Komunitas SADEL Jelajah Pulau Bali dengan Sepeda Lipat

0

JAKARTA (Suara Karya): Bersepeda, apalagi keliling kota, pasti menyehatkan dan menyenangkan. Sebuah komunitas sepeda bernama Sadel atau Sepeda Alumni Smandel (SMAN 8) Jakarta membuat satu gebrakan dengan bersepeda keliling Pulau Dewata dengan menggunakan Seli alias sepeda lipat.

Namun sebelumnya, di situasi Covid-19 yang mulai melandai, Sadel menyelenggarakan bersepeda bersama yang diikuti 10 peserta lintas Alumni Smandel dengan rute pertama, Seminyak menuju Tanah Lot, dan esoknya Seminyak menuju Ubud.

Olahraga yang sedang digandrungi bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di negara lain ini, memang menjadi pilihan banyak orang di tanah air sekarang buat berolahraga, tidak terkecuali mereka yang bergabung dalam komunitas Sadel. Mayoritas mereka memilih bersepeda funbike di Bali dengan menggunakan sepeda lipat.

Akhir pekan lalu, dengan harapan dapat turut meningkatkan minat turis lokal ke Bali, Ketua Umum Sadel, Indra Prakoso dan rekannya, Hiero Budi melakukan kegiatan keliling Bali dengan Seli, menempuh jarak sekitar 400 km, lumayan jauh. Tapi jarak ini dapat diselesaikan dalam waktu dua hari dua malam.

“Keliling Bali dengan Seli ini seperti ingin menyampaikan ke khalayak, bahwa Seli itu bukan hanya buat funbike atau gowes bersama keluarga saja lho, tetapi seli juga bisa buat keliling jarak jauh,” ujar Indra kepada media, di Jakarta Senin (22/11/2021). Indra berharap, semoga ke depan semakin banyak turis lokal yang berminat melakukan aktivitas bersepeda ke Bali, baik dengan RB, MTB, maupun dengan Seli.

Dengan ditemani oleh I Gede Hardana sebagai road captain, Indra dan Hiero Budi memulai perjalanan berkeliling Pulau Bali. Indra dan Hieo dilepas 6 rekannya dari Sadel yakni Henny Haryani (Cien),Yekti Mulyo Handayani (Yekti), Bertho Darmo Poedjo (Bertho), Yunita Fahmi (Yuyun), Maria Theresia Siera S (Santi), Antonius Markus Sigilipu (Tonnie) dan Aang Kusnadi (Aang-bukan Smandel tapi ikut dari Jakarta), serta pesepeda asli dari Bali, I Gede Hardana (Dede).

Perjalanan dimulai dari villa di wilayah Seminyak. Dari sana, mengambil jalur ke arah Tanah Lot dan stop point pertama di Patung Soekarno, di Kabupaten Tabanan. Dari Patung Soekarno perjalanan lanjutkan lagi menuju ke arah Gilimanuk.

Dalam perjalanan menuju Gilimanuk mereka berhenti di check point ke-2 yaitu di sebuah restoran Muslim pada jam 09:31 WITA, tetapi tidak makan saat itu juga, tapi dibungkus sebagai bekal karena waktu masih terlalu pagi sehingga meneruskan perjalan dan baru kami nikmati perbekalan tersebut pada jam 10:32 WITA.

Keindahan Pura Jagatnatha

Setelah Brunch, Indra dan Hiero melanjutkan perjalanan menuju ke Pura Jagatnatha di wilayah Jembrana, Kabupaten Negara.

“Kami sempatkan berpoto di sana dan menikmati keindahan dan kemegahan Pura tersebut pada jam 12:56 WITA, walaupun hanya bisa dari luar pagar saja,” kata Indra.

Setelah kami puas berpoto di Pura Jagadnatha, dianjutkan lagi perjalanan menuju arah Gilimanuk. Dalam perjalanan tersebut, mereka diminta berhenti oleh road captain di wilayah Melayah pada jam 14:54 WITA, disitu saya sempat tidur sebentar mengumpulkan tenaga dan ngopi karena memang kantuk sudah menyerang.

“Road Captain meminta kami berhenti sejenak karena setelah melalui perhentian di Melayah kami akan menghadapi tanjakan yang cukup Panjang. Di situlah pentingnya seorang road captain yang mengetahui betul medan yang akan dilalui. Wilayah Melayah sekitar 17 km dari Gilimanuk,” papar Hiero menambahkan.

Dalam perjalanan dari Melayah menuju Gilimanuk setelah melalui tanjakan yang panjang, barulah mereka memasuki wilayah Taman Nasional Bali Barat pada jam 15:19 WITA. Di hari yang panas begitu masuk Taman Nasional Bali Barat Langsung terasa sejuk. Sepanjang jalan yang dilalui banyak kera yang menyambut.

“Indah sekali pemandangan, walaupun kami harus tetap waspada dan memang ada peringatan agar tidak memberikan makan pada kawanan kera, sehingga mereka tidak mengejar kami untuk meminta makanan lebih,” ucap Indra dan Hiero.

