Keselamatan Penerbangan, Pemerintah Tes Urine Kru Pesawat dan Petugas ATC

0
Ilustrasi

JAKARTA (Suara Karya): Dalam operasional penerbangan, keselamatan merupakan suatu hal yang prioritas, dan telah ditentukan standarisasinya serta tidak bisa ditawar-tawar oleh seluruh insan penerbangan baik regulator, operator hingga pengguna jasa penerbangan.

Guna menjaga keselamatan penerbangan, Ditjen Perhubungan Udara selaku regulator terus melakukan pengawasan kepada seluruh operator baik maskapai, pengelola bandara hingga pengelola lalu lintas penerbangan baik dari pembinaan hingga inspeksi langsung di lapangan (rampcheck). Kegiatan rampcheck sendiri biasa dilakukan terhadap infrastruktur, armada sampai kepada personel penerbangan.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Polana B. Pramesti menjelaskan bahwa sesuai aturan penerbangan sipil, Annex 1 Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) tentang Personil Licensing, setiap flight crew harus melakukan medical examination (medex) tiap 6 bulan sekali di Balai Kesehatan yang sudah tersertifikasi. Selain itu, pada saat sebelum terbang juga harus dilakukan pengecekan kembali oleh petugas kesehatan maskapai bahwa yang bersangkutan laik untuk menerbangkan pesawat.

Polana menjelaskan bahwa selama masa angkutan udara Nataru, selain pengecekan kesehatan tersebut, pihaknya telah melakukan pemeriksaan narkoba kepada personel penerbangan yang akan bertugas.

“Dalam mengawal keselamatan penerbangan selama masa Nataru, Tim Balai Kesehatan Penerbangan  telah melakukan tes narkoba secara random terhadap personel penerbangan di 7 bandara,” kata Polana di Jakarta, Kamis (27/12/2018).

Kepala Balai Kesehatan Penerbangan, Sri Murani yang sering disapa Rindu menambahkan, bahwa metode pemeriksaan yang digunakan kepada personel penerbangan tersebut.

“Metode pemeriksaan Urin narkoba meliputi 7 parameter yaitu: THC, coccain, methamphetamin, amphetamin, ketamin, morphin, benzodiazepin”, tutur Rindu.

Lebih lanjut Rindu merinci lokasi dan rekapitulasi personel yang telah diperiksa.

“Pada 24 Desember, lokasi yang kami sambangi adalah Bandara Soekarno Hatta, sebanyak 200 Flight Crew dan 43 personel ATC kami periksa. Di hari yang sama kami juga melakukan pemeriksaan di Bandara Halim dengan jumlah Flight Crew yang diperiksa 46 orang”, lanjut Rindu.

Sebelumnya, berturut turut pemeriksaan dilakukan di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta (20/11) jumlah yang diperiksa adalah 94 Flight Crew, Bandara Juanda Surabaya (30/11) jumlah yang diperiksa sebanyak 97 Flight Crew, Bandara Hasanuddin Makassar (4/12) 92 Flight Crew, Bandara Ngurah Rai Bali (16/12) 98 Flight Crew dan Kualanamu Medan (21/12) dengan jumlah personel yang diperiksa sebanyak 96 Flight Crew. Seluruh hasil pemeriksaannya adalah negatif.

“Hasil pemeriksaan semuanya negatif. Ini menunjukan komitmen yang kuat dari para personel penerbangan untuk menjauhi dan tidak menggunakan barang haram yang efeknya buruk bagi kesehatan. Semua personel penerbangan harus bebas narkoba, dan bagi yang terbukti menggunakan narkoba akan diberikan sanksi sesuai dengan UU Nomor 1 tentang Penerbangan serta Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil (PKPS) atau Civil Aviation Safety Regulation (CASR)”, jelas Polana.

Polana juga menegaskan bahwa jajarannya selalu memprioritaskan keselamatan dan keamanan di setiap lini penerbangan.

“Dalam penerbangan, kami tidak mentolerir tindakan yang dapat menjadi penghambat terciptanya keselamatan penerbangan. Kegiatan rampcheck kepada personel penerbangan bukan hal yang luar biasa, kami melakukannya secara rutin, sehingga dapat mencegah personel tersebut untuk “nakal” dan mengantisipasi penggunaan narkoba dalam lingkungan kerja penerbangan,” pungkasnya. (Yunafri)