Kolaborasi Indonesia-Jepang Bangun Ekosistem Inovasi lewat Kedaireka

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dan Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang akan berkolaborasi dalam pengembangan ekosistem reka cipta.

Hal itu terungkap dalam webinar bertajuk “Inno-Ka (Innovation Kedaireka): Building Reka Cipta Ecosystem Indonesia-Japan” yang digelar daring, Kamis (22/4/2021). Kegiatan itu memperkenalkan ekosistem reka cipta di masing-masing negara.

Tampil sebagai pembicara adalah Division Global Strategy Bureau, Ministry of Internal Affairs and Communication Japan, Yasuko Kasai, Business Network Promotion Office, Kadokawa ASCII Research Labolatories, Inc., Anthony Ashurst, Bluqat Quantum Computing, Tokyo Japan, Yuchiro Minato dan Koordinator Tim Kerja Akselerasi Reka Cipta, Achmad Adhitya Maramis.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), Nizam, menyampaikan kebijakan Kampus Merdeka serta Kedaireka sebagai upaya membangun ekosistem reka cipta di Indonesia. Karena revolusi industri 4.0 mengharuskan pendidikan menitikberatkan pada kreativitas dan penguasaan teknologi.

“Revolusi industri 4.0 akan menyebabkan hilangnya 23 juta pekerjaan yang digantikan mesin pada 2030. Tetapi di sisi lain, hal itu juga memberi peluang atas terciptanya pekerjaan baru yang belum pernah ada sebelumnya sebanyak 27-46 juta lapangan kerja,” ujar Nizam.

Hal itu, menurut Nizam, merupakan tantangan bagi dunia pendidikan tinggi untuk mempersiapkan lulusan yang memiliki ‘skill’ sesuai kebutuhan di masa depan seperti ‘adaptive’, ‘agile learning’, ‘self directed’, ‘entrepreneur’, ‘complex problem solver’, ‘digital literacy’, ‘multi disciplinary’ serta ‘global citizenship’.

“Jika melihat tren, ada kecenderungan generasi milenial menciptakan bisnis baru yang kita kenal dengan ‘startup’. Hal itu terbukti, dimana 5 dari 10 ‘unicorn’ di regional ASEAN berasal dari Indonesia,” katanya.

Ditambahkan, kemampuan membangun ‘startup’ di kalangan milenial karena berhasil menggabungkan konsep kearifan lokal dengan kompentensi penguasaan teknologi informasi. Itulah pentingnya mengakselerasikan kreativitas dengan penguasaan teknologi.

“Saat ini ada 4.670 perguruan tinggi di Indonesia dengan potensi mahasiswa yang luar biasa jika dikembangkan secara maksimal. Sehingga lulusan memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dunia industri di masa depan,” ucapnya.

Karena itu, lanjut Nizam, program Inno-Ka diharapkan membuka wawasan milenial terkait inovasi terkini yang dihadapi para inovator serta pelaku industri di tingkat internasional, khususnya Jepang. Dialog dimana para inovator Indonesia dapat memberi ide, gagasan serta solusi atas tantangan yang dihadapi pelaku industri di Jepang.

Rencananya, program Inno-Ka akan dilaksanakan secara berkala untuk memperat ekosistem inovasi kedua negara.

Kemdikbud juga akan mengundang MIC serta para inovator Jepang untuk bisa berkantor di Indonesia untuk memperkuat kolaborasi dua negara.

Yasuko Kasai berharap kerja sama dapat dirancang untuk menciptakan nilai destruktif dan global dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi. Mereka mendukung ide-ide teknologi ambisius yang luar biasa dengan potensi hasil yang luar biasa pula.

Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Paristiyanti Nurwardani menyampaikan apresiasi kepada penyelenggara yang membuat kegiatan yang luar biasa.

“MIC berhasil melaksanakan berbagai program yang mengakomodasi berbagai talent dengan keunikannya sehingga mereka menjadi siap memasuki dunia kerja sesuai kebutuhan industri. Indonesia ingin menduplikasi keberhasilan itu melalui Kedaireka,” ujar Paris. (Tri Wahyuni)