Kompetisi Anugerah Seni Basoeki Abdullah Kembali Digelar

0
Foto: Suarakarya.co.id/Tri Wahyuni

JAKARTA (Suara Karya): Anugerah Seni Basoeki Abdullah tahun ini kembali digelar. Peserta kompetisi tiga tahunan itu diperluas, tak hanya untuk kalangan pelukis, tetapi juga dari perupa dan film.

“Dengan demikian, karya Basoeki Abdullah bisa dieksplorasi lebih luas lagi,” kata Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Hilmar Farid dalam keterangan pers, di Jakarta, Senin (18/2/2019).

Pada kesempatan itu, Hilmar didampingi Kepala Museum Basoeki, Maeva Salmah, dan dewan juri yang juga pengamat seni Amir Sidharta dan Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Irawan Karseno.

Hilmar menjelaskan, tema kompetisi tahun ini adalah re-mitologisasi. Peserta diajak untuk berpikir kreatif atas konsep mitologi dalam karya Basoeki Abdullah, lalu menuangkannya dalam karya baru yang bersifat kekinian.

Karya Basoeki Abdullah dengan tema mitologi cukup banyak, antara lain, Djoko Tarub, Nyi Roro Kidul, Dewi Sri maupun karya dengan tema dunia pewayangan. Dalam konteks hari ini, mitologi masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, meski tak lagi mengemuka.

“Apalagi saat ini, tahun 2019 merupakan tahun ambang berbagai kepentingan. Mitologisasi menjadi atmosfir yang kental dalam bidang politik, ekonomi, sosial, agama hingga budaya,” tuturnya.

Hilmar berharap, peserta kompetisi tidak membuat karya serupa dengan tema mitologi milik Basoeki Abdullah. Tetapi, bagaimana mengambil semangat dari tema itu, lalu dituangkan kembali dalam karya baru, dikaitkan dengan kondisi Indonesia saat ini.

Hal senada dikemukakan Amir Sidharta. Ada 3 yang bisa dikembangkan terkait dengan re-mitologisasi yaitu kebangsaan yang mempertanyakan peran mitologi dalam perubahan dunia. Kedua, re-mitologisasi ketubuhan yang mengungkap mitos kecantikan dan problema sosial.

“Ketiga adalah re-mitologisasi lingkungan yang mengingatkan pentingnya kepedulian manusia terhadap semesta. Bagaimana mitos alam dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Amir menambahkan, karya dikirim via email paling lambat 12 juli 2019. Pengumuman finalis pada 23 Februari. Finalis diminta mengirim karyanya paling lambat 30 Agustus.

“Peraih Anugerah Seni Basoeki Abdullah diumumkan pada 25 September,” ucap Amir seraya berharap jumlah peserta melebihi kompetisi serupa tiga tahun lalu yang mencapai lebih dari 1000 orang.

Tentang video art, Amir menjelaskan, temanya sama. Durasi film maksimal 15 menit. “Untuk lebih jelasnya, informasi bisa dibaca di website Museum Basuki Abdullah,” ujarnya.

Kompetisi akan memilih 5 karya terbaik dari semua karya yang masuk, baik lukisan, instalasi maupun video art. Kelima karya tersebut akan dapat piagam penghargaan dan uang pembinaan total Rp125 juta. “Ini kesempatan emas bagi para seniman muda. Karena karyanya bakal dipamerkan di Museum Basoeki Abdullah,” ucap Amir menandaskan. (Tri Wahyuni)