Ketika Tentara Super Power Mongol Dikalahkan Raden Wijaya Semut Jawa, Bagaimana Dengan Natuna?

0

Oleh: Ir. Hj.Nurul Candrasari Masjkuri, M.Si

Kisah Mongol pada beberapa abad ke belakang, dalam catatan sejarah benar-benar juara. Kekuatan militer Mongol adalah tak terkalahkan di dunia. Dengan jejak bukti dari daerah invasi mereka sangat besar yang telah hampir mencapai separuh bumi, membentang dari Tiongkok sampai sebagian Eropa.

Semua hal tersebut Mongol saat itu memiliki kekuatan militer mereka yang luar biasa, Mongol selalu dalam kemenangan dalam menginvasi.

Namun di dunia ini tak ada yang sempurna. Mongol yang demikian hebat ternyata dikalahkan Pasukan Jawa dimana saat itu Mongol melakukan kegagalan dalam melakukan perluasan wilayah.

Sungguh harus menjadi catatan yang berharga bahwa kegagalan Mongol ini justru melawan Jawa yang mungkin tidak memiliki kekuatan apapun bahkan bagaikan semut bagi Mongol. Kegagalan mereka di Jawa adalah satu-satunya kegagalan yang dialami oleh bangsa bar-bar tersebut.

Bagaimanakah kisah catatan sejarah mengapa mereka dapat dikalahkan oleh Jawa? Sementara Mongol yang demikian perkasa saat itu hanya melawan Jawa yang setitik?

Jawabannya dan Alasannya adalah karena kemampuan para tentara Jawa yang hebat, serta strategi dan intrik cerdas dari Raden Wijaya.

Bagaimanakah kisah menumbangkan para tentara Mongol yang hebat ini?

Kisah ini dimulai dari kesombongan Mongol Dibalas Murka oleh Singasari.

Perseteruan Mongol dan Jawa tidak terjadi dengan serta merta melainkan diawali dengan pemicunya dari sikap angkuh dan kesombongan Mongol yang mengirim utusan ke Jawa, tepatnya kerajaan Singasari pada saat terdebut, utusan Mongol menyampaikan pesan dari Kubilai Khan tentang Jawa yang harus tunduk kepadanya dan juga memberi upeti sebagai tanda menyerahkan diri.

Raja Singasari ketika itu yang bernama Kertanegara, naik pitam, dan Ia menganggap pesan yang disampaikan utusan ini melampaui harga diri dan tidak beretika serta sangat merendahkan dirinya. Kertanegara tanpa ampun langsung mengiris telinga sang utusan tersebut dan menyampaikan tantangannya kepada Mongol. Utusan tersebut kemudian ditendang keluar untuk menyampaikan pesan balik dari Kertanegara kepada Kubilai Khan.

Sesampai utusan Mongol yang telah di iris kupingnya dan ditendang keluar dan mereka kembali kehadapan Kubilai Khan, dan setelah melihat utusan yang kembali dalam keadaan teriris kupingnya tersebut kemarahan Kubilai Khan tak terbendung Meluap-Luap, dan setelah mendengar kronologinya, dengan segera Kubilai mengirimkan tiga jenderal terbaiknya untuk datang ke Jawa dengan tujuan menguasai serta menggantung Kertanegara.

Singkat cerita, tiga jenderal dan 30 ribu prajurit yang diangkut seribu kapal tersebut tiba di Jawa. Tanpa banyak narasi, kemudian mereka langsung bergerak menuju jantung Singasari dan memburu yang namanya Kertanegara.
Selanjutnya ada 3 episode penting yang berlangsung saat Mongol ke tanah Jawa yakni sbb :

EPISODE I: Keberhasilan Mongol Menumpas Singasari Strategi Raden Wijaya

Ketika sampai di Singasari prajurit Mongol tidak mendapati Kertanegara. Yang ada justru Jayakatwang, Raja pengganti Kertanegara. Namun bagi Mongol tak ada masalah, yang terpenting Jayakatwang Raja pengganti Kartanegara, dan akhirnya terjadilah pertempuran hebat antara Mongol dan Singasari. Peperangan ini berhasil dimenangkan pihak Mongol.

Mongol berhasil mengalahkan Singasari. Kisah Mongol dapat memenang perang ini dikarenakan saat tersebut Mongol mendapatkan bantuan dari Raden Wijaya. Raden Wijaya memberikan bantuan berupa petunjuk arah serta strategi-strategi khusus, sehingga Mongol berhasil mengalahkan Jayakatwang.

Perlu dicatatat dan diketahui, alasan dan strategi Raden Wijaya untuk membantu Mongol dikarenakan Jayakatwang telah membunuh Kertanegara yang notabene adalah Raja panutannya.

EPISODE II: Strategi dan Intrik Tipu Daya Raden Wijaya Membuat Mongol Kocar-kacir

Setelah Mongol meraih kemenangan melawan Jayakatwang, Raden Wijaya mengundurkan diri dan pamit kepada para jenderal Mongol yang ketika itu sedang berpesta pora. Raden Wijaya menyampaikan bahwa ia hendak kembali untuk mempersiapkan upeti dan gadis-gadis cantik sebagai simbol penyerahan diri dan kaumnya. Mongol saat itu sangat percaya kepada Raden Wijaya, dan saat itu Raden Wijaya dan rombongannya mendapat pendampingan 200 pasukan bar-bar saat hendak pergi.

