Kongres MTN Hasilkan 10 Rekomendasi untuk Pemajuan Musik Tradisi

0

JAKARTA (Suara Karya): Kongres Musik Tradisi Nusantara (MTN) yang difasilitasi Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) sejak 20 Agustus lalu menghasilkan 10 rekomendasi untuk pemajuan musik tradisi di Indonesia.

Hasil rekomendasi tersebut diserahkan secara virtual kepada Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim, Rabu (1/9/21).

Dari sepuluh rekomendasi, satu yang menarik adalah pembentukan Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) untuk Musik Tradisi Nusantara. Usulan itu mendapat apresiasi dari Mendikbudristek. Ia suka atas pemilihan kata ‘kolektif’ untuk lembaga manajemen seni.

Alasannya, seni bukan sekadar ekspresi, tetapi identitas bersama. “Identitas Nusantara selama ini terbangun oleh kolektivitas seni dan budaya, yang di dalamnya ada musik tradisi,” ucap Nadiem.

Terkait hal itu, Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid menyatakan komitmennya untuk mengawal proses pembentukan LMK hingga ke meja Kementerian Hukum dan HAM. Karena disadari, keberadaan lembaga tersebut akan membantu para musisi mendapatkan hak-haknya.

Satu poin rekomendasi dari kongres MTN terkait pendidikan adalah dimasukkannya pembelajaran musik tradisi Nusantara dalam pendidikan formal dan informal. Seperti dikemukakan Pimpinan kongres, Irwansyah Harahap. Ia meminta pemerintah mengintegrasikan pembelajaran musik tradisi nusantara ke dalam kebijakan Merdeka Belajar.

“Pengintegrasian itu guna menguatkan pemahaman siswa tentang keberagaman serta penguatan identitas kebangsaan,” katanya.

Menanggapi rekomendasi itu, Mendikbudristek mengatakan, pihaknya akan mengembangkan materi pendidikan musik tradisi untuk pendidikan formal dan informal, muladi dari jenjang PAUD sampai SMA, termasuk di Sekolah Luar Biasa.

“Musik tradisi sebagai identitas bangsa, sempat kurang terurus selama beberapa waktu lalu. Akibatnya, generasi muda Indonesia lupa akan akar budayanya. “Rekomendasi ini harus ditindaklanjuti, tak hanya untuk pemajuan musik tradisi itu sendiri, tetapi juga sebagai identitas bangsa,” tuturnya.

Nadiem menambahkan, komitmen untuk meningkatkan nilai dan keterampilan budaya, sosial, dan ekonomi para pelaku dan penggiat musik tradisi nusantara menjadi titik berat keberpihakan Kemdikbudristek. Untuk itu, disediakan program beasiswa bagi pelaku budaya.

“Guna menghidupkan kembali akan kecintaan masyarakat terhadap jati diri bangsa, Kemdikbudristek akan menyelenggarakan Festival Musik Tradisi Indonesia dalam waktu dekat,” ujarnya.

Untuk itu, Mendikbudristek mengundang para peserta kongres untuk hadir dalam acara peluncuran Program Merdeka Belajar Episode ke-13 pada 3 September 2021, berupa kanal budaya terpadu pertama di Indonesia bernama Kanal Indonesiana.

Hadir dalam kongres tersebut Direktur Musik, Film, dan Animasi, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Mohammad Amin dan Direktur Hak Cipta dan Desain Industri, Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), Syarifuddin.

Menanggapi rekomendasi kongres, Syarifudin mengungkapkan, pihaknya menyambut dengan tangan terbuka usulan pembentukan Lembaga Manajemen Kolektif Musik Tradisi Nusantara. Menurutnya, lembaga semacam itu sudah ada sejak lama. Namun, tidak fokus pada musik tradisi.

“Jika Lembaga KTN sudah jalan, maka musisi tradisi dapat berkarya dengan nyaman, karena royaltinya dibayarkan,” ujarnya.

Hal senada dikemukakan Mohammad Amin. Ia juga menyambut baik hasil rekomendasi Kongres Musik Tradisi Nusantara ini. Rekomendasi tersebut harus dijawab oleh semua unsur di pemerintahan.

“Sinergitas pentahelix dalam pemajuan musik tradisi akan memberi kesejahteraan terhadap penciptanya. Diharapkan, keberadaan LMK musik tradisi akan bisa seperti LMK di industri musik,” ujar Mohammad Amin. (Tri Wahyuni)