Kesenjangan SDM Dikti dan Kebutuhan Industri Masih Tinggi

0

JAKARTA (Suara Karya): Kesenjangan yang terjadi antara persediaan sumber daya manusia (SDM) pendidikan tinggi (dikti) dengan kebutuhan industri masih tinggi. Kesenjangan itu terutama pada 5 sektor.

Hal itu dikemukan Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Ali Ghufron Mukti dalam seminar “Relevansi Pengembangan SDM Iptek dan Dikti Terhadap Pembangunan Sektor Kemaritiman”, di Jakarta, Senin (15/4/2019).

Pembicara tamu menampilkan pakar nano teknologi dari universitas ternama Jerman, TU Braunschweig dan diaspora Indonesia, Hutomo Suryo Wasisto.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menyebutkan, kesenjangan terbesar pada ketersediaan sarjana teknik di 15 bidang ilmu terbatas. Pada 2016, kampus hanya menghasilkan 17.550 sarjana teknik, padahal kebutuhan SDM untuk itu mencapai lebih dari 26.000 orang.

“Jika kita tidak melakukan terobosan, kondisi kekurangan akan terus terjadi. Ketersediaan sarjana teknik pada 2024 diproyeksikam sebesar 27.087 orang, sementara kebutuhan SDM mencapai lebih dari 182 ribu orang,” ujarnya.

“Kami akan terus mendorong program studi teknik di perguruan tinggi, termasuk diploma untuk mengundang lebih banyak minat kaum muda masuk bidang teknik,” katanya.

Di sektor kesehatan, lanjut Ali Ghufron, sebaran populasi dokter tidak merata. Jumlah bidan per 100.000 penduduk baru 108 orang pada 2016. Hal itu masih jauh dari target nasional yaitu 163 per 100.000 penduduk. Rasio perawat per provinsi adalah 1 berbanding 588 penduduk. Sementara target nasional 1 berbanding 166 orang.

“Untuk itu, upaya yang dilakukan adalah redistribusi lulusan dokter spesialis dari provinsi yang sudah surplus. Diperlukan pula akreditasi pendidikan dokter untuk mengusi kekurangan dokter,” ujarnya.

Di sektor pendidikan, prediksi kebutuhan guru SMA selama 2017-2024 meningkat dari 6.180 menjadi 11.814, guru SMK dari 8.235 menjadi 13.674, guru SMP 13.200 menjadi 26.200. Untuk SD, kebutuhan guru belum diperlukan hingga 2022. Baru pada 2024, ada kebutuhan guru SD sebanyak 9.803 orang.

Pada sektor pangan, terjadi disparitas mutu perguruan tinggi dan program studi pangan-pertanian. Kekurangannya diperkirakan antara 174-196 ribu orang pada 2030. “Solusi yang dilakukan dengan pemberian insentif dan pemberian kemampuan kewirausahaan bagi lulusan dikti untuk bidang pangan dan pertanian,” ucap Ali Ghufron.

Di sektor kemaritiman, kata Mantan Wakil Menteri Kesehatan, secara garis besar kebutuhan SDM ilmu kelautan masih terbuka luas, seiring dengan rencana pemerintah Indonesia dalam memenuhi target luasan konservasi laut sebesar 30 juta hektar.

“Untuk itu, perlunya SDM kemaritiman dibekali kompetensi masa depan, terutama pada penguasaan aplikasi bioteknologi dalam restorasi ekosistem pesisir, habitat ikan dan biota yang sudah punah,” katanya.

Pada transportasi laut, menurut Ali Ghufron, perlu pembentukan pendidikan vokasi di bidang pelabuhan dan bidang logistik maritim. Dibutuhkan pula penguatan pendidikan vokasi kedinasan di sektor pelayaran. (Tri Wahyuni)