Koperasi Kultura Sulap Jeruk Asam Kalamansi jadi Oleh-oleh Khas Bengkulu

0
Deputi Bidang Pengawasan Kemenkop dan UKM, Suparno, saat meninjau rumah produksi Koperasi Kultura Kalamansi, di Bengkulu, Selasa (17/7). (SuaraKarya.co.id/Sugandi)

BENGKULU (Suara Karya): Koperasi Kultura Kalamansi Kota Bengkulu, sebuah koperasi produksi yang mengembangkan jeruk kalamansi (citrus microcarpa) menjadi sebuah produk ciri khas daerah tersebut.

Hingga saat ini koperasi tersebut terus mengembangkan produk utama berbentuk sirup. Sirup Kalamansi, bahkan saat ini sudah menjadi salah satu produk yang dijadikan oleh-oleh khas Kota Bengkulu.

Meski demikian, Ketua Koperasi Kultura Kalamansi Kota Bengkulu, Djaelani berharap agar pemerintah terus melakukan pembinaan terhadap koperasi itu, terutama dalam pengawasan kualitas produk dan tambahan modal serta pemasaran.

“Optimalisasi budi daya jeruk kalamansi sangat mendesak, karena produk sirupnya sudah mulai dikenal masyarakat luas. Bahkan masyarakat luar yang berkunjung ke Bengkulu, sudah mulai melirik sirup kalamansi dijadikan oleh-oleh khas Bengkulu,” ujar Djaelani, saat ditemui wartawan, di rumah produksi Koperasi Kultura Kalamansi, di Bengkulu, Selasa (17/7).

Dia mengatakan, Kementerian Koperasi dan UKM memiliki andil besar dalam mengembangkan budi daya jeruk kalamansi di Bengkulu. Kini, permintaan terhadap komoditas tersebut untuk bahan sirup semakin meningkat.

“Pemerintah tentu saja mendukung peranan Koperasi Kultura karena pemerintah sejak awal mendukung program Kotamadya Bengkulu yang telah menjadikan jeruk kalamansi sebagai produk unggulan,” ujar Deputi Bidang pengawasan, Suparno, saat mengunjungi rumah prosuksi pembuatan sirup kalamansi, di Koperasi Kultura Kalamansi, di Kota Bengkulu, Selasa (17/7).

Terkait dengan itu, kata Suparno, Kementerian Koperasi dan UKM telah memberikan bantuan berupa perangkat produksi atau pengolahan jeruk kalamansi menjadi komoditas sirup.

Pemerintah, melalui Kementerian Koperasi dan UKM bahkan menjadikan jeruk kalamansi masuk program optimalisasi melalui pendekatan ‘one village one product (OVOP)’.

“Sebelumnya, budi daya jeruk kalamansi ini ditangan melalui program OVOP, pemimpin kotamadya Bengkulu menyerahkan bibit kepada setiap warga yang mempunyai lahan di sekitar rumahnya. Langkah tersebut dilakukan, untuk meningkatkan populasi jeruk kalamansi,” kata Suparno.

Kelezatan sirup kalamansi yang telah dinikmati masyarakat, akhinya membuat permintaan pasar meningkat. Budi daya harus dilakukan untuk memenuhi permintaan masyrakat.

Dia akui Suparno, Pemerintah Kota Bengkulu juga mendukung budi daya yang ditandai dengan penyerahan ribuan bibit pohon kepada Koperasi Kultura Kalamansi. Sebelum program OVOP dilaksanakan di Bengkulu, harga jeruk kalamansi di pasar Rp3.000 per kg

Saat ini, nilai jualnya ikut terangkat, karena di pasar harganya naik pada setiap kilonya. Rencana bisnis yang diusung Koperasi Kultura Kalamansi, adalah melakukan pembibitan, penamaman, pengolahan, serta pemasaran.

“Kami masih mengembangkan produk turunan lain, seperti selai jeruk, hingga manisan sampai sari buah jeruk kalamansi,” Chandra Kesuma, Ketua Devisi Kalamansi, di koperasi produksi itu.

Dia mengatakan, untuk selai dan manisan sudah berhasil dibuat hanya saja produksi dalam jumlah banyak belum dilakukan.

Menurutnya, produksi dalam jumlah besar akan dilakukan jika promosi produk turunan itu sudah gencar dilakukan dan mulai diminati masyarakat.

“Untuk minuman jeruk kalamansi yang dikemas dalam botol plastik kecil, kini sudah diminati masyarakat. Bahkan pesanan minuman jeruk kalamansi, selalu meningkat pada setiap harinya.

“Sayangnya, kami belum berhasil melakukan inovasi pembuatan sari atau ekstrak. Karena memang kandungan vitamin C-nya sangat tinggi, sehingga kami masih terus melakukan uji coba,” kata Chandra.

Minuman segar jeruk ini, kata dia, sangat kaya akan mineral dan vitamin c, sehingga sangat baik digunakan untuk minuman buah bernutrisi.

Kandungan mineral dan vitamin C itu, ujarnya, sangat baik untuk mencegah penyakit pernafasan, penguat tulang dan pemacu pertumbuhan.

“Setiap anggota kelompok, ada sembilan orang, sudah memiliki lahan kebun jeruk kalamansi sendiri, dan kami berupaya menyeragamkan kualitas produk,” katanya menambahkan.

Chandra mengatakan, koperasi yang berdiri sejak 2009 tersebut, juga sudah memiliki lahan sendiri yang ditanami jeruk kalamansi.

Dengan keberadaan kebun yang menghasilkan bahan baku tersebut, diharapkan produksi sirup dan produk turunan lainnya dapat berkesinambungan.

“Kalau pun begitu, kami tentu mengharapkan pemerintah terus melakukan pembinaan terhadap koperasi, terutama dalam pengawasan kualitas produk dan tambahan modal serta pemasaran,” katanya.

Sebagaimana diketahui, jeruk kalamansi, adalah jenis buah jeruk yang berkembang pesat di Bengkulu, berbau harum, dan memiliki rasa yang asam ketika sudah masak, dan pahit ketika masih mentah.

Jeruk kalamansi memiliki dua jenis yang biasanya dibedakan dari warna kulitnya, yaitu jenis yang disebut dalam nama ilmiah (Bahasa latin) Citrofortunella microcarpa berwarna kuning kehijauan atau seperti gradasi, terdapat bagian yang kuning dan pada beberapa tempat terdapat warna hijau, dan yang kedua, yang disebut Citrofortunella mitis biasanya memiliki warna kuning mencolok.

Jeruk ini sesungguhnya telah ada di seluruh Asia Tenggara, terutama di Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Filipina. (Gan)