Kiat SMKN 3 Pekanbaru Gaet 6 Hotel dalam Program PK SPD

0

PEKANBARU (Suara Karya): Prestasi SMKN 3 Pekanbaru dalam menggaet mitra industri, tak hanya satu tapi 6 hotel sekaligus untuk pengembangan SMK Pusat Keunggulan (PK) Skema Pemadanan Dukungan (SPD), tampaknya patut mendapat acungan jempol.

Pasalnya, program tersebut tak hanya minta komitmen dari industri, tetapi juga pendanaannya. Padahal, bukan perkara mudah untuk mengorek ‘isi kantong’ industri jika tidak hal itu tidak memberi imbal balik komersial.

Seperti dikemukakan Kepala SMKN 3 Pekanbaru, Rita Johan berkat kerja kerasnya itu ia mendapat dana bantuan senilai Rp1,6 miliar, yang diberikan industri dalam bentuk program. Dari pemerintah dalam bentuk pembangunan fisik dan peralatan.

“Dana pemerintah digunakan untuk renovasi kamar hotel agar memenuhi standar industri. Sehingga siswa bisa latihan persis yang ada di hotel,” kata Rita Johan sambil menunjukkan salah satu kamar di Edotel yang ada di sekolahnya, pekan lalu.

Rita menjelaskan, status SMK PK sebenarnya telah diperoleh SMKN 3 Pekanbaru sejak 2021. Untuk pengembangannya, sekolah tersebut mendapat bantuan untuk pembelajaran, fisik dan peralatan.

SMKN 3 Pekanbaru memiliki 6 program studi yang terkait dengan dunia pariwisata yaitu perhotelan, usaha perjalanan wisata, kuliner, busana, spa dan kecantikan serta broadcasting.

Sekolah dengan luas 11.820 meter persegi itu memiliki fasilitas belajar mengajar lengkap seperti laboratorium komputer, 5 lokal training boga, 5 lokal ruang praktek busana, 2 lokal praktek tata kecantikan, 26 kamar hotel, dan 1 ruang perpustakaan.

Pada 2022, SMKN 3 Pekanbaru mendapat bantuan untuk skema pemadanan dukungan. Syaratnya, sekolah harus mencari industri yang mau terlibat aktif di sekolah dan mengalokasikan dananya untuk program pengembangan kompetensi siswa.

“Syarat itu mendorong kami untuk bergerak cepat. Kami undang 25 industri perhotelan di Pekanbaru dan sekitarnya terkait program tersebut. Dari jumlah itu, yang datang hanya 12, tetapi ada 10 yang bersedia diwawancarai,” ujarnya.

Setelah mengikuti tahapan yang disyaratkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbusristek), terpilih 6 industri perhotelan yang mau berkolaborasi. Industri perhotelan sengaja dipilih agar bisa menampung setiap program keahlian di SMKN 3 Pekanbaru.

“Perhotelan itu ibarat rumah, karena mencakup semua kecakapan yang dipelajari di sekolah, mulai dari makanan, pakaian, kecantikan, dan multimedia,” kata Rita.

Enam hotel yang berkolaborasi dengan SMKN 3 Pekanbaru, yaitu Angkasa Garden Hotel, Grand Jatra Hotel, Furaya Hotel, Khas Pekanbaru Hotel, Royal Asnof Hotel dan Grand Elite Hotel.

Rita menyebut 10 intervensi yang dilakukan dalam kolaborasi. Intervensi itu mencakup penyelarasan kurikulum, pengadaan guru tamu dari industri, magang atau praktik kerja lapangan, pelatihan baginguru, serta peningkatan sarana dan prasarana.

Selain itu, ada pengembangan ‘teaching factory’, sertifikasi kompetensi bagi siswa atau guru, dan penguatan pembelajaran. Termasuk komitmen penyerapan lulusan, dan kegiatan lain-lain yang mendukung program link and match.

“Kolaborasi ini diharapkan berdampak positif bagi siswa. Program magang atau praktik kerja lapangan dilakukan selama 6 bulan agar siswa belajar di industri dengan skema berganti posisi untuk menambah pengalaman,” katanya.

Kendala program, Rita menyebut, hanya satu terkait pengadaan guru tamu dari industri. Karena kesibukan para General Manager (GM) hotel, mencocokkan jadwal guru tamu menjadi tantangan tersendiri.

“Padahal siswa suka sekali jika ada guru tamu dari industri. Dari penampilan saja, sudah membuat kagum siswa. Karena biasanya para GM datang dengan seragam jas dan dasi. Hal itu memberi image positif bagi para siswa,” tutur Rita.

Rita mengungkapkan, pihaknya akan tetap menggandeng enam industri perhotelan tersebut di tahun depan. Selain menargetkan penambahan jumlah industri menjadi 10 hotel.

“Karena ada sejumlah hotel di luar kota Pekanbaru meminta kerja sama. Kami berusaha hotel yang menjadi mitra semua berbintang, demi menjaga kompetensi siswa,” ujarnya.

Dalam kesempatan terpisah, Pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Kemdikbudristek, Saryadi mengatakan, ada 373 SMK di Indonesia yang merasakan manfaat besar dari program SMK PK SPD, mulai dari sisi kurikulum yang semakin selaras dengan industri, teaching factory yang sudah berorientasi produk, guru yang semakin banyak tersertifikasi, dan sebagainya.

Program SMK PK SPD 2022 juga berhasil meraih dukungan positif dari industri, yang dibuktikan lewat tingginya minat industri untuk terlibat dalam skema pemadanaan dukungan. Ada 349 industri yang bergabung dengan total komitmen investasi sebesar Rp439,25 miliar.

Bentuk komitmen industri berupa penguatan sarana dan prasarana pembelajaran sebesar Rp173 miliar, praktik kerja lapangan sebesar Rp59 miliar, pelatihan dan sertifikasi guru sebesar Rp53 miliar, pengembangan teaching factory sebesar Rp52 miliar, praktisi mengajar (guru tamu) sebesar Rp30,3 miliar, penyelarasan kurikulum sebesar Rp16 miliar, dan bentuk lainnya sebesar Rp56,23 miliar.

Kemdikbudristek akan memadankan investasi dari industri dengan perbandingan 1:1, di mana plafon pendanaan maksimal dari pemerintah untuk satu sekolah Rp3 miliar.

“Melalui program SMK PK SPD diharapkan akan terjalin kemitraan yang lebih terukur antara DUDI dengan SMK,” ucap Saryadi menegaskan. (Tri Wahyuni)