KPPPA: Terjadi 643 Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak Selama Pandemi

0
Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak KPPPA, Lenny Rosalin. (suarakarya.co.id/ist)

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) mencatat, ada 643 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak selama pandemi corona virus disease (covid-19).

“Itu baru survei yang kami lakukan selama 2-25 April 2020. Kasus ini harus mendapat perhatian agar tidak lagi kasus serupa di masa depan,” kata Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak KPPPA, Lenny Rosalin di Jakarta, Sabtu (16/5/20).

Salam webinar bertajuk “Wajah Baru PAUD di Indonesia Pascapandemi Covid-19: Sinergi Sekolah dan Keluarga” yang digelar Program Studi Pendidikan Guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Universitas Prof Dr Hamka (Uhamka) itu, Lenny mengemukakan, grafik kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak cenderung meningkat sejak Januari 2020.

“Kekerasan itu terjadi akibat perubahan kondisi mental keluarga di masa pandemi. Orangtua banyak yang stress karena pemutusan hubungan kerja (PHK). Anak kemudian menjadi pelampiasan stress,” ucapnya.

Kondisi itu, lanjut Lenny, menjadi tantangan keluarga di masa pandemi. Dia ingin hak bahagia anak harus terpenuhi meski keluarga dalam keadaan sulit. “Dalam pengasuhan, penting bagi anak mendapat kasih sayang, kelekatan, keselamatan dan kesejahteraan yang menetap dan berkelanjutan,” katanya.

Untuk itu, Lenny meminta orangtua untuk mampu mengelola stres. Pihaknya menyediakan layanan psikologis secara gratis bagi orangtua dengan cara mengunjungi materi secara online melalui alamat bit.ly/tooltipscovid19 atau telfon di 119 ekstension 8.

Lenny membagi tips bagi orangtua saat mendampingi anak di masa pandemi covid-19. Orangtua diminta mulai menciptakan iklim positif di rumah dengan cara meluangkan waktu untuk dihabiskan bersama anak di rumah.

“Waktu yang diberikan haruslah berkualitas. Niatkan secara penuh untuk mengajar dan mendampingi secara maksimal. Dengan begitu orangtua menjadi lebih tenang daamlam mengelola stresnya saat bersama anak.

Saat bersama anak, Lenny meminta orangtua saat berkomunikasi dengan anak menggunakan kalimat-kalimat positif. Hal itu secara perlahan akan membentuk perilaku positif pada anak.

“Banyak memberi pujian dan apresiasi akan membangkitkan rasa percaya diri pada anak,” katanya.

Lenny juga meminta orangtua untuk membuat perjanjian harian dengan anak. Lakukan rutinitas harian yang fleksibel dan konsisten agar anak menghargai waktu.

“Ajal anak untuk berdiskusi dengan cara menyenangkan. Topik diskusi bisa apa saja, termasuk informasi seputar covid-19. Orangtua harus menjadi pendengar dan narasumber yang baik. Dengarkan informasi yang disampaikan dari perspektif anak. Tak perlu saling tegang, karena ini adalah latihan bagi anak untuk terbiasa mengemukakan pendapatnya,” kata Lenny. (Tri Wahyuni)