Keunikan Program PINTAR: Pendampingan bagi Guru Setelah Pelatihan

0

JAKARTA (Suara Karya): Keunikan dari program PINTAR (Pengembangan Inovasi Kualitas Pembelajaran) yang digagas Tanoto Foundation (TF) adalah tersedianya kegiatan pendampingan. Setelah pelatihan, guru tidak “dilepaskan” begitu saja, mereka dapat pendampingan dari para fasilitator daerah.

“Pendampingan diperlukan, agar materi dan praktik selama pelatihan bisa diimplementasikan secara benar,” kata Wakil Kepala Sekolah SMPN 3 Pekanbaru Bidang Kurikulum, Elita Yubari di sela kunjungan ke sekolah tersebut di Pekanbaru, Riau, akhir pekan lalu.

Elita menuturkan, pihaknya sering ikut beragam pelatihan guru yang digelar pemerintah, namun tidak ada model pendampingan seperti yang dilakukan Tanoto Foundation. “Saat pelatihan kami langsung praktik, tak sekadar mendengar ceramah dari narasumber,” katanya.

Dengan adanya pendampingan, menurut Elita, para guru peserta pelatihan tidak kehilangan arah dan bisa berjalan sesuai jalurnya. “Pendampingan yang dilakukan Tanoto Foundation berlangsung usai pelatihan hingga satu tahun ke depan,” lanjutnya.

“Setiap ada masalah di kelas, saya bisa kontak pendamping di Pekanbaru untuk dicarikan jalan keluarnya. Perbaikan terus dilakukan. Hal itu yang membuat para guru semangat dan komitmen dalam menerapkan hasil pelatihan,” katanya.

Untuk memastikan guru berkomitmen dalam pembelajaran aktif di kelas, kepala sekolah juga rajin melakukan supervisi. “Saya ikut mendampingi guru dalam menyiapkan perangkat dan media pembelajaran. Pascasupervisi, saya ajak teman guru berdiskusi hasil pembelajaran, apa yang sudah berhasil dan apa saja yang perlu diperbaiki ke depan. Dampaknya, para guru selalu berusaha meningkatkan kualitas pembelajaran,” katanya.

Ditambahkan, setelah perubahan terjadi di semua kelas, kepala sekolah mengundang orang tua siswa untuk melihat pembelajaran di kelas. Hasil karya siswa dipajang di dinding kelas. Ternyata banyak orang tua yang terkesan atas hasil belajar anak-anaknya.

“Jadi, bukan hanya angka-angka dalam rapor saja yang dilaporkan, tetapi juga hasil riil pembelajaran di kelas juga bisa diketahui orang tua,” ucapnya.

Dalam pembelajaran aktif, Elita menambahkan, siswa difasilitasi belajar dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS atau Higher Order Thinking Skill). Kemampuan itu penting untuk siswa agar bisa bersaing di era digital saat ini.

Hasil pembelajaran HOTS tersebut bisa dilihat dari pajangan hasil karya siswa di semua kelas. Seperti laporan siswa kelas IX yang membuat VCO (virgin coconut oil) atau minyak kelapa yang mengandung bakteri baik. Pada laporan tersebut siswa memaparkan langkah-langkah pembuatan VCO dari buah kelapa tua yang masih segar, menunjukkan manfaat VCO, dan menarik kesimpulan dari kegiatan yang mereka lakukan.

Ada juga laporan hasil pemecahan masalah matematika tentang belajar koordinat kartesius yang mempelari transformasi. Tulisan kreatif siswa berupa cerpen dan puisi juga banyak di pajang di madding kelas.

Disinggung soal biaya dalam penyediaan  Alat Tulis Kantor (ATK), media pembelajaran, serta alat dan bahan untuk praktik, Elita mengatakan, hal itu tergantung kebutuhan. Umumnya siswa membawa sendiri bahan yang akan digunakan dalam pembelajaran.

“Sebenarnya media pembelajaran yang dipakai tak mahal, seperti kertas manila besar, spidol atau tali rafia. Karena hasilnya nyata, anak maupun orang tua tak keberatan mengeluarkan biaya tambahan untuk beli kebutuhan pembelajaran praktik,” ucapnya.

Jika sekolah membuat sendiri media pembelajaran, maka sekolah boleh menganggarkan kebutuhan pembelajaran aktif dari dana BOS dan memajang laporan penggunaan keuangan sekolah secara transparan.

“Dalam konteks ini peran pentingnya komite sekolah dan orangtua dilibatkan dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program sekolah. Peningkatan mutu pendidikan tidak bisa jalan sendirian. Butuh dukungan bersama,” katanya.

Hal senada dikemukakan Ketua Paguyuban SMPN 3 Pekanbaru, Sofyandi. Ia mengaku senang melihat perubahan yang terjadi di sekolah anaknya. Anak pergi ke sekolah dengan senang hati, karena merasa apa yang diajarkan sekolah sangat menyenangkan.

“Terus terang saja, anak saya sejak masuk sekolah ini tidak pernah mengeluh. Berangkat sekolah selalu gembira,” kata Sofyandi yang membuka usaha warungan itu tersenyum lebar.

Menurutnya, kolaborasi yang kuat antara orang tua siswa dengan sekolah, membuat masyarakat merasa memiliki, sementara lingkungan merasa diperhatikan. Itu terlihat dari kesediaan orang tua siswa yang berprofesi sebagai pelatih karate dalam kegiatan esktrakulikuler di sekolah tanpa dipungut bayaran.

“Sebelumnya orang tua siswa “alergi” terhadap komite sekolah, karena dianggap sebagai kepanjangan tangan kepala sekolah. Ini sebenarnya persoalan komunikasi saja. Jika hasilnya nyata, orang tua juga tidak keberatan jika harus menyumbang,” katanya menandaskan. (Tri Wahyuni)