Kompetensi Tinggi, Lulusan STP Trisakti Mudah Terserap di Dunia Kerja

0

JAKARTA (Suara Karya): Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Trisakti menggelar wisuda bagi 600 lulusan Program Studi Magister Pariwisata, Sarjana Hospitaliti dan Pariwisata, Sarjana Terapan Perhotelan dan Usaha Perjalanan Wisata, serta Program Diploma Tiga Perhotelan Tahun Akademik 2020/2021.

Wisuda digelar secara hybrid (daring dan luring) di Kampus STP Trisakti, Tanah Kusir, Jakarta Selatan, pada 25-27 November 2021.

Pada hari ketiga pelaksanaan, STP Trisakti mewisuda program S2, yang mana diantara mereka adalah para pimpinan industri perhotelan dan juga pengurus Indonesia Hotel General Manager Association (IHGMA).

Hadir secara luring dalam acara tersebut, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah III, Agus Setyo Budi dan secara daring Ketua Umum Badan Pengurus Yayasan Trisakti, Bimo Prakoso.

Ketua STP Trisakti, Fetty Asmaniati dalam sambutannya mengatakan, meski pandemi covid-19 meluluhlantakan dunia pariwisata, namun hal itu tidak mempengaruhi minat lulusan sekolah menengah atas mendaftar ke STP Trisakti. Hal itu terlihat pada penerimaan mahasiswa baru, yang dari tahun ke tahun menunjukkan angka peningkatan.

“Meski dunia pariwisata sedang lesu karena pandemi, hal itu tidak menyurutkan mereka yang ingin kuliah pariwisata dan perhotelan. Karena tahun ini, peminat STP Trisakti tetap tinggi,” ujarnya.

Hal itu bisa terjadi, menurut Fetty, karena masa tunggu lulusan STP mendapat pekerjaan terbilang pendek. Hasil survey yang dilakukan kepada 241 lulusan, diketahui ada 145 orang yang mengatakan masa menunggu hanya 1-3 bulan setelah lulus, dan sisanya 96 orang mengaku dapat pekerjaan dibawah 6 bulan setelah lulus.

“Itulah salah satu alasan kenapa STP Trisakti menjadi pilihan bagi mereka yang ingin berkarir di industri pariwisata dan perhotelan,” kata Fetty seraya menambahkan ada sekitar 21 lulusan STP Trisakti yang diterima kerja di Hongkong sebelum lulus.

Keberhasilan STP Trisakti dalam menghasilkan lulusan yang siap kerja mendapat apresiasi dari Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah III, Agus Setyo Budi. “Saya berharap kinerja yang sudah bagus itu dapat ditingkatkan lagi hingga mencapai standar LLDikti Wilayah III agar berdaya saing global,” ujarnya.

Begitupun dengan keberhasilan STP Trisakti dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi berupa pembinaan Kawasan Tujuan Wisata, menurut Agus Setyo Budi, sebaiknya diintegrasikan dengan Unit Satuan Pendidikan Tinggi Trisakti lainnya di bawah Yayasan Trisakti. Namun, hal itu tetap disesuaikan dengan kompetensi unggulan masing Unitsatdikti tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Yayasan Trisakti, Mayjen TNI (Purn) Bimo Prakoso meminta pada lulusan agar menjadi harimau yang tangguh, bukan kambing saat masuk dunia kerja. “Tunjukkan dirimu mampu bersaing di dunia kerja, tak hanya dalam negeri tetapi juga tingkat internasional,” ujarnya.

Ditambahkan, karena kesuksesan sangat ditentukan karya dan kreatifitas dari para wisudawan setelah kelak terjun ke dalam masyarakat. “Terus tingkatkan kompetensi. Jadikan ilmu pengetahuan sebagai modal utama untuk berdarma bhakti kepada negara,” kata Bimo menegaskan.

Salah satu lulusan STP Trisakti terbaik yang diwisuda tahun ini adalah Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistika dan Persandian Provinsi Banten, Eneng Nurcahyati. Ia mengaku semangat kuliah lagi, meski karirnya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) akan selesai.

“Banyak impian yang akan lakukan setelah pensiun sebagi ASN. Selain membesarkan sekolah menengah kejuruan (SMK) Pariwisata milik keluarga, saya juga ingin mengembangkan Pandeglang sebagai salah satu destinasi wisata di Banten,” kata Eneng yang diwisuda bareng suaminya Ari Eko Prianto yang menjabat sebagai Kepala SMK Pariwisata Baitul Hamdi.

Eneng memilih kuliah S2 di STP Trisakti karena reputasi yang bagus. “Awalnya saya kuatir bisa tidak membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan. Saya sedikit diuntungkan oleh pandemi, karena perkuliahan menjadi daring,” tutur peraih gelar Magister Pariwisata tersebut.

Kondisi itu, lanjut Eneng, tetap tidak mengurangi kualitas pembelajaran. Para dosen dirasakan sangat membantu. Mereka mudah dihubungi jika ada materi maupun tugas yang saya kurang dimengerti.

“Saya senang sekali, karena staff di STP Trisakti profesional dalam bekerja. Sehingga kuliah saya bisa selesai dalam dua tahun,” kata Eneng menandaskan.

Hal senada dikemukakan Dipo Mahnyani Br Sinaga. Guru SMK Negeri 1 Beringin, Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera itu memilih pascasarjana STP Trisakti karena alumni kampus tersebut untuk program S1. Ia diuntungkan lewat kuliah daring di masa pandemi, sehingga kehadirannya di kampus hanya tiap tiga bulan.

“Saya kuliah lagi untuk mengembangkan wawasan di bidang perhotelan, program studi yang saya ajarkan di sekolah. Pilih STP Trisakti karena saya lulusan S1 kampus tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, lulusan terbaik program pascasarjana STP Trisakti, Tina Nurzachra Latifah Rizki Liana juga mengaku bangga bisa kuliah di STP Trisakti. Sebagai guru wisata Bahari, SMK Negeri 3 Pandeglang itu bisa berprestasi karena materi yang dipelajari selama kuliah merupakan bagian dari pekerjaannya sehari-hari.

Ditambahkan, kuliah S2 yang dijalaninya tak mengganggu pekerjaan. Di masa pandemi, ia jadi punya waktu untuk belajar karena tak harus ke bolak balik Jakarta.

“Saya suka tim pengajar di STP Trisakti yang sangat akomodatif terhadap mahasiswanya. Mereka juga tidak pelit ilmu, sehingga perkuliahan bisa lancar,” kata Tina menandaskan. (Tri Wahyuni)