Akhirnya kami sampai di Pelabuhan Gilimanuk pada jam 15:46 WITA. Mereka melanjutkan lagi perjalanan dari Gilimanuk menuju ke arah Singaraja. Dalam perjalanan tersebut banyak sekali menemui masjid besar, hal tersebut membuktikan bahwa Toleransi antar ummat beragama di Bali sangat baik. Tenggang rasa diantara ummat beragama mayoritas yaitu Hindu dengan ummat beragama Islam dan agama lainnya sangat baik.

“Teman seperjalanan saya dengan baik hati menerima usulan untuk berhenti sejenak di sebuah masjid sebagai check point pada jam 16:19 karena saya belum melaksanakan salat Dzuhur dan Ashar. Om Dede yang beragama Hindu dan Om Hiero yang beragama Kristen dengan sabar menunggu saya melaksanakan salat sambil mereka beristirahat. Masjid tersebut berada di wilayah Buleleng, Sumber Lampoh.

Setelah salat, perjalanan dilanjutkan dan mereka sempat makan sore di Buleleng Pejarakan jam 18:11 WITA. “Setelah kami merasa cukup, maka kami mencari penginapan di wilayah Pemuteran pada jam 19:51 WITA,” kata Indra.

Mereka rehat di penginapan sampai keesokan paginya untuk meneruskan perjalanan pada jam 05:23 WITA. Pada saat itulah lampu sepeda mereka semua mati. Dalam perjalanan menuju Singajara, kami terjebak hujan yang sangat lebat, akhirnya kami memutuskan untuk berhenti sambil sarapan di wilayah Seririt pada jam 07:23 WITA.

“Sarapan pilihan kami adalah siomay, tetapi ternyata siomay di sana ditambahi dengan sayuran berupa toge dan kol, rasanya enak sekali dan mengenyangkan,” ujar Indra.

Sticker sebagai Penanda

Begitu hujan agak reda, mereka memutuskan untuk menggunakan jas hujan dan menembus hujan. Di situlah tantangan lainnya dalam long ride, kami bersepeda dalam hujan menggunakan jas hujan tetapi badan tetap basah karena keringat yang mengalir bukan karena hujan hahaha.

“Kami merasa sangat kepayahan saat itu, karena tenaga seperti dikuras habis. Kondisi seperti sedang sauna ditengah hujan. Beruntung hujan kemudian berhenti dan saya yang sudah tidak tahan lagi segera melepas jas hujan agar bisa bernafas lebih lega hahaha,” ungkap Indra dan Hiero.

Dalam perjalan kembali kami sempat berhenti untuk membeli sate kambing di sekitar Pantai Lovina untuk makan siang.

“Kami sampai di Kota Singaraja kami ketemu dengan kawan lama yang bertugas di Singaraja pada jam 09:40. Setelah beramah tamah, kami lanjutkan lagi perjalanan menuju Karangasem. Sampai di perbatasan Karangasem pada jam 12:21 WITA dan kami terus lanjutkan perjalanan sampai menemukan pantai yang tenang untuk membuka perbekalan makan siang kami pada jam 13:06 WITA,” papar Indra dan Hiero.

Inda dan Hiero sangat menikmati sate kambing di tepi pantai yang tenang dan indah. Setelah makan siang, dilanjutkan lagi perjalanan menuju Karangasem dan sempat berhenti di check point Tulamben pada jam 14:58 WITA, di check point inilah kami sempat menempelkan sticker Sadel ke-2 sebagai tanda bahwa Sadel pernah menyusuri dan mengelilingi Pulau Bali. Sticker itu lah sebagai tanda bahwa Sadel telah menempuh perjalanan hampir tiga perempat keliling Pulau Bali.

“Kami ingin mengajak lebih banyak lagi pesepeda untuk bisa menikmati Pulau Dewata yang konon diciptakan pada saat Tuhan tersenyum. Pariwisata Bali sangat luar biasa dengan prokes yang cukup baik dan tentu diri kita sendiri yang harus bisa menjaga diri, menikmati budaya Bali dengan pemandangan alam yang indah sangat tepat dinikmati dengan menggunakan sepeda,” tutut Indra.

Banyak cara bersepeda tanpa harus bersusah payah, team Sadel siap untuk mengantar rekan-rekan pesepeda untuk explore Pulau Dewata nan Indah.

Total perjalanan kami berkeliing Pulau Bali:
Distance: 400.04 km
Moving Time: 22:40:03
Elevation Gain: 2.474 m

Berbekal pengalaman ini, lanjut Indra dan Hiero Sadel pun siap menjadi EO, sekaligus pendamping, apabila ada pesepeda yang berminat melakukan kegiatan bersepeda keliling Bali, baik perorangan maupun secara team. Bisa menghubungi Sdri.Yekti Handayani (08129060086). (Pramuji)