Komunikolog Emrus Sihombing: Elite Politik dan Pejabat Jangan Membingungkan

0

JAKARTA (Suara Karya): Komunikolog Emrus Sihombing mengharapkan para elite politik, tokoh bangsa dan pejabat negara tidak memberikan pernyataan yang membingungkan masyarakat, apalagi kontraproduktif dalam menghadapi permasalahan virus corona atau Covid-19 yang masih terus meluas di Tanah Air.

“Kita sedang menghadapi persoalan Covid-19 yang penyebarannya meluas dengan korban sudah ratusan orang di negara kita. Ini suatu hal yang hendaknya dihadapi bersama dengan empati. Dari aspek komunikasi, hentikan lah perdebatan yang tidak produktif, misal memposisikan seseorang pada posisi tidak nyaman. Bahkan padangan-pandangan yang dikemukakan tidak begitu kuat dengan data yang dikemukakan. Kalaupun punya data (tentang masalah lain), jangan bahas sekarang tetapi lebih baik fokus pada masalah Covid-19. Mari kita berkolaborasi saling mendukung,” ungkap Komunikolog Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing dalam pembicaraan lewat telepon genggam dengan Suarakarya.co.id di Jakarta, Sabtu (4/4/20) malam.

Emrus menyatakan prihatin dengan para elite politik, tokoh bangsa dan pejabat negara sejak dari pusat hingga daerah yang saat ini masih saling lempar pernyataan tidak produktif, saling tuding dan malahan memberikan pernyataan-pernyataan politis dalam kondisi masyarakat yang mulai kesulitan ekonomi saat ini. Masyarakat harus mengikuti peraturan pemerintah dan maklumat Kapolri dalam menekan perkembangan virus mematikan, Covid-19, namun kalangan atas malahan ‘bertengkar’.

“Jadi, mereka para elite tidak mengerti kapan pesan itu disampaikan, pesan yang bagaimana disampaikan pada keadaan saat ini, dalam kontek bagaimana memang harus saling mengkritisi,” tegasnya.

Menurut Emrus, para elite bangsa seperti tidak mengerti kapan pesan-pesan akan disampaikan sehingga menghasilkan informasi yang berguna bagi masyarakat luas. Tidak pada tempatnya kalangan atas ini saling memperlihatkan kehebatan diri tetapi lebih baik memgemukakan ucapan yang menyenangkan rakyat.

“Bukankah MSD dan LBP tersebut berada dalam dialektika terkait masalah Covid-19 dan ibukota baru. Tidak produktif memperbincangkan itu, apakah itu legasi atau tidak tetapi bukan ini momennya. Setelah Covid-19 teratasi silahkan perbicangkan topik-topik lain tersebut. Sekarang kita fokus dulu (pada masalah Covid-19). Katakanlah ada masalah pembangunan ibukota baru seperti disampaikan MSD, bahwa dana tetap dialokasikan untuk ibukota negara bahkan disebutkannya bahwa LBP hanya duit-duit dan duit. Ini sangat tidak produktif saat ini, lebih baik tunjukan perhatiannya pada masalah Covid-19, misalnya mau menyumbang berapa dari hartanya. Jangan habiskan waktunya untuk mengkritik orang,” tandasnya.

Di samping itu, kata Emrus dari pihak LBP juga mengemukakan pernyataan yang tidak elok dan malahan bernada menekan dengan mengemukakan pernyataan akan membawa ke ranah hukum pada MSD, untuk masa ini. Bahkan terkesan mereka unjuk kekuatan.

“Dari pihak LBP yang katakan tidak cukup (MSD) minta maaf tetapi akan membawa ke ranah hukum, ini juga tidak produktif. Itu sama dengan pesan yang bernada tekanan bahkan, ‘ancaman’. Seolah-olah show force. Sebaiknya dikatakan (pihak LBP) saya maafkan dia. Nanti setelah selesai masalah Covid-19, mungkin kami perlu berdialog dan bertukar data (sama MSD). Ini (pernyataan) jauh lebih baik,” tutur Emrus.

Menyorot MSD dan LBP, Emrus mengemukakan, masing-masing punya kekurangan. Masing-masing juga pernah dan malahan berada dalam pemerintahan atau kekuasaan.

“Dia (MSD) sudah pernah menikmati hasil di BUMN (Badan Usaha Milik Negara) sebagai sekretaris menteri, jangan memberikan pernyataan yang bisa sampai ‘liar’ nanti. Berhentilah berwacana yang tidak produktif, justru bagaimana kita bergandengan tangan mengatasi masalah ini (Covid-19). Berikan bantuan dari kekayaan yang dimiliki. Malahan kritiknya ke arah rezim sekarang dan memberikan dukungan pada (tokoh tertentu) yang sedang diperbincangkan untuk calon presiden 2024. Arahnya ke sana dengan pernyataan bahwa tokoh ini baik dan sebagainya. Itu namanya politik tidak langsung memuji-muji seorang,” ujarnya.

Emrus yang dalam pernyataannya mengaku netral melihat dari pihak LBP juga rezim sekarang punya kekurangan yang harus diperhatikan namun, diakui pula dengan kerja mereka di kabinet.

“Rezim ini sudah bekerja, memang ada kelemahan tapi MSD tidak menjelaskan secara akademika fakta atas keberhasilan dan kekurangan (rezim). Ini kekurangan saja yang disampaikan dan melihat kelebihan tokoh yang lain padahal tokoh itu juga punya kelemahan.”

“Saya tidak katakan bahwa LBP sudah benar, harus diakui juga ada kekurangan-kekurangannya. Tetapi tidak pada waktu dan momennya untuk saat ini disampaikan (tudingan). Jangan pula ditarik persoalan ini, secara tidak langsung mendukung salah satu (tokoh) yang kemungkinannya akan menjadi capres 2024. Artinya MSD juga sudah berpihak,” kata Emrus.

Direktur EmrusCorner ini berharap kritik yang muncul saat ini lebih pada tujuan perbaikan dalam kerangka menekan dan memutus mata rantai perkembangan Covid-19.

“Siapapun dia, mengkritik (pemerintah?) pada masa ini kurang elok. Lihatlah permasalahan di depan mata (Covid-19), masalah kita yang harus diatasi bersama dengan bergandengan tangan,” ucapnya. (Indra)