Korban Penipuan Pemalsuan Akte Tanah Minta Tersangka Kooperatif

0
(suarakarya.co.id/Istimewa)

JAKARTA (Suara Karya): Korban penipuan pemalsuan akte tanah di Cilincing, Cakung, Jakarta Timur, Abdul Halim meminta tersangka Achmad Djufri segera memenuhi panggilan penyidik Polda Metro Jaya. Hal ini dilakukan agar kasus yang terjadi semenjak 2018 ini segera bisa diselesaikan.

“Saya berharap, tersangka bisa menghadiri setiap proses yang ada, agar semunya fair, jangan nanti ada keluhan dikemudian hari,” ujar Abdul Halim.

Dia mengungkapkan, terakhir Polda Metro Jaya dibawah komando Irjen Nana Sujana ini telah menetapkan beberapa tersangka dalam kasus dugaan pemalsuan akta autentik tanah seluas 52.469 meter, di Cilincing, Cakung, Jakarta Timur. Salah satunya yakni, Achmad Jufri.

Dalam kasus tersebut, polisi sudah melakukan Gelar Perkara pada Selasa 16 Juni 2020 lalu. Namun Achmad Djufri kala itu mangkir, Kuasa Hukum Achmad Djufri menjelaskan kliennya tidak bisa hadir karena terpapar virus Corona dan harus isolasi mandiri.

Abdul Halim yang menjadi korban dalam kasus pemalsuan akta tanah ini akhirnya angkat bicara, dirinya mendapat kan informasi dari pengacaranya, bahwa tersangka Achmad Djufri hadir di persidangan untuk menonton sidang yang berlangsung di PTUN DKI Jakarta pada Selasa 23 Juni 2020 lalu.

Alhasil, Abdul pun mempertanyakan keberadaan Achmad Djufri yang telah menjadi tersangka Polda Metro Jaya, tetapi dapat menonton persidangan tersebut, alias dapat bergerak dengan leluasa padahal disebut-sebut sakit dan mengidap Corona.

“Ya aneh saja, dipanggil penyidik sering mangkir, malah dibilang kena Corona, tapi surat keterangan sakit tidak ada lalu kenapa tersangka bisa menonton persidangan. Ini sama saja dia tidak kooperatif dengan polisi,” katanya.

Sebagai informasi, Polda Metro Jaya menetapkan dua orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan pemalsuan akta autentik tanah, yaitu Benny Simon Tabalajun selaku pimpinan PT Salve Veritate dan rekannya, Achmad Djufri.

Kasubdit Harda Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP M Gofur mengatakan, penyelidikan kasus itu bermula dari laporan polisi yang diterima pada 2018 lalu. Laporan itu terdaftar dengan nomor laporan LP/5471/X/2018/PMJ/Ditreskrim, tanggal 10 Oktober 2018. (Pramuji)