Ketua DPRD TTU Sesalkan Dugaan Penganiayaan oleh Bupati Raymundus

0

JAKARTA (Suara Karya): Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Frengky Saunoah menyesalkan dugaan penganiayaan yang dilakukan Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandes. Kasusnya terjadi di Desa Ponu, Kecamatan Biboki Anleu, NTT.

“Jika dugaan penganiayaan itu benar, hal itu sungguh disayangkan. Saya baru lihat kasusnya dari video yang beredar di media sosial,” kata Frengky dalam siaran pers, Sabtu (22/12)

Menurut Frengky, kasus penganiayaan seperti itu seharusnya tak terjadi. Karena tugas seorang pemimpin adalah mengayomi masyarakatnya. Jika terjadi kekeliruan, upaya yang dilakukan bisa dengan cara yang lebih persuasif lewat bimbingan dan pembinaan.

“Sudah bukan zamannya lagi, kekeliruan dibalas dengan kekerasan. Apalagi era media sosial saat ini, segala macam tindakan bisa langsung tersebar luas di masyarakat,” tuturnya.

Frengky menambahkan, pihaknya akan segera kembali ke TTU untuk mendiskusikan masalah ini. “Kita akan telusuri kebenaran informasi ini. Jika benar, akan akan gelar rapat internal DPRD guna memutuskan sikap kami selanjutnya,” katanya.

Dalam kesempatan terpisah, Kapolres TTU, AKBP Rishian Krisna Budhiaswanto membenarkan adanya laporan dugaan tindakan pengeroyokan oleh bupati TTU  dari warga. “Laporannya sudah ada. Sementara ini masih dalam tahap pemeriksaan penyelidikan. Kami belum bisa simpulkan, tapi yang jelas ini masih dalam proses,” katanya.

Namun, lanjut Krisna, pelaporan serupa juga dilakukan bupati TTU terkait tindakan penghadangan yang dilakukan pihak tertentu. “Dua-duanya melaporkan. Dari pihak bupati terkait penghadangan, sedangkan laporan warga adanya dugaan penganiayaan,” ujarnya.

Sementara itu, Yoakim Ulu Besi, warga Desa Ponu , Kecamatan Biboki Anleu TTU korban penganiayaan yang dilakukan bupati TTU saat ini tengah dirawat di rumah sakit. Ia maupun keluarganya enggan mau berkomentar lebih jauh.

Seperti diberitakan sebelumnya, terjadi bentrokan antara bupati TTU dengan warga masyarakat di Desa Ponu. Hal ini dipicu kedatangan bupati bersama rombongan Pemda TTU guna melihat lahan yang akan dijadikan tambak garam. Warga pemilik lahan agak marah karena rencana itu dilakukan tanpa sosialisasi atau pemberitahuan.

Warga kemudian secara spontan menghadang rombongan bupati. Mereka hendak mempertanyakan kehadiran bupati di lahan persawahan mereka. Terlihat bupati langsung membentak
Yoakim Ulu Besi. Situasi kemudian memanas karena ajudan bupati menendang dan membanting korban hingga terjatuh, lalu dicekik oleh Kadis Perikanan dan Kelautan, TTU.

Atas kejadian itu, korban bersama warga lainnya melapor ke Polsek setempat. Namun sebelum korban melapor, Bupati TUU sudah terlebih dahulu melapor ke polisi dengan alasan menghalangi tugas pemerintah.

Oleh karena itu, merasa tak puas maka warga bersama korban penganiayaan bertahan di Polsek Biboki Anleu karena merasa tak puas dengan sikap kepolisian TTU. Masyarakat Biboki mendesak Polisi segera memproses hukum pelaku penganiayaan tersebut tanpa melihat embel embel jabatannya.

Masyarakat juga mendesak Komnas HAM dan LSM peduli kemanusiaan memberi perhatian serius terhadap kasus ini. Selain itu masyarakat Biboki juga meminta pemilik lahan untuk terus mempertahankan hak mereka yang ingin lahannya dicaplok. (Tri Wahyuni)