Koperasi Wadah Paling Ideal untuk Perjuangan Nasib Panulis

0
Penulis dan Advokat, Kanti W Janis. (ist)

JAKARTA (Suara Karya): Badan usaha berbentuk koperasi dapat menjadi solusi bagi para penulis yang selama ini mengalami ketidakadilan dalam mendapatkan haknya dari proses kreatif menulis.

Apakah dalam proses kontrak penerbitan buku, pembayaran royalti, dan pajak pendapatan. Jadi, koperasi harus menjadi pilihan utama untuk mewadahi semua proses kreatif dan hasil ikutannya. Semua ini demi keadilan dan kesejahteraan para penulis.

Demikian benang merah dari Sarasehan Daring (Sadaring) ke-4 Satupena yang digelar lewat Zoom, Minggu (26/9). Sadaring yang dipandu jurnalis senior Farid Gaban ini menghadirkan narasumber penulis dan advokat, Kanti W Janis, penulis dan pekerja seni, Cecil Mariani, dan pakar koperasi, Suroto. Sebelum dibuka, cerpenis Kurnia Effendi membacakan puisi tentang Taman Siswa.

Kanti W Janis yang sejak 2016 sudah bergelut dengan koperasi mengatakan, dirinya bersama dengan beberapa teman sevisi, mendirikan Koperasi Penulis Bangsa Indonesia (KPBI) dengan membawahi perusahaan bernama Indonesian Writers Inc (IWI).

“Bidang usaha IWI antara lain agen naskah dan membantu penulis untuk mendapatkan haknya secara adil melalui kontrak yang jelas. Selama ini penulis tidak maju tanpa menajemen profesional, nah IWI ingin mewujudkan itu,” ujar Kanti yang punya pengalaman unik dalam keluarga terkait koperasi.

Selama ini, lanjut Kanti, rintangan utama para penulis antara lain penghargaan terhadap karya intelektual belum menjadi kewajaran dalam masyarakat. Begitu juga pembajakan buku masih merajalela dan ini sangat merugikan penulis. “Posisi penulis terhadap penerbit juga sangat lemah,”katanya.

Karena itulah, dengan adanya KPBI ini lanjutnya, bukan hanya sekadar mencari keuntungan semata, tetapi mencari manfaat bersama. Dengan demikian, koperasi ini hibrida antara perusahaan dan badan usaha .

Sangat Strategis

Narasumber Cecil Mariani yang dikenal sebagai pekerja seni ini mengatakan, koperasi menjadi solusi yang sangat strategis, terutama di masa krisis seperti saat pandemi Covid-19 ini. Juga untuk solusi jangka panjang bagi ketahanan ekonomi bangsa. Pasalnya selama ini ekonomi global yang mendasarkan pada ekonomi finansial tidak menjadikan manusia sebagai faktor yang sederajat. Sedangkan kegiatan ekonomi berbasis koperasi, semua anggota unya kedudukan dan hak yang sama.

“Koperasi juga dapat menjadi solusi jangka panjang yang efektif mengingat praktiknya menjadi jarring pengaman ekonomi sosial masyarakat,” kata Cecil.

Pendapat Cecil didukung mpakar koperasi Suroto yang menegaskan bahwa isu koperasi menjadi sangat strategis di tengah arus kapitalisme yang sulit dibendung. Namun, koperasi bukan hanya solusi saat krisis saja katanya, tapi bisa menjadi solusi jangka panjang bahkan permanen bagi perekonomian kita.

“Saya lihat belakangan ini, isu koperasi mulai dijadikan pebicaraan komunitas dan bahkan mengarah pada pembentukan wadah alternatif. Ini sangat positif sekali, dan sangat strategis bagi para penulis dan pekerja kreatif lainnya. Mengapa? Para penulis adalah kelompok masyarakat yang selalu menyuarakan banyak hal, dalam hal suara akan pentingnya koperasi sebagai wadah ekonomi akan semakin nyaring,” kata Suroto.

Lebih lanjut Suroto mengataan, jika semua bidang saat ini dibawa ke arah perseroan terbatas yang kapitalistik, mengapa semua itu tidak dibalik dan dikoperasikan. Itu bisa kita lakukan. Koperasi bisa menjadi solusi modular bagi ekonomi Indonesia, tidak ada alasan lain.

Suroto kemudian mengutip pernyataan tegas Bapak Koperasi Indonesia, Bung Hatta yakni koperasi kita pilih karena dapat menjadi lawan tanding dari sistem ekonomi kapitalistik . Sebab dalam sistem ekonomi koperasi, kesetaraan dijunjung tinggi. (Pramuji)