KKP Latih Nelayan Kaltim Gunakan Teknologi Tepat Guna

0
Ilustrasi - Desa nelayan. (en.wikipedia.org)

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melatih nelayan di Provinsi Kalimantan Timur dalam menggunakan aplikasi teknologi tepat guna dalam rangka membantu menangkap ikan sehingga dapat menambah produktivitas sektor perikanan di daerah tersebut.

“Kegiatan ini juga menggandeng PT XL Axiata Tbk untuk memberikan pemanfaatan teknologi digital melalui aplikasi Laut Nusantara beserta perangkatnya,” kata Direktur Perizinan dan Kenelayanan KKP Ridwan Mulyana dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu.

Dalam kegiatan yang berakhir pada 25 Oktober 2020 itu diajarkan mengenai aplikasi yang memberikan kemudahan bagi nelayan antara lain dalam menangkap ikan dengan memberikan informasi peta sebaran ikan.

Selain itu, ujar dia, diajarkan pula mengenai informasi bahan bakar untuk efisiensi dan peta prakiraan cuaca laut untuk keselamatan sehingga aktivitas produksi perikanan dapat meningkat hanya melalui gawai.

Ini menjadi salah satu solusi bagi nelayan ketika menangkap ikan sehingga diharapkan dapat mengubah prinsip dari mencari ikan menjadi menangkap ikan untuk meningkatkan hasil tangkapan mereka.

“Selain memberikan wawasan tentang teknologi tepat guna, kami juga berikan fasilitasi akses permodalan dan perlindungan nelayan melalui asuransi mandiri yang bekerjasama dengan PT. BRI (persero) serta PT. Jasindo,” jelas Ridwan.

Tidak hanya itu, KKP juga memberikan bimtek bagi istri/putri nelayan melalui berbagai macam pelatihan. Mereka diberikan materi tentang pengolahan sampah dan diversifikasi limbah kepala udang menjadi produk ekonomis di masa pandemi Covid-19 dari PT. Pertamina (Persero) Hulu Mahakam.

Kalangan pasangan dan anak nelayan itu juga diajarkan bimtek inovasi produk perikanan bernilai ekonomis dan berdaya saing melalui pelatihan pengolahan ikan menjadi brownies dan cendol ikan dari tim Institut Pertanian Bogor (IPB), serta pelatihan manajerial keuangan oleh PT Permodalan Nasional Madani (PNM) melalui program PNM Mekaar (membina ekonomi keluarga sejahtera).

Sesuai dengan tema inovasi perizinan dan kenelayanan pada masa pandemi untuk nelayan, Ridwan menambahkan kegiatan tersebut merupakan bentuk kehadiran pemerintah untuk meningkatkan produktivitas serta menggerakkan perekonomian nelayan pada masa pandemi.

“Belum ada kepastian sampai kapan pandemi ini akan berakhir. Di sektor kelautan dan perikanan, nelayan kecil menjadi sektor yang paling terdampak,” katanya.

Menurut Ridwan, dampak yang paling dirasakan adalah harga ikan yang turun drastis, meskipun hasil tangkapan stabil.

Kondisi itu memaksa mereka harus punya inovasi guna mempertahankan perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan mereka di tengah pandemi COVID-19.

“Kita juga berikan kemudahan akses permodalan kepada nelayan untuk meningkatkan kapasitas usahanya. Kita hadirkan langsung BLU-LPMUKP, PT BRI (Persero) dan PT PNM di lokasi kegiatan untuk memfasilitasi nelayan mendapatkan permodalan,” ujar Ridwan.

Nelayan diimbau agar memiliki perlindungan diri dalam menjalankan usahanya melalui asuransi mandiri PT Jasindo.

Hadirnya lembaga keuangan dan lembaga asurasi ini untuk mendampingi dan memproses pengajuan pinjaman dan kemudahan serta wawasan tentang mendaftarkan diri menjadi peserta asuransi bagi nelayan dan wanita nelayan. (M Chandra)