KIP Kuliah Merdeka Buka Akses bagi Anak Tak Mampu Masuk Prodi Unggulan

0

JAKARTA (Suara Karya): Progam KIP Kuliah Merdeka membuka akses bagi siswa berprestasi dari keluarga tidak mampu untuk melanjutkan studi ke berbagai program studi unggulan di perguruan tinggi terbaik di Indonesia.

“Berkat KIP Kuliah Merdeka, anak berprestasi dari keluarga tidak mampu jadi lebih percaya diri mendaftar ke prodi-prodi unggulan, yang umumnya berbiaya mahal,” kata Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim dalam acara penyerahan KIP Kuliah Merdeka di Kampus IPB University Bogor, Jumat (10/12/21).

Nadiem dalam kesempatan itu didampingi segenap jajarannya, yaitu Sesjen Kemdikbudristek Suharti, Pelaksana tugas (Plt) Dirjen Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Diktiristek), Nizam dan Dirjen Pendidikan Vokasi, Wikan Sakarinto.

Nadiem mengaku senang, karena ada kenaikan jumlah mahasiswa pemegang KIP Kuliah Merdeka di prodi-prodi unggulan hingga mencapai 15 persen dibanding tahun lalu. Ia berharap angkanya terus bertambah setiap tahun.

“KIP Kuliah Merdeka adalah bentuk intervensi pemerintah dalam meningkatkan angka partisipasi pendidikan tinggi, agar anak-anak dari keluarga tidak mampu bisa kuliah,” ujarnya.

Ke depan, lanjut Nadiem, pemerintah akan semakin memperhatikan anak-anak berprestasi dari keluarga tidak mampu agar dapat meningkatkan kesejahteraan keluarganya melalui pendidikan tinggi berkualitas.

Mendikbudristek menjelaskan, penyempurnaan kebijakan KIP Kuliah mencakup peningkatan besaran uang kuliah atau biaya pendidikan hingga mencapai Rp12 juta per semester untuk program studi dengan akreditasi A. Selain itu, ada juga peningkatan biaya hidup yang disesuaikan dengan indeks harga kemahalan setempat.

Dengan KIP Kuliah Merdeka, kata Nadiem, orangtua juga bisa mendorong anaknya untuk melanjutkan pendidikanya hingga perguruan tinggi lewat dukungan dana dari negara. “Dengan peningkatan ini, KIP Kuliah memerdekakan calon mahasiswa untuk meraih mimpinya,” ucap Nadiem.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal (Sesjen) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek), Suharti melaporkan, penerima KIP Kuliah Merdeka 2021 paling banyak berasal dari perguruan tinggi swasta (PTS) sebesar 2.013 PTS (94 persen).

Sementara dari perguruan tinggi negeri (PTN) sebanyak 122 PTN (6 persen). Adapun jumlah mahasiswa penerima di PTS sebesar 103.730 (52 persen). Sedangkan di PTN, terdapat 96.270 mahasiswa (48 persen) penerima KIP Kuliah Merdeka.

“Ada 23 persen penerima KIP berkuliah di program studi akreditasi A,” tuturnya.

Alifia Cantika Nurrahma, mahasiswa Agronomi dan Holtikultura IPB mengaku terharu dan bangga karena terpilih sebagai peserta KIP Kuliah Merdeka. “Semoga saya bisa mewujudkan mimpi sebagai peneliti dan mencerahkan masa depan saya dan keluarga,” ucapnya.

Sementara Ananda Shafa Rahma Adilla mahasiswi Pendidikan Kedokteran Universitas Indonesia juga bersyukur dengan dukungan KIP Kuliah. Dia dapat selangkah lebih maju mewujudkan cita-citanya menjadi Dokter seperti impian dari almarhumah ibunya.

KIP Kuliah Merdeka juga meningkatkan peran perguruan tinggi dalam memberi kesempatan seluas-luasnya kepada calon mahasiswa kurang mampu untuk masuk ke prodi unggulan.

Sebagaimana disampaikan Rektor IPB, Arif Satria, kebijakan KIP merupakan langkah strategis dan memihak mahasiswa yang kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.

Arif menambahkan, mahasiswa IPB tidak boleh DO (drop out) hanya gara-gara tidak punya uang untuk kuliah. “Kami bersyukur IPB dan pemerintah bisa bersinergi untuk memastikan keberlanjutan pendidikan bagi seluruh mahasiswa. Karena saya yakin, pendidikan adalah cara untuk memutus mata rantai kemiskinan,” katanya.

Pendidikan tinggi memiliki potensi yang berdampak positif dalam membangun SDM unggul sesuai visi Presiden Joko Widodo. Di akhir sambutannya, Mendikbudristek mengimbau para pemimpin perguruan tinggi agar di masa depan ada lebih banyak lagi calon-calon mahasiswa terbaik yang memiliki kesempatan untuk berkuliah.

“Mari mewujudkan SDM unggul untuk Indonesia maju dengan bergerak serentak menyukseskan KIP Kuliah Merdeka dan Merdeka Belajar,” kata Nadiem.

Sepuluh orang Mahasiwa yang menerima KIP Kuliah Merdeka dari Mendikbudristek, antara lain Alifia Cantika Nurrahma (Mahasiswa IPB asal Padang, Sumatra Barat), Ananda Shafa Rahma Adilla (Mahasiswa Universitas Indonesia asal Pemalang, Jawa Tengah), Yohanes Adrian Biku Pia (Mahasiswa ITB asal Flores, NTT), Muhammad Akbar (Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta asal Riau), Tania Butarbutar (Mahasiswa Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya asal Sihiong, Sumatra Utara).

Selanjutnya, Fayza (Mahasisa Universitas Pakuan asal Sanggau, Kalimantan Barat), Ikram Syafiq (Mahasiswa Universitas Padjajaran asal Medan, Sumatra Utara), Nurjalali Wal Ikhram (Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta asal Tanah Datar, Sumatra Barat), Sanjiwan Pasaribu (Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa asal Labuan Batu, Sumatra Utara), Siti Nursaba (Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia asal Pinrang, Sulawesi Selatan). (Tri Wahyuni)