Kemudian rombongan Raden Wijaya melakukan perjalanan ke Desa Majapahit. Lalu ketika sampai di sebuah tempat, secara tiba-tiba Raden Wijaya menyuruh pasukannya untuk menumpas tentara-tentara Mongol yang mendampinginya. Taktik ini berhasil dan kemudian tanpa memberi ampun Raden Wijaya langsung balik arah dan menyerang pasukan Mongol yang tengah berpesta saat tersebut.

EPISODE III: Hengkangnya Mongol dan Berdirinya Majapahit

Raden Wijaya dengan sangat bergegas untuk cepat-cepat kembali ke barak-barak Mongol beserta ribuan tentaranya. Setelah sampai, tanpa tendeng aling-aling Raden Wijaya dan pasukannya menyerang Mongol yang sedang berpesta pora besar. Demikian mendadak serangan yang diterima, Mongol yang tak siap dan tak menyangka. Sampailah pada titik sekitar tiga ribu tentara bar-bar ini tersandera oleh Raden Wijaya.

Kekalahan Mongol tak punya pilihan selain mundur, apalagi Raden Wijaya begitu trengginas dalam memburu mereka. Dengan susah payah akhirnya pasukan Mongol beserta jenderal-jenderalnya berhasil menaiki kapal mereka dan berlayar menjauhi Jawa. Dengan rasa malu dan marah pasukan Mongol meratapi kekalahan terbesar mereka sepanjang sejarah.

Setelah hal tersebut Raden Wijaya dengan semangatnya berangsur-angsur membangun desa Majapahit kembali dan sampai menjadi sebuah kerajaan besar. Sementara para jenderal-jenderal Mongol yang telah dikalahkan Raden Wijaya dihukum berat oleh Kubilai Khan. Sejak kekalahan ini hampir tak sekali pun Mongol mencoba untuk membalas.

Dan tidak ada lagi cerita selanjutnya untuk berani ke tanah Jawa, kemungkinan dikarenakan kekalahan yang telah mereka alami membuat mereka malu dan enggan.

Tiada yang menyangka jika Jawa yang dimata Mongol setitik debu bagaikan semut ternyata dapat membuat bangsa besar tersebut lari tunggang langgang.

Dari catatan sejarah ini membuktikan bahwa bangsa Indonesia sangat luar biasa. Sungguh sebuah catatan prestasi membanggakan yang harus diingat bangsa ini dan menjadi bukti kehebatan negeri ini seorang Raden Wijaya telah berhasil melakukan strategi dan intrik-intrik perang ala Raden Wijaya sehingga dapat mengelabui Mongol super power pada masa tersebut.

Sejak kekalahannya di Jawa, Kubilai Khan hampir tak sekalipun berani mencoba menyentuh Jawa lagi.

Menyikapi tentang masalah pelanggaran atas Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Indonesia di perairan Natuna, termasuk kegiatan Illegal Unreported and Unregulated (IUU) Fishing yang dilakukan kapal penjaga pantai Cina, 24 Desember 2019, sudah saatnya negeri ini wajib melindungi zona Natuna,

Cina merasa tidak melanggar hukum internasional yang ditetapkan lewat Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS). Landasannya, menurut Cina, adalah klaim bahwa perairan Natuna termasuk dalam Nine Dash Line Cina.

Cina memaksa tentang Nine Dash Line atau sembilan garis putus-putus adalah wilayah historis Laut Cina Selatan seluas 2 juta kilometer persegi yang 90 persen di dalamnya mereka klaim sebagai hak maritimnya, bahkan meski wilayah-wilayah ini berjarak hingga 2.000 km dari Cina daratan.

Sementara klaim historis Cina tersebut tentang sembilan garis putus-putus tersebut ternyata tidak pernah diakui dalam UNCLOS 1982.

Dengan kasus Natuna saat ini jangan sampai terjadi kembali seperti kasus kekalahan Indonesia pada 1998 di Mahkamah Internasional dalam perkara perebutan Pulau Sipadan dan Ligitan.

Suri tauladanilah sosok RADEN WIJAYA betapa negeri ini demikian hebat walau mungkin tak memiliki kekuatan peralatan perang (alutsista) yang hebat namun jiwa untuk mempertahankan tanahnya yang dapat mengalahkan dan memukul mundur tentara-tentara sehebat apapun.

Ingatlah sejarah ini !!
Bangkitlah jiwa-jiwa:
RADEN WIJAYA RADEN WIJAYA
RADEN WIJAYA
Anak negeri Indonesia

Sejarah telah menoreh betapa kuat bangsa ini.

NATUNA adalah INDONESIA dari catatan sejarah ini seharusnya jangan pernah sejengkalpun menyerah, bila Raden Wijaya di masanya dapat memiliki strategi dan intrik2 perang yang mungkin sederhana namun mematikan, tentu hari ini ada Raden Wijaya masa kini yang lebih canggih dan harus lebih hebat melindungi negeri ini. ***

Penulis adalah Pendiri Kaukus Perempuan Politik Indonesia