Kompetisi Dexa Award 2020, Ladang bagi Saintis Muda untuk Berinovasi

0

JAKARTA (Suara Karya): Dexa Group tahun ini kembali menggelar perhelatan Award Science Scholarship (DASS) 2020. Kompetisi bernilai total Rp1 miliar itu diharapkan bisa menjadi ‘ladang’ bagi para saintis muda untuk berinovasi dalam penelitian bidang kesehatan.

Disebutkan, tiga pemenang DASS 2020 adalah Yoga Romdoni dari Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Indonesia, Reno Susanto dari Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Riau dan Joshua Eka Harap dari Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Lambung Mangkurat.

“DASS tahun ini telah masuk tahun ketiga. Kompetisi ini jadi prioritas bagi Dexa Group, karena sains adalah dasar kita bertumbuh. Sulit membayangkan di masa depan tanpa sains dan inovasi,” kata Pimpinan Dexa Group, Ferry A Soetikno dalam acara pengumuman pemenang DASS 2020 yang digelar secara virtual, Rabu (17/6/20).

Hadir dalam kesempatan itu Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro.

Ferry menjelaskan, DASS digelar setiap tahun untuk mendukung peningkatan inovasi di sektor farmasi dan kesehatan. Apalagi di era pandemi corona virus disease (covid-19), filosofi Dexa Group “Expertise for the Promotion of Health” telah dibuktikan dalam berbagai langkah konkret.

“Dexa Group berhasil memproduksi Hydroxychloroquine, Azithromycin dan chloroquine untuk pengobatan covid-19. Obat-obatan tersebut telah didonasikan kepada negara sejak awal April 2020 lalu,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Ferry, Dexa Group juga memberi prioritas pada tindakan pencegahan, dengan cara memperbanyak produk Stimuno sebagai fitofarmaka pertama untuk menjaga sistem imun manusia. Masih ada produk lainnya untuk daya tahan tubuh seperti Lycoxy dan Seloxy yang kandungan vitamin C dan Zinc dalam jumlah tinggi.

“Dexa Group juga memberi perhatian kepada tenaga medis, yaitu dokter dan perawat yang berada di garda terdepan dalam penanganan covid-19, terkait berbagai macam peralatan dan informasi kedokteran yang mereka butuhkan,” katanya.

Sementara itu Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro mengemukakan, era normal baru seharusnya menjadi peluang bagi para saintis untuk menciptakan riset dan inovasi demi Indonesia maju dan mandiri di sektor kesehatan.

“Di era normal baru ini, riset tentang vaksin dan pengobatan covid-19 yang efektif akan terus dikembangkan. Untuk itu, dibutuhkan peran saintis agar hasil penelitian dapat mencapai kemandirian bangsa. Dengan demikian, kita tak lagi bergantung pada produk impor,” ujarnya.

Ditambahkan, Indonesia membutuhkan banyak peneliti, inovator.dan orang-orang yang mau menciptakan solusi untuk menjawab tantangan bangsa di masa depan.

“Mari kita gunakan ilmu pengetahuan untuk kemajuan negara. Peneliti memegang peran penting untuk mendorong Indonesia menjadi negara maju dan mandiri, terutama di sektor kesehatan,” ucapnya.

Pada bagian akhir acara, Ketua Dewan Juri DASS 2020, Raymond Tjandrawinata yang juga menjabat sebagai Molecular Pharmacologist, Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences Dexa Group mengemukakan, kompetisi DASS digelar untuk mencari saintis muda yang mau berinovasi untuk menemukan obat yang bermanfaat bagi pasien covid-19.

“Keberadaan saintis ini penting, karena Indonesia tak akan maju tanpa didukung riset. Indonesia tak akan maju jika tidak memiliki produk unggulan dalam bidang kesehatan. Indonesia tak akan maju jika terus mengimpor produk kesehatan,” kata Raymond menegaskan.

Karena itu, lanjut Raymond, pihaknya berharap para saintis mau ikut berperan dalam membangun negara dan mendedikasikan ilmunya untuk kejayaan Indonesia,” tutur Raymond menandaskan.

Hingga saat ini DASS telah memberi lebih dari 3.000 beasiswa mulai dari tingkat pendidikan dasar, akademis profesi Apoteker hingga ke jenjang pendidikan tinggi sejak 2009 lalu.

Kegiatan program beasiswa pascasarjana DASS 2020 dimulai sejak 20 Februari 2020 hingga 20 April 2020. Program tersebut mampu menjaring 1.691 pendaftar dari 34 provinsi, 403 kabupaten/kota dan 378 universitas di seluruh Indonesia. (Tri Wahyuni)