Kolaborasi IPB-Deakin University Australia Bahas Kaderisasi Petani Muda

0

JAKARTA (Suara Karya): IPB University bekerja sama Deakin University menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema anak muda di sektor pertanian secara daring, Rabu (22/9/21). Kegiatan itu juga mempertemukan organisasi pertanian dari dua negara, guna mendukung rencana tersebut.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud), Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Canberra, Australia, Mukhamad Najib menjelaskan, tema diskusi itu dipilih karena proses kaderisasi petani dalam beberapa tahun terakhir ini mengalami stagnasi bahkan sampai menurun

“Jika tidak ada lagi yang mau produksi pangan, maka bahaya sedang mengancam umat manusia. Apalagi jumlah penduduk bertambah setiap tahun, yang berarti kebutuhan pangan juga meningkat,” kata Najib saat membuka FGD tersebut.

Najib berharap, proyek kerja sama menjadi sarana pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara petani muda di Indonesia dan Australia. Pada akhirnya, kegiatan tersebut mendorong motivasi anak-anak muda untuk menjadi petani dengan menggunakan teknologi dalam pekerjaannya.

Tim inti dari Deakin University adalah Dr Risti Permani. DaribIPB University diwakilkan Ketua Departemen Ilmu Ekonomi, Dr Sahara dan dosen agribisnis, Dr Suprehatin.

Risti Permani menjelaskan, kerja sama dilakukan dengan cara mengumpulkan berbagai keahlian dari para pemimpin muda Indonesia dan Australia tentang pencapaian, inovasi dan ketahanan mereka dalam menavigasi bisnis di bidang pertanian.

“Proyek ini juga melingkupi aktivitas penelitian dan perumusan kebijakan di bidang pertanian, guna mendukung pemuda dalam berkarir di sektor pertanian,” jelasnya.

Kepada pimpinan proyek, Najib menyampaikan, kantor Atdikbud di Canberra sepenuhnya mendukung setiap inisiatif yang mendorong kerja sama antara Indonesia dan Australia, khususnya bidang pendidikan dan kebudayaan.

“Saya berharap tim melibatkan banyak mahasiswa dalam proyek ini. Hal itu sejalan dengan agenda Kampus Merdeka. Dengan demikian, mahasiswa memiliki pengalaman dan jejaring dengan peneliti dari Australia. Mahasiswa juga bisa terjun ke dunia pertanian setelah lulus,” ucapnya.

Mukhamad Najib menambahkan, kesuksesan program Kampus Merdeka butuh kolaborasi yang melibatkan semua pemangku kepentingan. Kolaborasi itu bisa berupa kesediaan universitas luar negeri menerima mahasiswa Indonesia yang secara teknis mencakup ‘credit learning’, ‘research attachment’ maupun ‘short course’.

“Pemerintah berkomitmen untuk memfasilitasi kebijakan Kampus Merdeka ini dengan berbagai kegiatan maupun pendanaan yang diperlukan,” ucap Najib.

Hadir dalam kesempatan itu, Konsulat Jenderal RI untuk Victoria dan Tasmania, board member Australia-Indonesia Institute, perwakilan dari The Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia. (Tri Wahyuni)