merasa nyaman belajar dari rumah,” katanya.

Ditambahkan, masa pandemi covid-19 merupakan momentum bagi orangtua untuk mengajarkan etika, dengan cara memberi contoh nyata dalam rumah. Anak belajar menghormati orang yang lebih tua, termasuk asisten rumah tangga atau supir keluarga.

“Anak belajar sopan santun dari rumah. Karena itu penting bagi orangtua untuk memberi contoh langsung. Karena pendidikan tak hanya di sekolah, tetapi ada di mana saja,” tuturnya.

Hal senada dikemukakan Ketua Umum PGRI, Unifah Rosyidi. Ia juga memberi apresiasi atas upaya Kemdikbud dalam menata dan memperbaiki kebijakan pendidikan selama pandemi covid-19. Salah satunya tetap melaksanakan pembelajaran jarak jauh pada awal tahun ajaran baru pada Juli mendatang.

Unifah menilai, pandemi covid-19 seharusnya jadi momentum untuk transformasi pendidikan melalui kebiasaan baru (new normal) yang belum pernah dilakukan sebelumnya dalam dunia pendidikan.

Sementara itu Direktur Kesehatan Keluarga Kemkes, Erna Mulati mengemukakan, Kemkes bersama Kemdikbud saat ini tengah membuat protokol kesehatan di era normal baru pendidikan. Protokol kesehatan akan difokus pada sekolah di daerah zona hijau. (Tri Wahyuni)